Translate

Minggu, 30 November 2014

BANGSA SINGA ATAU KELINCI?


Kalau dua orang bertemu, dalam waktu sepersekian detik dapat segera diketahui, siapa SINGA dan siapa KELINCI.
Singa menghadapi dengan langsung menatap mata, sedang Kelinci langsung menunduk menatap kaki singa.

Dalam bidang Politik, Pemerintah bisa memperbesar jumlah "Kelinci" atau memperbesar jumlah "Singa".

Dalam sejarah Yunani suatu masa, pernah terdapat Pemerintahan Para Kolonel. Mereka ambil alih Kekuasaan, supaya Pemerintah dapat kesempatan me-realisir Program Kemakmuran. 

Aksi ekstraparlementer dilarang, semua orang harus berbaris seperti di barak. Dan kadang-kadang seorang Kolonel memberi petunjuk, nasehat atau perintah. Dan yang tidak menurut diperiksa; mungkin untuk seumur hidup.

Jaman itu, nomor satu adalah Pemerintahan yang berdasarkan kekuatan, dan sebagai hamba ialah rakyat. 

Akibat dari rezim itu ialah bertambah banyaknya jumlah "Kelinci", yang hanya bisa memuji dan bertepuk tangan setiap kali seorang Menteri bersin. 

Dampak ikutannya lebih dahsyat: hilangnya kreativitas, timbul apatis, lahirnya taktik penjilat, meluasnya korupsi, dan yang menderita adalah rakyat. 

Paradoksnya, di Amerika - di mana segala hal diperbolehkan, kita melihat aturan dalam kekacauan, semangat dalam pertentangan, kreativitas dalam perbenturan, dan bentuk-bentuk baru muncul, karena dalam perbenturan ide-ide, kebenaran memang tak lagi dapat disembunyikan.

Masyarakat Amerika merupakan semacam 'Kawah Gado-Gado' yang besar. Di dalamnya mendidih bangsa-bangsa, agama-agama, aliran-aliran politik, perbedaan-perbedaan pandangan, dan di sana atas dasar Demokrasi, terjadi suatu laboratorium yang besar, di mana struktur-struktur baru diciptakan di bidang tehnik, kesenian, dan pikiran.

Memang benar, jangan terlalu memuji Amerika dalam segala hal, tetapi bahwa di sana toleransi dalam membiarkan lebih banyak populasi Singa daripada Kelinci, terbukti melahirkan kreativitas dan lebih banyak kemajuan dari negara manapun adalah fakta yang tak dapat disangkal.

KONSENSUS

Ada eksperimen yang lucu. Seorang laki-laki yang "suci", menutup mata untuk gambar yang cabul ketika berada di depan banyak orang. Padahal saat 'indehoy' dengan pasangannya dalam kamar yang tertutup, ia membuka matanya lebar-lebar.

Inilah intermedia.....


Intermedia memberi corak dan bentuk pada tingkah laku, maka jelaslah setiap orang enggan mengubah corak itu, takut kekacauan dan kekosongan.

Descartes mencari kepastian untuk hidupnya dan mulai dengan meragukan segala hal yang diketahuinya, tetapi dia tidak murtad.

Dengan membuat klausula kecil, dia menyelamatkan keyakinan Katholik yang dianggap benar, suci, dan pasti.
Orang Katholik saat itu mendengar tentang korupsi Blanco Ambrosiano dan riwayat Irlandia, tetapi mereka tutup mata, jiwa dan telinga rohaninya. Mereka hanya melihat hal bagus dan tidak melihat hal jelek.

Dogma biasanya kuat, tidak karena begitu nyata, tetapi karena memberi keamanan, corak, kenyamanan dan jalan mulus. Dan itu menjadi 'sapi keramat' (sacred cow) yang harus dihormati dan dijunjung tinggi.

Salah satu sapi keramat di negeri kita ialah 'Teori/Dogma tentang KONSENSUS'.
Sebagai karikatur dapat dikatakan bahwa: "KONSENSUS berarti, SEMUA ORANG MENGATAKAN YA, KALAU PEMERINTAH MENGHARAPKAN YA; DAN SEMUA MENGATAKAN TIDAK KALAU EKSEKUTIF MENGHARAP TIDAK."

Memang jelas bahwa dogma konsensus ialah pencapaian keadaan optimal. Tetapi 'e pluribus unum' mungkin hanya terjadi di sorga.....

Dogma tentang konsensus memang 'The Sacred Cow', dan kita menghormati sapi itu berdasarkan Konsensus di bawah naungan Pancasila dan semua keyakinan dihormati dan dijunjung tinggi.....
Namun dalam kenyataannya, terlebih dalam ilmu kesehatan hewan, setiap sapi tentu boleh diperiksa oleh dokter hewan. Dan dalam Ilmu Sosiologi, memang baik meneliti kembali Dogma Konsensus itu...