Kita seringkali menyaksikan atau terlibat dalam sebuah diskusi dan perdebatan yang sangat
memprihatinkan. Jangankan dalam pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan, dalam
kelompok masyarakat pun seringkali terjadi diskusi
yang berujung debat panjang dan tak jarang konflik. Harus diakui, memang ketika
mengacu kepada realitas
yang ada, konflik kepentingan di sekitar kita tidak mungkin dapat
dihilangkan.
Ketika kita melihat realitas yang terjadi, ternyata ada beberapa
faktor yang menyebabkan terjadinya konflik kepentingan. Faktor yang paling
mempengaruhi adalah faktor perbedaan kepentingan itu sendiri. Karena setiap
individu atau setiap kelompok mempunyai kepentingannya sendiri yang berbeda
dengan individu atau kelompok lainnya, maka di wilayah perebutan kepentingan
itulah kita sering temukan terjadinya konflik.
Selain itu ternyata ada satu faktor penyebab terjadinya konflik
yang tidak kalah pentingnya, yakni kesalahan dalam dialektika. Artinya para pihak kerap melakukan atau
mengeluarkan pemikiran-pemikiran yang tidak sesuai dengan alur pemikiran yang
benar, atau dengan kata lain para
pihak ini kerap kali melakukan kesalahan penalaran (Fallacy Logical atau Sesat-Pikir) dalam berpendapat/beradu argumen sehingga menimbulkan kesalahan
dalam pemaknaannya. Dan ketika timbul kesalahan pemaknaan, maka akan timbul
kesalahpahaman dan pada akhirnya akan timbul konflik yang dapat bersifat disintegratif.
Sesat-Pikir, terutama dalam dunia politik dan pemerintahan, akan sangat efektif digunakan
dalam provokasi, menggiring opini publik, debat perencanaan Program/Kegiatan, pembunuhan karakter, hingga kepentingan untuk menghindari jerat hukum. Memang,
dengan memanfaatkan Sesat-Pikir Logis sebagai Silat Lidah kita dapat saja memenangkan suatu diskusi, namun sesungguhnya
hal itu justru menjauhkan kita dari esensi permasalahan.
Pengetahuan tentang prinsip-prinsip logis yang seringkali tidak memadai dari masyarakat awam
seringkali dimanfaatkan untuk mencapai tujuan. Bahkan
seringkali dipaksakan prinsip-prinsip penalaran tersebut dipakai untuk menarik kesimpulan yang
tidak relevan atau menggunakan kata-kata yang memiliki makna ganda. Dan inilah yang seringkali menyebabkan
kesalahpahaman dan yang kemudian akan menimbulkan konflik. Oleh karena itu
sebelum mengeluarkan pendapat, perlu dipahami adanya kemungkinan Sesat-Pikir yang sering terjadi.
Sesat-Pikir adalah proses penalaran atau
argumentasi yang sebenarnya tidak logis,
salah arah dan menyesatkan.
Suatu gejala berpikir yang salah, yang disebabkan oleh pemaksaan
prinsip-prinsip logika tanpa memperhatikan relevansinya.
Walaupun proses berpikir semacam ini menyesatkan, tetapi hal ini
sering dilakukan. Atau dalam pengertian
lain Logical Fallacy atau Sesat-Pikir Logis adalah suatu komponen dalam argumen,
muncul dalam statement,
dan di-klaim untuk mengacaukan logika. Sesat-Pikir Logis akan menghasilkan kesimpulan yang menyesatkan
karena klaim argumennya tidak disusun dengan logika yang benar.
Seringkali Sesat-Pikir Logis
dilakukan oleh para pihak yang
kurang memahami tentang penalaran logis, orang yang tidak bisa menempatkan
dirinya pada posisi orang lain, hingga orang-orang yang berpendapat bahwa
ketika pendapatnya diserang
maka egonya yang diserang. Golongan yang pertama
ini disebut Paralogisme, yaitu Pelaku Sesat-Pikir Logis yang tidak menyadari Sesat-Pikir yang dilakukannya.
Namun ada juga Sesat-Pikir Logis yang disamarkan menjadi Silat Lidah, yang dilakukan oleh para pihak yang berniat memperdaya, golongan kedua ini disebut dengan Sofisme.
Ada banyak jenis kekeliruan yang dilakukan dalam melakukan
penalaran atau dalam berargumen. Setiap kekeliruan dalam menalar itu tentu berakibat pada menyampaikan argumen
yang salah. Paling tidak, ada dua
macam argumen yang salah yakni sebagai berikut:
PERTAMA, argumen
yang sebenarnya keliru namun tetap diterima umum karena banyak orang yang
menerima argumen tersebut tetapi tidak merasa kalau mereka itu sebenarnya telah
tertipu. Sesat-Pikir
semacam ini disebut Kekeliruan
Relevansi.
Argumen-argumen semacam itu biasanya bersifat persuasif dan
dimaksudkan untuk mempengaruhi aspek kejiwaan orang lain. Argumen-argumen
semacam itu misalnya terdapat dalam pidato politik dalam kampaye, pernyataan
pejabat yang dimaksudkan untuk meredam situasi, reklame untuk menawarkan
barang-barang produksi.
KEDUA, argumen
yang keliru karena kesalahan dalam penalaran yang disebabkan oleh kecerobohan
dan kurang-perhatian orang terhadap pokok persoalan yang
terkait, atau keliru dalam menggunakan term dan proposisi yang memiliki
ambiguitas makna bahasa yang dipergunakan dalam berargumen. Sesat-Pikir semacam ini disebut Penalaran yang ambigu atau Ambiguitas Penalaran. Misalnya, term “salah prosedur”
yang sering diucapkan oleh pejabat untuk berdalih ketika mendapatkan kritik
dari masyarakat. Term tersebut memiliki lebih dari satu makna, yaitu dapat diartikan sebagai salah
interpretasi terhadap suatu perintah/instruksi, menggunakan metode atau langkah
yang berbeda dan tidak dimaksudkan dalam petunjuk pelaksanaan sebuah proses
kegiatan, atau pengambilan putusan yang tidak sesuai dengan peraturan yang
berlaku.
Ada beberapa Logical Fallacy atau Sesat-Pikir Logis yang sering
ditemukan dalam kampanye, debat, maupun diskusi diantaranya adalah:
- ARGUMENTUM
AD HOMINEM
Argumentum ad Hominem adalah bentuk argumen yang tidak ditujukan untuk menangkal argumen yang disampaikan oleh orang lain tetapi justru menyerang pribadi si pemberi argumen itu sendiri. Argumen itu ditujukan menyerang pribadi lawan demi merusak argumen lawan. Istilah populernya adalah: shoot the messenger, not the message.
Ada banyak bentuk Ad Hominem, namun
yang paling umum adalah Ad Hominem Cercaan.
Ad Hominem termasuk salah satu Sesat-Pikir yang
paling sering dijumpai dalam debat dan diskusi, yang biasanya akan membawa
topik ke dalam debat kusir yang tak ada ujung pangkal.
Sesungguhnya,
Ad Hominem tidak sama dengan penghinaan,
celaan, atau cercaan. Sejatinya, Ad Hominem ada dalam premis dan pengambilan
kesimpulan berupa logika yang langsung mengarahkan argumennya untuk menyerang seseorang di balik suatu
argumen. Dan tendensinya bisa saja bukan merupakan penghinaan, namun hanya
mengkaitkan dua hal yang tidak berhubungan sama sekali. Sederhananya, bisa
dikatakan Ad Hominem jika itu berupa
premis dan kesimpulan, untuk menjatuhkan argumen lawan dengan cara menyerang langsung kepada pribadi
bersangkutan.
Contoh:
“Bapak Anggota Dewan yang terhormat, Anda ini kan Ketua Komisi yang
membidangi fungsi pengawasan terhadap proyek bermasalah yang sementara kita bicarakan ini. Dan Saudara masih tidak malu menyampaikan
pendapatnya di sini?!”.
(Ini sebenarnya adalah cara yang
berbelit-belit untuk mengatakan "no
comment", namun juga sekaligus menyerang lawan
diskusi).
- RED
HERRING
Red Herring adalah argumen yang tak ada sangkut-pautnya dengan argumen lawan, dan digunakan untuk mendistraksi atau mengalihkan perhatian orang dari perkara yang sedang dibahas serta menggiring menuju kesimpulan yang berbeda. Sesat-Pikir ini biasanya akan keluar jika seseorang tengah terdesak. Ia akan langsung melemparkan umpannya ke topik lain, di mana topik lain ini sukar dihindari untuk tidak dibahas. Itu karena biasanya pemilihan topik lain itu 'aromanya' cukup kuat, antara lain topik yang aktual atau isu yang cukup dengan lawan debat atau audiens.
Contoh:
Andi: Polisi harusnya menindak tegas para aktivis
lingkungan yang berdemo hingga menyebabkan macet di beberapa ruas jalan.
Badu: Anda merasa makin panas dan gerah saat macet
kan? Kita harus peduli dengan isu global warming itu. Bagaimana opini Anda?
(Ketika Andi terpancing mengemukakan opininya tentang global warming,
maka jatuhlah ia ke dalam topik baru).
- STRAW
MAN
Straw Man yaitu argumen yang membuat sebuah skenario dengan suatu imej yang menyesatkan, kemudian menyerangnya. Adalah dengan membuat Ilusi untuk menyangkal suatu proposisi dengan mensubstitusinya melalui sesuatu yang mirip namun dangkal dan mudah diserang, tanpa pernah benar-benar menyangkal argumen lawan yang sebenarnya.
Ilusi adalah sasaran yang empuk dan mudah untuk diserang. Menyerang Ilusi yang diciptakan dari manipulasi argumen lawan, akan membuat argumen diri sendiri terlihat kuat dan bagus. Pada umumnya, selain terdapat dalam kampanye, Ilusi yang diciptakan ini akan dikeluarkan setelah lawan selesai bicara mengenai perkara yang dibahas.
Contoh:
Yusak: Kita harus duduk lagi bersama masyarakat untuk
mendengarkan kembali alasan-alasan mereka, kenapa sampai mereka melakukan
penolakan terhadap proyek ini dan mencari solusi yang baik.
Marthen: Tidak! Penolakan terhadap proyek ini adalah tindakan
provokatif yang menghambat pembangunan dan melawan Pemerintah.
(kalimat 'tindakan provokatif yang menghambat pembangunan dan
melawan pemerintah' adalah ilusi
yang
diciptakan untuk menggantikan dan menyerang
'tindakan penolakan').
- GUILT
BY ASSOCIATION
Guilt by Association berciri-ciri tipe generalisasi umum--yang terlalu cepat mengambil kesimpulan--yang meyakini bahwa sifat-sifat suatu hal berasal dari sifat-sifat suatu hal lain. Sesat-Pikir ini bisa berupa Ad Hominem, biasanya dengan menghubungkan argumen dengan sesuatu hal diluar argumen itu, kemudian menyerang si pembuat argumen.
Ini adalah bentuk ekstrim dari majas Totum pro parte yang mana berupa seolah-olah pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian. Intinya adalah mencari kesalahan seseorang dari apa saja yang berkaitan dengannya, lalu jadikan hal tersebut argumen untuk menjatuhkannya.
Contoh:
Dalam persoalan Guriola, Vecky dan Yusak juga berada
di sana bersama pemilik lahan yang melakukan penolakan. Sekarang di Raemadia, Vecky dan Yusak
juga ada di sana bersama mereka yang melakukan penolakan tambak. Mereka yang
menolak tambak adalah provokator dan pembangkang serta penghambat pembangunan. Pastilah Vecky dan Yusak adalah Provokator dan penghambat pembangunan.
(lihat
bagaimana dengan mudah menggeneralisasikan seseorang berdasarkan hubungannya
dengan hal lain).
- PERFECT
SOLUTION FALLACY
Perfect Solution Fallacy adalah sesat-pikir yang terjadi ketika suatu argumen berasumsi bahwa sebuah solusi sempurna itu ada, dan sebuah solusi harus ditolak karena sebagian dari masalah yang ditangani akan tetap ada setelah solusi tersebut diterapkan.
Asumsinya, jika tidak ada solusi sempurna, tidak akan ada solusi yang bertahan lama secara politik setelah diimplementasi. Tetap saja, banyak orang tergiur oleh ide solusi sempurna, mungkin karena itu sangat mudah untuk dibayangkan.
Contoh:
Penerapan
UU Pornografi ini tidak akan berjalan dengan baik. Pemerkosaan akan tetap
terjadi.
(argumen
yang tidak memperhatikan penurunan tingkat kriminalitas asusila)
- Argumentum
ad Verecundiam
Argumentum ad Verecundiam terjadi ketika mengacu pada seseorang yang dianggap positif sebagai pakar atau ahli sehingga apa yang diucapkannya adalah sebuah kebenaran. Otoritas kepakaran seseorang yang mengucapkan suatu hal tersebut kemudian otomatis diakui sebagai sesuatu yang pasti benar, meskipun otoritas itu tidak relevan.
Contoh:
Banyak
ahli mengakui kapitalisme itu telah runtuh dan banyak boroknya. Jadi mana yang
sebaiknya saya percaya, para ahli terkemuka itu atau Anda yang kuliah saja
belum lulus?
(tembakan
plus ad hominem, dan ya, bisa juga menambahkan sederet nama orang terkenal
dalam argumennya)
- Poisoning
the Well
Poisoning the Well adalah sesat-pikir yang mencegah argumen atau balasan dari lawan dengan cara membuat lawan dianggap tercela dengan berbagai tuduhan bahkan sebelum lawan sempat bicara. Teknik meracuni sumur ini lebih licik dari sekadar mencela lawan karena akan membuatnya menghina diri sendiri karena menyambut argumen yang telah diracuni tersebut.
Contoh:
Kami
menduga Sintong akan melakukan negative campaign untuk menjatuhkan Gerindra.
(dan apa
yang Sintong tulis tentang Prabowo dalam bukunya akan dianggap sebagai upaya
menjatuhkan Gerindra)
- Argumentum
ad Temperantiam
Argumentum ad Temperantiam adalah kesesatan yang menyatakan bahwa pandangan pertengahan adalah sesuatu yang benar tanpa peduli nilai-nilai lainnya. Serta juga menganggap jalan tengah sebagai pertanda kekuatan suatu posisi. Meskipun dapat menjadi nasihat yang bagus, namun kesesatannya disebabkan karena ia tak punya dasar yang kuat dalam argumen karena selalu berpatokan bahwa jalan tengah adalah yang benar. Penggunaannya kadang dengan membuat-buat posisi lain sebagai posisi yang ekstrim.
Contoh:
Daripada
mendukung komunisme atau mendukung kapitalisme, lebih baik ideologi Pancasila
yang merupakan jalan tengah keduanya.
(sedikitpun
tidak menjabarkan kelebihan dan kekurangan masing-masing sistem)
- Ipse-dixitism
Ipse-dixitism adalah argumen dengan dasar keyakinan yang dogmatis. Seseorang yang menggunakan Ipse-dixitism mengasumsikan secara sepihak premisnya sebagai sesuatu yang disepakati, padahal tidak demikian. Premis yang diajukan dalam argumen seolah-olah merupakan fakta mutlak dan telah disepakati bersama kebenarannya, padahal itu hanya dipegang oleh pemberi argumen, tidak bagi lawannya. Sesat-pikir ini akan berujung pada debat kusir.
Contoh:
Ideologi
liberalis dan kapitalis telah terbukti gagal dan hanya menyengsarakan rakyat,
karena itu harus diganti dengan sistem spiritual.
(ideologi
yang gagal itu belum disepakati lawan bicaranya, jadi bagaimana langsung dapat
menggulirkan solusi?)
- Proof
by Assertion
Proof by Assertion adalah kesesatan di mana suatu argumen terus-menerus diulang tanpa mengacuhkan kontradiksi terhadapnya. Kadang ini diulang hingga diskusi pun jenuh, dan pada titik ini akan dianggap sebagai fakta karena belum dikontradiksi. Sesat-pikir ini sering digunakan sebagai retorika oleh politikus, atau dalam debat sebagai usaha menggagalkan penetapan suatu undang-undang dengan pidato yang amat panjang dan tak habis-habis. Dalam bentuk yang lebih ekstrim lagi, juga bisa menjadi salah satu bentuk pencucian otak. Penggunaannya dapat diamati dari penggunaan slogan politik yang terus-menerus diulang.
Contoh:
Tapi
Bapak Menteri, seperti yang telah saya jelaskan selama dua bulan terakhir ini,
tak mungkin kita memotong anggaran biaya departemen ini. Tiap posisi dan
jabatan di dalamnya amat penting bagi efesiensi kerja dan prestasi departemen.
Lihat saja office boy yang selalu mengantarkan kopi, atau mereka yang memunguti
penjepit kertas di ruang kerja, maka blablablablablaaa...
[dan
seterusnya, berbelit-belit] (selama dua bulan cuek terhadap argumen balasan dan
terus mengulang perkara yang sama)
- Two
Wrongs Make a Right
Adalah kesesatan yang terjadi ketika diasumsikan bahwa jika sebelumnya dilakukan suatu hal yang salah, maka tindakan salah yang berikutnya akan dibenarkan. Sesat-Pikir ini biasa digunakan untuk menggagalkan argumen lawan dengan menyerang argumen tersebut yang juga dianggap salah.
Contoh:
Dedi: Soeharto merebut kekuasaan dari Bung Karno
dan akhirnya ia berkuasa dengan tangan besi.
Amir: Tapi Soekarno juga mengangkat dirinya
sebagai presiden seumur hidup!
Ø (Ya, tapi itu tentu saja bukan berarti apa
yang dilakukan Soeharto itu benar)
- Argumentum
ad Novitam
Argumentum ad Novitam muncul ketika sesuatu hal yang baru dapat dikatakan benar dan lebih baik, dengan mengasumsikan penggunaan hal yang baru berbanding lurus dengan kemajuan zaman dan sama dengan kemajuan baru yang lebih baik. Sesat-pikir ini selalu menjual kata 'baru', dengan menyerang suatu hal yang lama sebagai hal yang gagal dan harus diganti dengan yang lebih baru.
Contoh:
Mengganti
golongan tua dengan golongan muda serta wajah baru di parlemen akan membuat
negara ini lebih baik.
(tapi
masalah seperti korupsi bukan perkara tua atau muda)
- Argumentum
ad Antiquitam
Kebalikan dari Argumentum ad Novitatem, ketika sesuatu benar dan lebih baik karena merupakan sesuatu yang sudah dipercaya dan digunakan sejak lama. Argumen ini adalah favorit bagi golongan konservatif. Nilai-nilai lama pasti benar. Patriotisme, kejayaan negara, dan harga diri sejak puluhan tahun silam. Sederhananya, sesat-pikir ini adalah kebiasaan malas berpikir. Dengan selalu berpatokan bahwa cara lama telah dijalankan bertahun-tahun, maka itu dianggap sesuatu yang pasti benar.
Contoh:
Bupati incumbent telah memperjuangkan pembangunan dengan susah payah melalui
lobby-lobby anggaran ke Pusat, maka
pilihlah incumbent dalam Pilkada mendatang.
(lobby-lobby
anggaran, lalu
apa hasilnya?)
- False
Dichotomy
False Dichotomy atau False Dilemma terjadi apabila argumen hanya melibatkan dua opsi, yang seringkali berupa dua titik ekstrim dari beberapa kemungkinan, di mana masih ada cara lain namun tidak disertakan ke dalam argumen. Biasanya sesat-pikir ini menyempitkan opsi menjadi dua saja, walaupun masih ada opsi lain. Bahkan kadang-kadang menyempitkan opsi menjadi satu, sehingga seolah-olah mau tidak mau harus menyetujuinya.
Contoh:
Pembangunan tambak garam ini harus tetap dilaksanakan
walaupun langit akan runtuh, jika
tidak, kemiskinan
dan pengangguran pasti akan tetap menjadi persoalan di daerah ini.
(opsi
lainnya tidak disertakan sehingga membuat argumennya mau tidak mau harus
disetujui).
Sesat-pikir pada hakikatnya merupakan jebakan bagi proses
penalaran kita. Seperti halnya rambu-rambu lalu lintas dipasang sebagai
peringatan bagi para pemakai jalan di bagian-bagian yang rawan kecelakaan, maka
rambu-rambu sesat-pikir ditawarkan kepada kita agar kita mampu mengidentifikasi
dan menganalisis kesalahan-kesalahan tersebut sehingga mungkin kita akan selamat
dari penalaran yang keliru.
Oleh karena itu, untuk menghindari kekeliruan relevansi,
misalnya kita sendiri harus tetap bersikap kritis terhadap setiap argumen.
Dalam hal ini, penelitian terhadap peranan bahasa dan penggunaannya merupakan
hal yang sangat menolong dan penting. Realisasi keluwesan dan keanekaragaman
penggunaan bahasa dapat kita manfaatkan untuk memperoleh kesimpulan yang benar
dari sebuah argumen.
Sesat-pikir karena ambiguitas kata atau kalimat terjadi secara
“halus”. Banyak kata yang menyebabkan kita mudah tergelincir karena banyak kata
yang memiliki rasa dan makna yang berbeda-beda. Untuk menghindari terjadinya
sesat-pikir tersebut, kita harus dapat mengupayakan agar setiap kata atau
kalimat memiliki makna yang tegas dan jelas. Untuk itu kita harus dapat
mendefinisikan setiap kata atau term yang kita pergunakan.