Translate

Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Maret 2015

Surat Soekarno untuk Sudirman yang Menampar Pemimpin Sekarang

Mata saya mendadak tak berkedip. Setelah memajukan kursi lebih dekat ke meja, saya terdiam membaca satu persatu kalimat itu. Tulisan tangan yang indah dalam huruf latin bersambung, untaian katanya biasa saja, tak panjang tapi sungguh siapapun yang membaca pasti akan menemukan sejuta rasa di sana. Untaian kata itu seperti hidup dan bertutur sendiri. Bahkan meski ditulis lewat setengah abad yang lalu, kalimat-kalimat itu seperti berbisik tentang Indonesia yang seharusnya, tentang pemimpin yang semestinya.


Sebuah surat dari Seokarno kepada Jenderal Sudirman yang tak memiliki seragam bagus untuk peringatan 17 Agustus.
 

Fakta bahwa Ir. Soekarno dan Jenderal Sudirman adalah dua nama besar dalam sejarah dan perjalanan bangsa Indonesia sepanjang masa tak terelakkan. Tapi boleh jadi tak banyak yang tahu tentang kedekatan keduanya bagaikan sahabat. Itulah yang terekam dalam beberapa salinan surat tulisan tangan Soekarno untuk sang Jenderal pada sebuah buku di Museum Tempat Lahir Jenderal Sudirman yang berada di Purbalingga, Jawa Tengah.

Seokarno ternyata sangat sering berkirim surat pribadi kepada Jenderal Sudirman pada masa-masa awal kemerderkaan. Kedekatan keduanya terbaca dari aliran bahasa yang dituliskan Soekarno. Tak ada bahasa kaku layaknya seorang Presiden dalam surat kenegaraan. Yang ada justru percakapan sederhana, manis dan tulus.

Dalam suratnya Seokarno kerap menyapa Sudirman dengan “saudaraku”. Tapi dalam surat-surat lainnya beliau juga menyapa sang Jenderal dengan “Panglima Besar. Meskipun demikian satu kata yang tak pernah tertinggal dari surat-surat itu adalah pekik salam “Merdeka!”.

Surat Soekarno kepada Jenderal Sudirman yang sedang sakit.
 
Kedekatan keduanya kental terasa pada salah satu surat Seokarno kepada sang Jenderal ketika menderita sakit. Perhatian besar dari seorang Presiden yang mengirimkan dokter untuk memeriksa Panglima Besar memang sudah selayaknya. Tapi surat tersebut berkata lebih dari itu. Mata saya nyaris berkaca-kaca membacanya. Berikut saya salinankan isinya.

Saudaraku,
Inilah profesor Asikin jang saja persilahkan datang dari Djakarta untuk memeriksa saudara. Beliau ta’ dapat datang sebelum hari ini, berhubung dengan pekerdjaan beliau di Djakarta.
Saudara mengerti, bahwa saja amatlah mengingini saudara lekas sembuh. Apa sadja jang diperlukan, insjaAllah akan saja ichtiarkan untuk melekaskan sembuh saudara. Dan do’a saja kepada Tuhan pun senantiasa memohonkan sembuh saudara.
Harap saudara jakin tentang tentang hal itu.
Merdeka!
Saudaramu
Soekarno

Dua bapak bangsa yang bersahabat menjalin kata lewat surat. Bukan surat biasa karena surat –surat itu berkata tentang ke-Indonesia-an mereka yang luar biasa. Antara bangga, sedih dan haru ketika membaca sebuah surat Soekarno tertanggal 9/8/’49 yang fotonya saya tempatkan di atas. Apa yang membuat saya terharu sekaligus bangga tak perlu diuraikan. Tapi saya dan semua orang Indonesia yang membaca isi surat itu pasti sepakat jika keduanya adalah pahlawan yang sebenar-benarnya pahlawan Indonesia, sosok yang berjuang dan mati untuk negeri tanpa peduli apa terjadi pada dirinya. Sosok besar yang tak membutuhkan tanda dan pakaian kebesaran sekalipun. Sang Jenderal yang bahkan tak sempat mengganti pakaiannya yang sudah rusak atau lusuh hingga sang Presiden datang sebagai sahabat memberikan sehelai kain baru untuk dipakainya.
Berikut saya salin isi surat tersebut.

Saudaraku,
Hari Nasional 17 Agustus sudah mendekat. Saja kira saudara ta’  mempunjai uniform jang bagus. Maka bersama ini saya kirim bahan untuk uniform baru.
Haraplah terima sebagai tanda persaudaraan.
Merdeka!
Soekarno
9/8 ’49

Jika pakaian saja mereka tak mempedulikannya, bagaimana dengan pemimpin kita sekarang ini yang sangat bangga dengan jubah dan toga kehormatan juga rentengan medali pengakuan. Jika mereka dulu tak peduli berjuang dari atas tandu, bertaruh nyawa hijrah dari Ibu Kota ke daerah, bagaimana dengan pemimpin-pemimpin sekarang yang rela menyeberang benua demi lencana kehormatan sementara bangsa dan rakyatnya tertatih sendirian?. 

Para pemimpin, anggota DPR, politikus dan para Calon Presiden yang hari ini berziarah ke makam pahlawan dan muncul berseliweran di TV mengucapkan Selamat Hari Pahlawan sembari menguntai kalimat-kalimat manis harusnya MALU.

Terima Kasih Pak Karno, Pak Dirman. Terima kasih semua pahlawan Indonesia.

ISHAK ROHI LOBO, ORANG SABU YANG DUDUK DALAM PERUNDINGAN PEMBENTUKAN NKRI

Pada awal pembentukan negara ini nama I. R. Lobo sangat dikenal. Muncul bagai ayam jantan dari selatan, Lobo berbicara di rapat-rapat umum, di rapat KNIP (sekarang parlemen).

Pada Ensiklopedia Indonesia 1955 tertulis, Lobo lahir di Pulau Sabu, tetapi ia berjuang di Jawa Tengah pada masa revolusi, mendirikan Batalyon Paradja di Yogja sebagai wadah pemuda-pemuda NTT dalam pengabdian semasa revolusi.

Batalyon ini bagian dari Divisi Sunda Kecil pimpinan Ngurah Rai. Perwira-perwira Batalyon Paradja adalah Frans Seda, Prof. Ir. Herman Johannes, Hendrik Rade, Jermias Henuhili, Letnan Fernandez (ketiga yang terakhir dari Kompi Berani Mati yang tewas pada pertempuran di Wates. 

Lobo sempat mendirikan Kantor Doane (cikal bakal Dir. Bea Cukai RI) di Magelang. Dengan begitu dapat dikatakan dia adalah Dirjen Bea Cukai RI yang pertama. Perannya sebagai anggota KNIP adalah ikut menyusun politik luar negeri bebas aktif (baca dokumen KNIP), serta ditunjuk Presiden Soekarno untuk duduk dalam delegasi RIS pada perundingan pembentukan NKRI, setelah negara-negara federal dibubarkan (baca: Indonesia dalam Arus Sejarah jilid 6 hal. 470, dan jilid 7 hal. 21). 


Ketua delegasi RIS adalah Prof. Dr. Mr. Soepomo, dengan anggota Ishak Rohi Lobo, Mr. M. Kosasih Purwanegara, Mr. A. M. Tambunan, Teuku Moh. Hassan, B. Sahetapy Engel, dan Mr. A. W. Surjodiningrat. 


Sosok I R Lobo atau dikenal dengan nama panggilan Cak Lobo nikah dengan seorang perempuan Yahudi, terakhir menetap di Ungaran, Semarang. Ia meninggal tahun 1970-an. 

Singa podium itu kini telah tiada tanpa meninggalkan keturunan. Sama halnya dengan Martin Paradja dan Julian Hendrik, ia seakan dilupakan sejarah bahkan di kampung halamannya sendiri.


Nama-nama jalan protokol di NTT didominasi orang-orang baru yang tidak ikut revolusi, kecuali El Tari sebagai nama jalan dan lapangan terbang, serta monumen Letnan Fernandes di Larantuka. Juga nama Frans Seda diagungkan di Maumere. Tetapi baik El Tari, baik Frenandez dan Frans Seda adalah anak buah I R Lobo pada masa revolusi.

Riwu Ga, Aksi Bocah Tak Terkenal Ini Membuat Indonesia Merdeka Oleh Proklamasi Sukarno

Bung Karno / Sukarno / Soekarno

Riwu Ga, Aksi Bocah Tak Terkenal Ini Membuat Indonesia Merdeka Oleh Proklamasi Sukarno

Riwu-Ga-dan-sukarno header
-Oleh: Anton DH Nugrahanto-

Pada tahun 1934 saat Bung Karno baru saja sampai di tempat pembuangannya di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Ada seorang muda yang senang melihat kedatangan orang buangan dari Jawa. Anak berumur 14 tahun itu bernama Riwu Ga. Ia setiap pagi berjalan 3 kilometer untuk menonton orang dari Jawa yang katanya terkenal itu.

Suatu siang saat Bung Karno sedang mengerjakan potongan kayu untuk ganjel pintu, Riwu Ga datang membawa pisang dan bertanya-tanya pada Sukarno tentang caranya membuat potongan kayu.

Sukarno adalah seorang insinyur, tapi ia selalu bicara dengan bahasa yang dimengerti oleh lawan bicaranya, dan Sukarno senang dengan anak ini yang selalu banyak ingin tahu. Saat itu jam 10 pagi, Sukarno dan Riwu bicara sampai sore hari. Akhirnya Sukarno meminta Riwu membantu di rumahnya, banyak juga pemuda Flores membantu di rumah Sukarno.

Riwu Ga
Riwu Ga Di Masa Tuanya (foto:Kluget.com)

Riwu ikut maen Tonil dan membenahi baju-baju pemain Tonil sambil belajar lagu Indonesia Raya dengan caranya yang gembira. Tonil adalah suatu seni mirip sandiwara yang dipentaskan setiap sebulan sekali oleh Sukarno. Riwu juga sangat senang dan melompat-lompat sambil tertawa ketika Bung Karno melawak dan menceritakan hal-hal yang seru. Begitu akrab dan asyiknya Bung Karno, Riwu dan para pemuda Flores dikala itu, seakan beban yang sangat berat yang dipikul dipundaknya, seketika hilang, beralih suka cita dan riang gembira.

Rencana Sukarno Akan “Dibuang” Oleh Belanda Ke Australia

Tahun 1942 Jepang datang ke Indonesia, dan Bung Karno telah direncanakan akan dibawa ke Australia oleh Belanda dengan alasan untuk menyelamatkan jiwa Sukarno. Pesawat yang akan mengangkut Bung Karno pun telah disiapkan. Tapi saat di pinggir pesawat Riwu minta ikut, Bung Karno memaksa Belanda agar Riwu ikut ke Australia, tapi Belanda menolak. Bung Karno juga menolak bila Riwu tidak diajak, jadilah Bung Karno tidak diajak ke Australia. Sejarah Indonesia akan berubah total andai Riwu tidak memaksa dirinya ikut….

Sukarno “Dibuang” Ke Bengkulu

Saat Sukarno dibuang ke Bengkulu dan berjalan kaki di tengah hutan lebat, Inggit, Sukarno dan Riwu menuju Kota Padang. Di Padang mereka tinggal di kota itu beberapa bulan sebelum akhirnya Sukarno tiba kembali di Djakarta bersama Riwu yang setia mengikutinya. Riwu adalah pembantu kesayangan Sukarno dan Ibu Inggit. Saat teks Proklamasi 1945 dibacakan dan Fatmawati isteri baru Sukarno berada di samping Bung Karno ketika akan membacakan Proklamasi, mata Riwu berkaca-kaca dalam hatinya berteriak :

“Mustinya Ibu Inggit yang di sana, mustinya Ibu Inggit yang berdiri di bawah kibaran merah putih, karena Inggitlah yang tahu susah dan jerih payah Sukarno,” bisik Riwu dalam hatinya.

Beberapa jam setelah Proklamasi, Sukarno memanggil Riwu dan menyuruh untuk mengabarkan ke seantero Djakarta sudah merdeka. Riwu mencari mobil Jeep dan diajaknya seorang bernama Sarwoko yang menyetir.

Di tengah jalan Riwu berteriak “Merdeka…Merdeka…Merdeka!!!!!!!” sambil mengepalkan tangan keras-keras. Sepanjang perjalanan, orang-orang bingung sekaligus heran melihat kelakuan Riwu. Namun akhirnya paham, masyarakat akhirnya tahu kalau Sukarno sudah memerdekakan Republik ini.

Siapa diantara anda yang mengenal Riwu? Di hari tuanya, ia kembali ke desanya, hanya memacul tanah tandus di Flores.

Riwu tak seperti pejabat yang dengan mobil mewah ke Istana berikut dengan jas berharga puluhan juta Rupiah, menghormat pada bendera Indonesia Raya. Ia hanya orang tua yang rapuh dan ia tidak pernah diundang ke Istana saeumur hidupnya, karena mungkin saja bau dekil dan baju kotor tak pantas bagi Istana yang megah. Tapi tanpa Riwu, bisa jadi kita tak mengenal Indonesia seperti apa yang kita kenal sekarang. (oleh: Anton DH Nugrahanto)

Makam Riwu Ga

Riwu Ga, Pemuda NTT Yang Jasa Besarnya Terlupakan

Riwu Ga, pria asal Sabu, Nusa Tenggara Timur ini, namanya seperti dipeti-eskan bila kita membicarakan proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945.
Namanya benar-benar dilupakan dan dikuburkan dalam-dalam. Dia memang tidak  berperang secara fisik mempertahankan negara. Juga dia tidak melakukan diplomasi di luar negeri membela keberadaan negaranya dengan argumentasi tajam.
Riwu Ga juga bukan seorang menteri atau pejabat yang punya kekuasaan yuridiksi untuk berbicara dan melakukan tugasnya sebagai seorang orang penting yang sedang mempertahankan kemerdekaan negaranya.
Jauh sebelum negaranya lahir tanggal 17 Agustus 1945, Riwu Ga seperti sudah ditakdirkan untuk selalu berperan dan berhubungan dengan hari yang tidak pernah akan dilupakan oleh setiap orang Indonesia itu.

Bila Ibu Inggit Garnasih, istri Soekarno, dijuluki banyak orang sebagai sosok wanita yang mengantarkan Soekarno ke gerbang kemerdekaan 17 Agustus 1945, maka Riwu Ga -lah orang yang menjaga kunci gerbang itu agar tidak hilang, sehingga  bisa dibuka oleh Soekarno bersama patriot-patriot sejati lainnya.

Diperebutkan Oleh Inggit Dan Sukarno

Pada usia 18 tahun di tahun 1934 Riwu Ga berkenalan pertama kali oleh Soekarno di Ende, Flores, semasa menjalani pengasingannya oleh pemerintah kolonial Belanda. Sikapnya yang rendah hati dan penuh kepatuhan pada peraturan dan etika, membuat dia dipercaya Soekarno dan disayang oleh keluarga besar proklamator itu, baik oleh pihak Ibu Inggit maupun oleh Ibu Fatmawati.

Sebelum Soekarno shalat shubuh selama di Ende, Riwu Ga bangun lebih dulu dan mempersiapkan segelas air putih dicampur kapur. “Biar suara Bung Karno lebih menggelegar”, katanya.

Ketika Soekarno dipindahkan ke Bengkulu, dia diikutsertakan bahkan sampai berakhir masa pembuangan dan Indonesia merdeka, Riwu Ga tetap mengabdi kepada keluarga Soekarno.

Dia juga dijadikan harta yang diperebutkan oleh Inggit dan Soekarno ketika pasangan itu bercerai. Riwu Ga berat hati memilih ikut Soekarno, meski Inggit tetap menyayanginya.

Setelah turut mempersiapkan upacara pembacaan proklamasi, Riwu Ga diperintahkan Soekarno untuk menyebarkan berita proklamasi kemerdekaan itu ke sekeliling Jakarta. Banyak rakyat Indonesia tidak tahu bahwa negera mereka sudah merdeka, karena kemerdekaan itu ditentang banyak pihak termasuk penguasa Jepang pada kala itu.

Berita-pertama-kali-tentang-Prokalamsi-di-suratkabar Merdeka-Feb-1946
Berita pertama kali tentang Prokalamsi di surat kabar Merdeka, Feb 1946.


Riwu Ga Termasuk Orang Pertama Yang Mengetahui Indonesia Telah Merdeka

Seperti diceritakan sebelumnya, bersama adik Mr. Sartono (kelak menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Agung yang pertama), yang bernama Sarwoko yang mengemudikan mobil Jeep, Riwu Ga berteriak-teriak heroik mengumumkan kepada kumpulan rakyat sambil membawa bendera merah putih.

“Kita sudah merdeka, kita sudah merdeka!” Tindakannya sangat konyol dilakukan saat itu, karena bisa saja aparat keamanan tentara Jepang menembaknya sesuka hati.

Hasil tugas Riwu Ga itu membuat banyak rakyat Jakarta percaya bahwa Indonesia sudah merdeka. Berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, mirip berita pendaratan Christopher Columbus ke Dunia Baru, yang baru diketahui oleh rakyat Eropa berbulan-bulan kemudian.

Memang ada yang mewartakan berita kemerdekaan RI secepat mungkin melalui medium elektronik berupa radio. Namun barang kotak bersuara itu sangat langka dimiliki oleh kebanyakan orang pada masa itu, dan kalaupun ada, isi beritanya sudah dikontrol penuh oleh penguasa Jepang.

Jusuf Ronodipuro juga menyiarkan berita kemerdekaan RI secara heroik melalui stasiun radio yang dikuasai Jepang. Juga di daerah-daerah pelosok, berita Proklamasi disiarkan ulang, seperti di Sumatera oleh Mohammad Sjafe’i atau di Riau oleh Angkatan Muda Perusahaan Telefon dan Telegraf beberapa minggu setelah 17 Agustus 1945.

Riwu Ga (bersama Sarwoko) adalah orang yang pertama kali menyiarkan berita Proklamasi Kemerdekaan secara langsung kepada rakyat Indonesia. Selama tahun 1945 tidak ada berita apapun di surat kabar manapun tentang Proklamasi Kemerdekaan. Keadaan ini memang aneh tetapi bisa dimengerti mengingat keadaan masa itu yang kritis.

Meninggal Tepat Tanggal 17 Agustus 1996, Pukul 17.00 Wita

Riwu Ga memang tinggal kenangan. Dia sepenggal sejarah yang kini terhempas jauh dari hiruk pikuk kemerdekaan. Menjadi yang tak diperhitungkan bangsa, konsekuensi dari seorang Riwu Ga. Keringat dan darahnya melayani bangsa terhapus carut marut birokrasi.
 
Matahari tepat di atas ubun-ubun, ketika penulis berkunjung ke sebuah rumah di bilangan Kelurahan Naikoten I, Kota Kupang. Atapnya pendek, sehingga untuk masuk ke dalam, harus sedikit jongkok.
“Rumah ini dibangun oleh almarhum ayah saya. Dia bangun rumah ini sekembalinya dari Jakarta, tahun 1948,” ujar Yance Riwu Ga, salah seorang putra Riwu Ga, ketika ditemui di rumah mereka, di Jl. Advokat No 4 RT 15/RW 6 Kelurahan Naikoten 1, Kecamatan Kota Raja, Kupang, Selasa (14/8/2012) lalu.

“Rumah ini sederhana, walau atapnya rendah, namun tidak panas. Apalagi kalau buka pintu belakang, angin banyak yang masuk sehingga rumah ini dingin,” tuturnya lagi.

Riwu-Ga-dan-anaknya zoomed
Riwu Ga (kiri) bersama anaknya, Yance Riwu Ga (kanan).
Dia mengurai, sebagai satu dari delapan anak Riwu Ga, mereka sering diceritakan oleh ayahnya tentang kisah perjuangannya bersama Bung Karno baik itu di Ende, lokasi pengasingan Soekarno, maupun di Jakarta.

“Kami dengar banyak cerita. Mulai dari masa pembuangan, hingga kemerdekaan. Kami sangat bangga pada ayah kami. Malah, ketika hendak dibuang ke Australia, Bung Karno tidak mau jalan kalau Riwu Ga tidak dibawa.”

Sayang, di masa tuanya, garis tangan majikan dan pembantu itu berbeda. Sukarno menjadi Presiden, dan Riwu Ga justru menjadi seorang Penjaga Malam pada Kantor Dinas PU Kabupaten Ende hingga pensiun pada tahun 1974.

“Tapi kami bangga pada bapa,” ungkap Yance.

Di usia senjanya, Riwu memang menghilang dari panggung gemerlap kemerdekaan. Dia menyingkir jauh, hingga ke Naikoten, Kota Kupang, kemudian ke Nunkurus di Kabupaten Kupang tahun 1992.

Di Kupang, Riwu hanya beberapa tahun, kemudian bersama isterinya Belandina Riwu Ga-Kana pun meniti hidup sebagai petani di Nunkurus, tepat di sebuah area pertanian yang dipadati gewang dan jati, di depan Markas TNI Naibonat.

“Di sana bapa dan mama menetap selama beberapa waktu, hingga bapa sakit dan dirawat di RSU Kupang selama hampir dua minggu. Dia dirawat di ruang kelas tiga. Sakitnya sakit orang tua, bapa mengeluh ada sakit di bagian perut,” ungkap Yance polos.

Takdir berkata lain. Tepat pukul 17.00 WITA, di hari peringatan Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1996, ketika masyarakat Indonesia sedang menyanyikan lagu Indonesia Raya, dalam prosesi penurunan bendera, Riwu Ga meninggal dunia.

Takdir berkata, bahwa Riwu Ga memang harus menutup matanya ketika Merah Putih benar-benar sudah diturunkan oleh pasukan pengibar, untuk disimpan. Jenazahnya lalu dimakamkan di TPU Kapadala, Kelurahan Airnona, Kecamatan Kota Raja, Kupang pada 19 Agustus 1996.

“Saat itu hadir ribuan orang. mereka ingin datang dan mendengar langsung kisah bapa. Sebagai anak, ketika dengar cerita bapa, kami terharu dan bangga. Karena seorang buta huruf, dia berarti. Walau tidak diingat jasa-jasanya. Dia kelahiran Sabu, tapi dia sudah banyak berbuat untuk Indonesia,” ujar Yance yang adalah pengajar di SMPN 2 Kupang itu sembari menyeka bulir air mata di sudut matanya mengenang ayahandanya.

Hingga saat ini, isterinya yang sudah berusia 70 tahun lebih itu masih menempati rumah mereka di Nunkurus.

Diusulkan Menjadi Pahlawan Nasional

rumah pngasingan sukarno ende-east-nusa
Rumah Pengasingan Sukarno Di Ende, Nusa Tenggara Timur
Sejumlah pertanyaan singgah di benak. Mengapa Riwu Ga tidak mendapatkan jabatan yang tinggi, padahal dia sangat dekat dan berjuang bersama Bung Karno?

Menjadi Pengawal Pribadi selama 14 tahun, fakta membuktikan bahwa Bung Karno pun membutuhkan pikiran Riwu dalam membangun fondasi sebuah negara yang masih dalam mimpi, di Ende, sebuah kota di NTT yang jauh dari Jakarta.

Riwu kini tinggal sebuah kisah. Kisah bahwa Riwu Ga pernah melayani tokoh terbesar sepanjang sejarah Indonesia itu.
Kisah bahwa dia diajak Gadi Walu, sepupunya dari Sabu, ke Ende untuk meniti hidup, kemudian tinggal bersama keluarga Bung Karno ketika dia sedang berjualan kue pisang goreng.

Selama 69 tahun merdeka, Pemerintah kita sangat sibuk membenahi berbagai sektor, sehingga lupa memberi penghargaan pada mereka yang sudah bertaruh nyawa bagi negeri ini. Menyedihkan memang, ketika berada di tengah birokrasi yang menutup mata terhadap realita perjuangan kemerdekaan.

“Pemerintah harusnya proaktif. Ini masalahnya. Hal-hal seperti itu, Pemda harus bergerak cepat dan berbuat sesuatu bagi pejuang,” ujar Peter A. Rohi, kepada Timor Express, Rabu (15/8/2012) lalu dari Jakarta.
Pernyataan senada disampaikan Pembina Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) NTT, Irjen Pol (Purn) Y. Jacky Uly.

Mantan Kapolda NTT itu mengurai, dalam sejarah perjuangan dan di veteran, ada dua jenis pejuang.
Yakni Pejuang Kemerdekaan, dan dia mencontohkan, sosok yang masuk kategori ini seperti Riwu Ga. Walau tidak angkat senjata, namun dia berada sangat dekat, dan malah terjun dalam mengisi perjuangan kemerdekaan.
Berikutnya, adalah Pejuang Pembela Kemerdekaan, seperti pejuang yang terlibat dalam Operasi Trikora, Dwikora dan beberapa lainnya.

“Saya minta, kita jangan berpikir sempit bahwa yang namanya pejuang itu adalah hanya mereka yang mengangkat senjata. Tidak begitu,” tegasnya lagi.

Pahlawan-Pahlawan Asal Nusa Tenggara Timur

rumah pengasingan bung-karno-di-bengkulu
Rumah Pengasingan Sukarno Di Bengkulu
Penulis senior yang menemukan file yang tersembunyi mengenai Riwu Ga itu menuturkan, banyak sejarah yang justru digali oleh orang lain dibanding pemerintah, baik itu Pemkab/Kota maupun Pemprov NTT.

“Padahal banyak tokoh pejuang kemerdekaan itu berasal dari NTT. Mereka berjuang diluar atau pada level nasional, namun tak pernah diangkat oleh pemerintah kita. Pemerintah hanya mengenal mereka ketika mereka pulang ke NTT, namun sebenarnya ada banyak yang sudah dilupakan,” ungkapnya.

Dia mencontohkan, adalah Alexander Abineno, orang Amarasi yang jasanya tak pernah dilupakan karena dialah salah satu pendiri TNI Angkatan Laut.

Kisahnya menurut Peter, bermula dari Alexander merebut kapal perang musuh, kemudian kapal perang penjajah itu menjadi kapal perang pertama milik Indonesia yang disandarkan di Pelabuhan Tanjung Priok. Ada pula I.R Lobo, anggota KNIP yang menjadi Pendiri Kota Semarang dan Pendiri Direktorat Bea dan Cukai.

“Pemda NTT harus kreatif mencari data dan fakta, lalu mengusulkan tokoh-tokoh ini menjadi pahlawan. Jika dibanding dengan daerah lain, mereka mengusulkan banyak tokoh mereka, sedangkan kita tidak pernah. Sebenarnya Departemen Sosial hanya menunggu usulan kita saja, namun kita tak pernah, tidak mungkin Pemda DKI yang usulkan. Harus kita,”  Peter Riwu Rohi menambahkan.
Minimnya perhatian Pemerintah untuk mengusulkan tokoh-tokoh pejuangnya menjadi pahlawan pun disoroti tokoh yang pernah menjadi pimpinan polisi puluhan negara di dunia dalam operasi PBB di Afrika itu.

Indonesia menurutnya, juga memiliki perhatian yang tak begitu maksimal terhadap pahlawan. Dia membandingkan dengan Amerika dan Australia. Di dua negara itu, ada hari khusus yang ditetapkan untuk mengenang para veteran perang, dan semua aktivitas diliburkan.

“Karena itu, saya minta kepada Pemerintah Provinsi NTT untuk jangan menutup mata terhadap para pejuang kita. Riwu Ga dan beberapa tokoh lainnya sudah saatnya diusulkan menjadi Pahlawan Nasional. Harus segera diusulkan. Kumpulkan data dan fakta, kemudian ajukan,” pungkasnya.

Selain Riwu Ga, Abineno, I. R. Lobo, ada juga Mone Kana. Sosok inilah yang membunuh Jenderal Portugis Dominggus da Costa di Penfui (kini Lanud El Tari). Tewasnya Da Costa menjadi simbol kekalahan Portugis di Nusa Tenggara.

Masyarakat lalu memuja Mone Kana sebagai pahlawan gagah berani. Tak hanya itu, banyak orang Sabu dan Rote yang terlibat dalam Pergerakan Nasional. Sejumlah referensi menuliskan, "Pemberontakan Kapal Tujuh” (Seven Provinscien Affair, 4 Februari 1933), setahun sebelum Bung Karno dibuang ke Ende, seorang pemimpin pemberontakan itu adalah Hendrik Pa Radja (kini namanya diabadikan pada sebuah jalan di wilayah Kelurahan Namosain-Alak, yakni Jl. Pa Raja).

Dia memimpin Johanes Rihi Dima, Ande Therik, Harsoyo -orang Jawa kelahiran Kupang, untuk melawan angkatan Laut Belanda. Selain itu, ada pula sejumlah tokoh NTT yang berkiprah dalam Perjuangan Kemerdekaan di Jakarta seperti E. R. Herewila, Tom Pello, H. A. Koroh, I. H. Doko, El Tari, Tjak Malada, Cornelis Dimu Djami, A. Nisnoni, Engelbertus Daniel Johannes, Amos Pah dan beberapa nama lainnya.

Fakta-fakta ini pertama kali penulis tahu, ketika membaca sebuah feature di harian Kompas 15 tahun silam, yang memuat profil Riwu Ga dengan jelas dan mencoba mengukuhkan perannya yang kecil bak sekrup dalam sebuah mesin penggerak yang bernama Proklamasi.
Namun tanpa sekrup kecil itu, mesin besar bisa saja tak akan bergerak. Inilah yang membuat alasan penulis untuk mengingatkan kembali perannya yang memang pantas dilupakan oleh kita, Bangsa Pelupa.

(sumber: kluget.com/baltyra.com/iyaa.com).


Referensi Lainnya:
1. Kompas, “Foto Proklamasi yang tidak dapat ditemukan”, 18 Agustus 2005.
2. Kompas, “Riwu Ga, Terompet Proklamasi”, 21 Agustus 1996.
3. Pramoedya Ananta Toer, et.al, “Kronik Revolusi Indonesia Jilid I”. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, bekerjasama dengan Yayasan Adikarya IKAPI dan The Ford Foundation, 1999.

Riwu-Ga-dan-anaknya

Selasa, 11 Maret 2014

SURAT TERBUKA RATNA SARI DEWI SOEKARNO KEPADA SOEHARTO



Tuan Presiden Suharto,

Bersama ini saya ingin mengingatkan Tuan terhadap segala sesuatu yang nampaknya oleh Tuan akan dilupakan. Hal-hal yang akan dikemukakan ini saya anggap sebagai kewajiban bagi saya untuk menjelaskannya secara benar karena saya justru mengikuti peristiwa-peristiwa di In­donesia itu dari dekat.

Barangkali sementara orang akan berpendapat bahwa akan lebih baik kalau saya diam seribu bahasa seperti Sphinks (arca batu di Mesir) dalam hal ini. Akan tetapi karena saya tanggung jawab maka saya harus melakukan hal ini biar membawa resiko betapapun besarnya terhadap diri saya. Inipun karena makin lama di seluruh dunia maupun di Indonesia sendiri banyak tersebar cerita-cerita palsu yang disebarkan tentang peristiwa-peristiwa di Indonesia itu sehingga membeberkan keadaan yang sebenarnya itu merupakan kewajiban saya.

Karena itulah saya kirimkan surat terbuka ini kepada Tuan dalam kedudukan saya sebagai warga negara Indonesia. Selain itu surat terbuka yang saya kirimkan kepada tuan ini termasuk segala isinya adalah sepenuhnya tanggung jawab saya dan tidak ada sangkut pautnya dengan Soekarno, Presiden Republik Indonesia yang terdahulu.

Sebenarnya agaknya sudah terlambat untuk mempersoalkan kembali tentang para Perwira yang telah dinyatakan sebagai “kontra revolusi” atau pemberontak pemberontak terhadap Negara di mana mereka telah sama dihukum mati.

Selama ini saya selalu berpendirian tidak sependapat dengan adanya dalil bahwa ”yang berkuasa itu selalu benar” (power can do no wrong). Sikap inipun sama sewaktu Presiden Soekarno berkuasa, Saya berpendapat bahwa seorang Kepala Negara itu mesti dikerumuni oleh orang orang yang mendukungnya. Begitu juga halnya dengan Tuan bahwa di sekeliling Tuan itu banyak orang-orang berkerumun yang pada umumnya tidak berani membuka mulutnya, berpura-pura taat dan tunduk bahkan ada yang menjilat yang pada hakekatnya mereka bertujuan untuk mendapatkan kesempatan berkuasa lebih banyak Karena itulah apa yang sebenarnya terjadi di sekitar Tuan menjadi sulit akan terungkap.

Pertama-tama dalam surat terbuka saya ini, saya ingin mengemukakan apa yang disebut “proses” dimana banyak orang telah dibunuh karena dituduh melakukan kejahatan terhadap Negara. “Proses” ini yang sebenarnya terjadi di luar norma-norma Hukum dan Keadilan lebih tepat untuk disebut “teror dan kekerasan”.

Dan mereka orang-orang yang tidak puas dan tidak mau bicara sewaktu kekuasaan Soekarno maka setelah situasi berubah lalu bersikap tidak bertanggung jawab dan turut serta melakukan pembunuhan dan teror. Dalam hal ini Tuan telah membiarkannya. Andai kata nanti pada suatu ketika kedudukan Tuan diganti oleh orang lain sudah tentu akan terjadi hal yang sama dimana pembantu-pembantu Tuan yang penting, sipil maupun militer, termasuk mungkin Tuan sendiri akan mendapat perlakuan yang sama di mana mereka dituduh dan dituntut dengan hukuman mati dengan berbagai dalih misal “karena melakukan korupsi”

Dalam hubungan ini saya ingin bertanya kepada Tuan : “Mengapa Tuan membiarkan dan memberi kesempatan semua itu berlalu yang dapat menjadi contoh (preseden) jelek bagi suatu Negara yang masih muda dan rakyatnya sedang berkembang yaitu Indonesia ?”

Bukan maksud saya untuk mencela kebijaksanaan politik yang Tuan lakukan. Akan tetapi perhatian tertumpah kepada mereka yang dibunuh dan diteror dengan memakai dalih “pembersihan terhadap golongan merah” sejak peristiwa G 30 S itu terjadi. Padahal kebanyakan dari mereka itu hanyalah pengikut-pengikut Soekarno yang tidak tahu menahu tentang peristiwa G 30 S.

Bahkan saya memperoleh berita bahwa tidak kurang dari 800.000 Rakyat Indonesia yang telah terbunuh diantaranya terdapat kaum wanita dan anak-anak karena hanya sebagai simpatisan PKI.

Harian ”London Times” membuat berita pada Januari 1966 sebagai berikut “Bahkan sejak pecahnya peristiwa G 30 S itu dalam 3 bulan telah ratusan ribu kaum komunis yang dibunuh", jumlah mana menurut para diplomat Barat, angka tersebut masih terlalu rendah.

Sementara itu menurut sementara pengusaha-pengusaha dan turis-turis dari Eropa yang pulang dari Indonesia mengatakan bahwa pembunuhan dan teror itu begitu hebatnya sehingga mereka melihat sementara di sungai-sungai penuh dengan hanyutnya mayat- mayat tanpa kepala dan sementara anak-anak di desa-desa katanya bermain sepak bola dengan kepala-kepala manusia yang terbunuh. Pokoknya dalam tempo 3 bulan sesudah peristiwa G 30 S itu situasi di Indonesia dicekam dengan ketakutan dan ketegangan dimana banyak darah mengalir yang belum pernah terjadi dalam sejarah bangsa Indonesia.

Seorang wartawan dari “Washington Post” memberitakan dari Jakarta bahwa di Jawa Timur saja telah terbunuh 250.000 orang, demikian menurut sumber dari golongan Islam. Lebih lanjut “Washington Post” memberitakan bahwa puncak pembunuhan dan teror itu pada bulan November 1965. Kepala-kepala manusia telah dijadikan hiasan (decorasi) pada suatu jembatan. Di tempat lain orang melihat bahwa mayat-mayat tanpa kepala dihanyutkan di sungai-sungai di atas rakit dalam deretan yang panjang. Sungai Bengawan Solo yang indah permai ketika itu penuh dengan mayat-mayat sehingga di sementara tempat kadang-kadang airnya tidak terlihat, tertutup oleh mayat-mayat itu. Sungai-sungai itu airnya menjadi merah karena darah Rakyat. Pokoknya ketika itu Indonesia seperti neraka demikian tulis Washington Post.
Sementara itu harian Inggris “Economist” memperkirakan bahwa korban yang jatuh karena pembunuhan dan teror itu mencapai 1.000.000 orang.

Saya ingin bertanya kepada Tuan: "Mengapa pertumpahan darah itu sampai terjadi atas mereka yang belum tentu berdosa? Dan mengapa masyarakat dunia diam seribu bahasa? Padahal di pihak lain kalau seorang manusia terbunuh di sepanjang tembok Berlin saja, maka seluruh dunia Barat ramai dan geger. Tapi mengapa dunia Barat itu diam dimana 800.000 Bangsa Asia (Indonesia) telah dibunuh dan diteror dengan darah dingin, bahkan dalam situasi Dunia sedang damai??"

Saya tahu pasti bahwa diantara yang terbunuh itu ada orang Komunis. Tapi apa artinya kemerdekaan dan hak azasi manusia kalau Tuan membenarkan pembunuhan besar-besaran itu sekedar karena mereka melakukan gerakan di bawah tanah yang tidak diketahui oleh Pemerintah Tuan?

Sebenarnya Tuan akan lebih bijaksana kalau Tuan mengambil langkah-langkah pencegahan terjadinya pembunuhan besar-besaran itu sebelum PKI dinyatakan dilarang oleh Undang-Undang.

Akan tetapi Tuan ternyata tidak berbuat demikian dan hal ini dianggap sebagai pelanggaran terhadap hak-hak azasi manusia dan Tuan tidak mendapatkan respek. Lepas dari ideologi, apa yang sudah terjadi itu merupakan “kejahatan nasional”.

Tuan Suharto,

Meskipun Tuan akan menolak dengan berbagai dalih untuk bertindak dan mencegah terhadap “kejahtan nasional” yang telah berlangsung itu –di mana telah ratusan ribu orang tak berdaya telah dibantai- bagaimanapun saya juga bersikap tidak membenarkan bahkan mengutuk peristiwa itu. Bukankah telah menjadi kenyataan bahwa Pemerintah Orde Baru yang Tuan pimpin memakai slogan demi “penumpasan terhadap PKI”? Ataukah Tuan amat kuatir kalau kekuasaan Soekarno bangkit kembali beserta pendukung-pendukungnya karena Tuan tahu pasti bahwa lebih dari 50 % Rakyat Indonesia itu masih setia pada Soekano?

Hal ini pasti Tuan tidak lupa bukan? Ataukah barangkali Tuan berpendapat bahwa peristiwa G 30 S itu sudah lampau dan harus dilupakan? Bagi saya hal itu bukan soal.

Akan tetapi yang menjadi masalah: masih terlalu banyak hal-hal dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab dan bahkan sengaja disembunyikan, walaupun begitu saya masih merasa beruntung dan bangga bahwa saya dalam peristiwa 1965 itu tahu dari dekat dan mendapat pelajaran yang bermanfaat. Bahwa fakta-fakta yang benar dalam sejarah itu kadang-kadang memang diputar-balikkan oleh karena mereka yang berkuasa dengan maksud untuk kepentingan atau keuntungan tujuan politiknya. Begitu juga dengan berita-berita dalam pers (koran-koran) telah dibuat demikian rupa oleh penguasa sebagai suatu Propaganda untuk kepentingan politik Pemerintah.

Sebagai misal, yang paling mudah kita ambil contoh dari peristiwa G 30 S. Peristiwa ini sebenarnya terjadi pada tanggal l Oktober 1965 dinihari yang didukung oleh Dewan Revolusi dengan dipimpin oleh salah seorang perwira penanggung jawab pengawal istana Presiden Soekarno yaitu Letnan Kolonel Untung. Pengumuman Dewan Revolusi itu berbunyi sebagai berikut:

“Sekelompok (grup) Jenderal merencanakan untuk mengambil oper kekuasaan (coup) dari Pemerintah Presiden Soekarno dan beliau akan dibunuh. Mereka membentuk Dewan Jenderal dengan tujuan untuk membentuk kekuasaan Militer. Rencana coup tersebut akan dilakukan pada HUT ABRI tanggal 5 Oktober 1965 yang akan datang. Untuk mencegah itu maka Dewan Revolusi mendahului mengambil langkah dengan menangkap 6 Jenderal diantaranya Jenderal A Yani,

Dalam hal ini Tuan ternyata telah meyakinkan orang banyak (menfitnah) dengan melancarkan berita bahwa G 30 S itu dilakukan oleh PKI. Hal ini jelas tidak benar. Bukankah yang melakukan gerakan ini adalah orang-orang militer? Dan saya meragukan kalau mereka yang melakukan gerakan itu orang Komunis.

Saya ingin bertanya kepada Tuan: lalu siapakah yang berbuat menyebarkan isyu sehingga timbul situasi di mana masa dibakar dan digerakkan, dengan menuduh G 30 S itu didalangi oleh PKI?

Menteri Pertahanan sendiri, yaitu Jenderal Nasution sebagai salah seorang anggauta Dewan Jenderal yang menurut rencana seharusnya juga ditangkap oleh gerakan G 30 S telah berkata pada upacara penguburan 6 Jenderal yang terbunuh itu pada HUT ABRI tanggal 5 Oktober 1965 sebagai berikut:

“Sampai hari ini pun, HUT ABRI kita masih tetap penuh khidmat dan kebanggaan meskipun ditandai oleh peristiwa yang merupakan noda bagi kita ABRI. Yaitu bahwa telah terjadi suatu fitnah dan pengkhianatan serta kekejaman atas perwira-perwira tinggi kita. Walaupun begitu saudara saudara kita yang menjadi korban itu adalah tetap merupakan pahlawan-pahlawan di hati kita Bangsa Indonesia. Yang pada akhirnya nanti kebenaran pasti akan menang meskipun kita telah difitnah oleh pengkhianat-pengkhinat ini. Hal mana pada waktunya nanti kita akan memperhitungkannya.”

Dalam pidato Jenderal Nasution itu sama sekali tidak nampak ada kesan bahwa terbunuhnya 6 Jenderal itu telah didukung apalagi dilakukan oleh PKI. Bahkan sebaliknya dari kalimat-kalimat yg diucapkan oleh Jenderal Nasution itu jelas, bahwa peristiwa G 30 S itu adalah akibat pertentangan yang ada di kalangan ABRI sendiri.

Tuan Suharto – dapatkah saya bertanya kepada Tuan, siapakah yang dimaksud dengan kata-kata Nasution “fitnah dan pengkhianat pengkhianat” itu dan apakah yang dimaksud dengan kalimat “kita akan memperhitungkan mereka”.

Sebenarnya yang penting diperhitungkan dalam peristiwa itu adalah: siapa dan apa tujuan dari 50 orang “yang berseragam seperti Pengawal Presiden Soekarno” itu. Dan ketika mereka menyerbu rumah dan kediaman Jenderal Nasution dengan senjata lengkap diketahui jelas oleh beliau bahwa mereka itu (penyerbu) adalah mereka yang dikenal sebagai orang-orang yang anti Komunis. Justru karena mereka tidak kenal Jenderal itulah maka mereka menyangka Letnan Tendean sebagai Komandan Jaga dikira Jenderal Nasution dan terus menembaknya.

Dari fakta ini jelas menurut penilaian saya bahwa andaikata para penyerbu itu benar-benar pengawal Presiden Soekarno, pasti mereka akan tahu dan kenal betul pada Jenderal Nasution. Jadi tidak masuk akal pula kalau para penyerbu itu adalah orang-orang komunis yang mendapat tugas khusus, tidak kenal pada Jenderal Nasution sehingga terjadi kegagalan itu.

Apakah Tuan tahu – bahwa banyak orang di Indonesia ini telah membicarakan bahwa timbul tanda tanya yang besar yang penuh prasangka kepada Tuan.
Ialah: mengapa Tuan sebagai komandan tertinggi pada Kostrad justru malah tidak diserbu untuk dibunuh dengan dalih katanya: ”karena mereka (penyerbu) tidak tahu alamat Tuan”?
Dan yang menarik perhatian lagi – justru Tuanlah yang pada tanggal l Oktober 1965 pada dinihari sudah memainkan peranan dan ambil oper pimpinan ABRI dengan memberikan perintah-perintah sehingga dengan mudah sekali Tuan telah bisa menguasai dan menumpas Dewan Revolusi dalam waktu yang singkat.

Setelah Presiden Soekarno kehilangan Jenderal A. Yani maka beliau terus mengangkat Tuan sebagai Menteri Hankam, sekaligus sebagai Pangab ABRI. Ini terjadi pada tanggal 14 Oktober 1965 dimana Presiden Soekarno pada pengangkatan Tuan itu telah berpesan sebagai berikut:
“Adalah mendesak sekali agar keamanan dan ketertibann harus segera dipulihkan agar terciptanya keadaan, di mana emosi dari golongan kiri maupun golongan kanan dapat ditenangkan dan dikendalikan, sehingga peristiwa G 30 S itu dapat diselesaikan sambil kita mempelajari segala sesuatunya yang berkaitan dengan peristiwa tersebut. Kejadian itu tidak akan menenangkan saya sebelum segala sesuatunya jelas siapa yang bertanggung-jawab, entah dari pihak manapun, entah merah, hijau ataupun kuning”.

Dengan demikian menjadi jelas bahwa Tuan memikul tugas yang diberikan oleh Presiden Soekarno untuk menghimpun segala data sekitar peristiwa G 30 S itu dan seharusnya Tuan segera memulai dengan penyelidikan dan pengusutan yang harus dilaporkan pada Presiden Soekarno. Akan tetapi Tuan ternyata tidak mentaati perintah-perintah itu bahkan Tuan telah memberikan tafsiran sendiri dan berkata:: “Sekarang saya sudah memperoleh kepercayaan dari Presiden Soekarno. Dan saya akan terus menumpas sisa-sisa kekuatan dari peristiwa tersebut” Pernyataan Tuan jelas mempunyai arti tersendiri.

Sebenarnya Presiden Soekarno mengharapkan dan mempercayakan pada Tuan agar Tuan tetap setia dan loyal untuk melaksanakan perintah-perintahnya. Dengan tujuan selanjutnya akan diambil tindakan-tindakan hukum oleh Presiden Soekarno terhadap siapa yang bersalah tanpa pandang bulu – apakah PKI atau pihak Militer. Akan tetapi Tuan ternyata tidak memberikan laporan apa-apa pada Presiden Soekarno. 

Bahkan Tuan telah menggerakkan ABRI tanpa persetujuan Presiden bersama-sama dengan beberapa Jenderal antara lain Sarwo Edhie. Dan sejak inilah dimulai pengejaran dan pembunuhan terhadap mereka yang belum tentu bersalah yaitu kaum komunis. Yang kemudian telah terkenal luas di seluruh negeri bahwa TNI di bawah pimpinan Tuan telah melakukan penganiayaan, pembakaran, perampokan dan pembunuhan terhadap orang PKI. TNI telah melakukan teror yang berselubung di bawah pimpinan Tuan. Rakyat yang hidup tenang dihasut/dibangkitkan untuk membenci dan mengamuk dengan dalih karena adanya kejadian terbunuhnya para Jenderal tersebut. Rakyat telah dihasut untuk anti PKI yang dikaitkan dengan negeri Cina yang dituduh memberikan dukungan terhadap G 30 S tersebut. Dan rakyat telah dibikin lupa sehingga tidak percaya bahwa “Dewan Revolusi” itu ada.

Selanjutnya Presiden Soekarno dipaksakan untuk menyatakan PKI dilarang dan di luar hukum karena dianggap partai itu terlibat pada G 30 S. Selama setahun lamanya mahasiswa-mahasiswa dan kelompok-kelompok yang tidak puas diorganisasi untuk melakukan demonstrasi-demonstrasi terhadap Soekarno dengan tuntutan-tuntutan termaksud. Akan tetapi Presiden Soekarno menolak untuk membubarkan PKI sebab tidak ada data-data dan bukti-bukti yang menyakinkan yang sudah dilaporkan pada Presiden.

Yang menarik perhatian ialah, bahwa “pemimpin-pemimpin” demonstrasi tersebut yang katanya adalah “mahasiswa-mahasiswa” kenyataannya umumnya kebanyakan lebih dari 30 tahun dan bahkan pengikut-pengikutnya demonstrasi itu memakai pakaian seragam para troops (tentara payung) yang masih baru-baru. Sehingga perlu dipertanyakan apakah benar mereka itu mahasiswa-mahasiswa betul? Dan dari mana dana (keuangan) yang didapat untuk mengorganisasi demonstrasi-demonstrasi itu? Dan mengapa ternyata sekarang, bahwa mereka yang menjadi pemimpin-pemimpin” demonstrasi itu kini menempati kedudukan-kedudukan penting dalam Pemerintahan Tuan?

Semua kekacauan dan tidak tenang yang nampaknya dibikin (artificial) telah berlangsung selama satu tahun. Sementara itu telah dilancarkan Propaganda secara luas bahwa segala kesulitan dan keburukan di berbagai bidang itu ditimpakan pada PKI? Dan hal ini sampai hari inipun masih berlangsung walaupun peristiwa G 30 S itu telah 4 tahun berlalu.

Akan tetapi tentang hal ini sebenarnya dapat dimengerti sebab dalam politik yang berkuasa itu harus membuat rakyat yang tidak tahu apa-apa itu sedemikian rupa sehingga rakyat merasa tidak tenteram dan aman dengan menimpakan kesalahan dan ancaman itu pada PKI, yang kemudian diarahkan bahwa Penguasa (Pemerintah) itu adalah satu-satunya pelindung rakyat yang sebenarnya.

Kalau demikian halnya maka jelas bahwa Tuan telah mengabaikan perintah dan peringatan Presiden Soekarno pada sidang kabinet tanggal 2 Januari 1966 di Bogor yang meminta kepada Tuan agar situasi yang tidak menentu itu harus segera diakhiri dan dipulihkan sehingga rasa kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia dapat tercipta kembali. Bukan saling membunuh diantara sebangsa dan setanah air. Apabila pembunuhan besar-besaran itu berlangsung terus menerus maka perjuangan kita selama ini akan sia-sia, karena dalam hal ini Tuan ternyata telah menempuh jalan sendiri.

Saya tidak akan mengatakan bahwa G 30 S itu baik. Tapi saya tidak akan menyalahkan siapa-pun dan belum memberikan penilaian terhadap peristiwa itu.

Andaikata sebagai orang Komunis atau simpatisan, maka yang pertama-tama menjadi pertanyaan dan yang tidak masuk akal, apa perlunya dan apa keuntungannya PKI itu melibatkan diri dalam G 30 S itu. Padahal PKI itu merupakan partai yang besar? Selain itu kalau memang benar PKI itu adalah pengacau? Mengapa TNI tidak mengetahui atau mencegah bahkan yang membakar Markas CG PKI itu dibiarkan untuk selanjutnya diselidiki kalau-kalau bisa diperoleh data yang penting? Dan kalau benar PKI itu terlibat apakah tidak lebih baik kalau para pemimpinnya yang bertanggung jawab diadili di depan umum untuk diketahui oleh seluruh Rakyat Indonesia? Dan mengapa Tentara yang menangkap DN Aidit itu justru telah membunuhnya dengan diam-diam baru kemudian melapor pada Presiden Soekarno. Dan apa pula sebabnya Ketua I dan Wakil Ketua II PKI, yaitu Sdr. Nyoto dan Lukman juga diperlakukan yang sama dengan cara dibunuh dengan diam-diam dan tanpa proses hukum?

Kata orang bahwa NU itu mempunyai anggota sebanyak 6 juta. Tapi mengapa orang-orang di kalangan Partai tersebut terlalu takut kepada PKI. yang jumlah angggotanya lebih kecil hanya 3 juta orang? Memang terlalu banyak soal-soal dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa terjawab bahkan sengaja ditutup/disembunyikan.

Komunisme yang begitu Tuan takutkan itu sebenarnya akan tidak berdaya, apabila kesengsaraan dapat ditiadakan. Hakekat ideologi PKI di bawah pimpinan DN Aidit sebenarnya berdasarkan Pancasila (Soekarnoisme). Dan PKI telah memainkan peranan yang penting dalam kebangkitan dan kebangunan Bangsa Indonesia serta berjuang untuk Sosialisme Indonesia.

Juga Nasution pimpinan MPRS, telah menyalahkan PKI karena telah melakukan aksi-aksi di bidang ekonomi. Dia juga menyalahkan PKI bahwa sebab terjadinya inflasi dewasa ini karena adanya hutang pada luar negeri sebanyak $ 2.5 Milyard dan diantaranya berupa pembelian senjata-senjata seharga $ l Milyard pada Uni Soviet. Yang aneh dalam hal ini justru hutang-hutang pada Uni Soviet ini, bukankah Jenderal Nasution sendiri yang menanda-tangani kontrak-kontraknya? Bahkan dia sendiri sudah 2 kali berkunjung ke Moskow. Apakah dengan begitu ucapan Jenderal Nasution itu dapat dipertanggung-jawabkan?

Tuan Suharto,

Saya ingin mengajukan banyak data-data yang Tuan sendiri berharap akan menjadikan data-data itu sebagai bukti terlibatnya PKI. Tapi mengapa Tuan tidak membuka penyelidikan untuk menghimpun data sesungguhnya? Sudah tentu, bukan data-data yang bersifat sepihak. Saya kira seluruh Negeri dan rakyat Indonesia berhak untuk tahu dan mengerti yang sebenarnya. Sekali lagi biar seluruh rakyat tahu juga bagaimana pendapat Tuan tentang peristiwa tersebut. Hal ini penting sekali karena telah di-isukan bahwa bukan hanya PKI yang terlibat tapi juga Presiden Soekarno yang ikut dituduh merestui ”Dewan Revolusi.”

Selain itu juga dikatakan bahwa beberapa ribu orang PKI sebelum peristiwa G 30 S itu telah dipersiapkan dengan mengadakan latihan militer di daerah lapangan udara Halim. Di mana Presiden Soekarno pada tengah malam ketika peristiwa itu terjadi juga diamankan disitu. Dengan adanya berita-berita itu orang pada bertanya bagaimana hal ini bisa terjadi. Adanya suatu latihan militer yang diikuti oleh ribuan orang dapat dilakukan secara sembunyi-sembunyi? Dan apa perlunya Presiden Soekarno itu mencari perlindungan di tempat yang tidak menguntungkan baginya?

Kenyataan berita-berita lain yang saya peroleh dari lapangan udara Halim adalah bahwa: peristiwa G 30 S itu adalah cetusan dari suatu konflik dalam Angkatan Darat. Oleh karena itu mereka menggunakan dalih saat pribadi Soekarno itu dibawa kesana, karena saya sebagai istri merasa khawatir akan keselamatan suami saya. Sampai di Halim saya malah jadi bingung, karena ketika saya tanyakan pada sementara orang tenyata tak seorang pun yang tahu apa yang telah terjadi. Bahkan ketika itu, kita tidak tahu bahwa Jenderal A. Yani telah terbunuh. Pokoknya ketika itu kita tidak tahu siapa kawan dan siapa lawan. Hampir semuanya dalam kebingungan dan tidak tahu apa yang akan diperbuat. Tidak seorang pun tahu apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi berikutnya.

Dalam mengenang peristiwa G 30 S itu kembali, saya kira persoalannya akan lain andaikata Jenderal A. Yani masih hidup. Presiden Soekarno sendiri sangat sedih bagaimana sampai terjadi dia jadi korban dan bagaimana tempat tinggalnya sampai diketahui.

Selain hal di atas dengan ini saya ingin mengajukan pertanyaan yang penting kepada Tuan yang kiranya Tuan perlu perhatikan. Ialah tentang adanya ”Dewan Jenderal”, yang Tuan telah tentang keras tidak mengetahuinya. Orang hanya tahu, bahwa Jenderal A. Yani dan jenderal-jenderal lain yang terbunuh itu, hanya merekalah yang mengetahui tentang persoalan “Dewan Jenderal tersebut.

Akan tetapi 2 minggu sebelum peristiwa tersebut, Presiden Soekarno bertanya kepada Jenderal A. Yani: bagaimna sebenarnya duduk persoalan Dewan Jenderal tersebut. Yang dijawab oleh Jenderal A. Yani dengan tegas: Bapak Presiden, serahkan kepada saya saja segala hal yang bersangkutan dengan anak buah saya tersebut” (maksudnya D.D.)

Dari dialog tersebut, bagi saya timbul pertanyaan yang besar: bagaimana bisa terjadi Jenderal A. Yani itu ikut terbunuh? (jelas karena justru ada kontradiksi dalam ABRI sendiri=penyalin).
 
Jadi andai kata Tuan benar-benar obyektif, maka pasti Tuan akan yakin bahwa Soekarno itu benar-benar tidak terlibat dan tidak tahu apa-apa tentang G 30 S tersebut.

Tuan Suharto,

Dengan mengetahui tentang hal-hal di atas, maka lalu timbul pertanyaan saya: apakah kiranya jawaban Tuan bila seluruh rakyat Indonesia yang menduga bahwa dengan adanya tindakan cepat dari Tuan untuk membentuk kekuasaan “Orde Baru” dalam situasi yang kacau balau itu, bukankah justru sebenarnya Tuan lah yang mempunyai semua rencana dan melaksanakan rencana “Dewan Jenderal”.

Bukti-bukti kemudian menunjukkan bahwa dalam situasi yang kacau di Indonesia itu, Tuan telah membangun tentara yang berorientasi ke kanan, bergandengan tangan dengan sementara mahasiswa-mahasiswa (yang tidak puas), yang kemudian didorong dan bekerja sama dengan pimpinan-pimpinan partai Islam serta politisi yang kanan untuk menghancurkan PKI. Yang selanjutnya terjadilah pembunuhan dan pertumpahan darah yang terencana. Bagaimana hal ini sampai terjadi, bahwa sikap ABRI malah lebih dekat dengan Pentagon (Markas Besar Departemen Pertahanan Amerika Serikat), dimana hampir semua kegiatan militer di dunia dikendalikan dari sana? Apakah dalam situasi demikian itu orang bisa mengharapkan lain kecuali PKI itu menjadi hancur berantakan karenanya dan hubungan dengan RRC dengan sendirinya putus.

Presiden Soekarno telah berulang kali mengatakan bahwa tidak benar untuk hanya menyalahkan PKI. Beliau berkata: “Kita jangan melemparkan semua kesalahan itu kepada PKI saja. Tapi persoalannya terletak pada hal-hal lain.”

Saya sangat menghargai akan sikap Bung Karno yang begitu tegas itu meskipun beliau harus mengorbankan nasibnya sendiri. Beliau telah menolak untuk tunduk pada tekanan pihak ABRI untuk menyatakan PKI itu dilarang dan di luar hukum. Ideenya meskipun telah mengalami tekanan yang berat dari pihak ABRI. Andaikata Bung Karno itu tidak bersikap teguh sedemikian rupa, barangkali situasi dan posisi beliau tidak akan seburuk seperti sekarang, apalagi kalau beliau melakukan langkah-langkah kompromis. Tapi beliau tidak demikian dan tetap berpegang teguh pada kebenaran dan keadilan.

Adam Malik, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia pada tahun 1966 telah berbicara di depan mahasiswa-mahasiswa di Tokyo dengan penuh kebohongan dan kebodohan. Ia menerangkan bahwa Soekarno-lah yang bertanggung jawab atas terjadinya pembunuhan massal terhadap kaum komunis di Indonesia itu. Andaikata Soekarno tepat pada waktunya menentukan sikapnya terhadap PKI maka pembunuhan massal itu dapat dihindari.

Dengan pidatonya Adam Malik itu maka orang-orang yang tidak tahu tentang apa sebenarnya yang telah terjadi di Indonesia itu akan menanggapinya dengan benar. Sementara itu Bung Karno masih terus secara terbuka berbicara dan menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya tentang PKI itu. Hal ini pun telah ditafsirkan oleh sementara mereka itu, bahwa Presiden Soekarno telah merestui tindakan-tindakan lebih lanjut dari PKI yang ternyata kemudian berakibat terjadinya pembunuhan yang lebih kejam.

Seperti kata pepatah Latin ”Cui Bono” yang artinya: yang penting bukan siapa yang benar akan tetapi siapa yang memperoleh keuntungan. Bukankah kemudian ternyata terbukti, bahwa Amerika Serikat-lah yang memperoleh keuntungan dengan peristiwa G 30 S itu. Kini terbukti bahwa Jakarta telah dibanjiri oleh Investor-Investor asing (penanam modal) yaitu Amerika Serikat. Tentang inipun tidak menjadi soal andaikan dengan kegiatan-kegiatan ekonomi itu, Indonesia dan rakyatnya yang pertama-tama memperoleh keuntungan. Bung Karno sejak semula sebenarnya selalu menolak untuk dibuatkan patung untuk dirinya. Baru setelah 22 tahun kemudian beliau mengabdi kepada Revolusi Indonesia, dengan enggan beliau baru menerima untuk dituliskan autobiografi-nya (riwayat hidupnya).

Akan tetapi bagi Tuan Suharto sendiri segera setelah tidak lama memegang kekuasaan, telah dibuatkan buku riwayat hidup Tuan dengan memakai judul “The Smiling General” (Jenderal yang suka senyum). Selain itu Tuan telah mengabadikan potret Tuan pada uang kertas Republik Indonesia yang sudah tentu agar Tuan cepat dikenal. Semua itu tentunya dengan advis (pertimbangan) para pembantu yang mengelilingi Tuan.

Tetapi sebaliknya – Tuan sama sekali telah meniadakan foto-foto Bung Karno pada kedutaan-kedutaan di Luar Negeri yang mempunyai kebiasaan memancangkan foto tokoh-tokoh dari bangsa di Dunia. Dalam hal ini tidak satu gambar Presiden Soekarno nampak.

Tuan Suharto,

Tuan yang pernah mengkritik tentang kediktatoran Presiden Soekarno dan bahkan Tuan telah berjanji akan memulihkan demokrasi di Indonesia, ternyata sekarang Tuan telah berbuat melebihi apa yang diperbuat oleh bung Karno. Langkah pertama yang seharusnya Tuan lakukan untuk men-demokratisir keadaan/situasi, antara lain tentang pemilihan Presiden. Teryata tentang hal inipun oleh Tuan selalu ditunda-tunda. Selain itu Tuan telah melarang untuk mencantumkan nama Bung Karno dalam buku-buku sejarah Indonesia yang harus diterbitkan. Sementara itu Tuan telah menahan Bung Karno dengan dalih untuk melindungi keselamatannya yang hakekatnya Tuan telah mengisolir beliau dari dunia luar. Tindakan Tuan yang tidak benar dan tidak adil inilah yang menyebabkan Bung Karno itu menjadi sakit. Beliau tidak mendapat perawatan sebagaimana mestinya. Dokter-dokter yang disediakan hanya proforma saja. Malah dokter gigi yang sangat diperlukan oleh beliau Tuan tidak memberikannya. Bahkan pernah ada orang yang mengingatkan agar Bung Karno itu jangan selalu diberi obat-obat injeksi sebab ada kemungkinan obat-obat ini justru membahayakan kesehatannya.

Disamping itu saya juga berharap mudah-mudahan makanan yang dibuat dan dikirim oleh putra/putri Bung Karno itu, benar-benar akan sampai ke tangan beliau selama beliau dalam isolasi, dalam tahanan, benar-benar dalam keadaan sangat berat dalam hidupnya. Bahkan hak-hak kemanusiannya yang paling azasi pun beliau tidak memperolehnya. Satu-satunya kesempatan yang diberikan kepada beliau untuk meninggalkan tempat isolasinya ialah ketika menghadiri perkawinan salah satu putrinya. Untuk itu mobil Bung Karno dikawal dengan ketat dengan kendaraan panser dan tidak boleh didekati oleh siapapun. Ketika beliau berdiri dan mendekati putrinya yang sedang menjadi penganten guna memberikan ciuman selamat dari seorang ayah pada anaknya, inipun telah dicegah oleh Polisi Militer yang mengawalnya dan beliau didorong secara kasar sehingga terjatuh duduk di atas sofa. Selain itu wajah beliau ditutupi dan dihalang-halangi agar tidak dapat diambil fotonya.

Andaikata saya yang mendapat perlakuan demikian, mungkin pasti jiwa saya akan terpukul keras. Akan tetapi karena Bung Karno itu mempunyai jiwa yang besar dan mentalnya kuat, perlakuan demikian itu dianggapnya sebagai pengorbanan yang harus dideritanya. Saya benar-benar sangat khawatir, bahwa mungkin perlakuan alat-alat kekuasaan Tuan kepada Bung Karno itu, kalau sedang sendirian lebih kasar karena di depan umum pun alat-alat kekuasaan Tuan itu sampai berani berbuat demikian terhadap beliau. Tuan dapat saja menghancurkan jasmani Bung Karno, tetapi Tuan tak akan pernah berhasil menghancurkan semangat dan jiwanya dalam membela keadilan dan kebenaran. Jiwa dan semangat Bung Karno itu tak akan pernah mati!

Bung Karno telah berjasa membebaskan Indonesia dari penjajahan Belanda yang 350 tahun lamanya. Setelah 13 tahun di penjara dan dibuang Pemerintah Belanda dan memimpin perjuangan bersenjata untuk kemerdekaan Indonesia selama tahun 1945 sampai tahun 1949. Bung Karno itu pasti tahu apa yang harus diperbuat untuk mengisi kemerdekaan negerinya.

Tanpa kepemimpinan Bung Karno, Tuan pasti tidak akan punya kedudukan sebagai Presiden seperti sekarang ini. Bung Karno itu telah meletakkan Undang-Undang Dasar yang demokratis untuk Indonesia dan telah mendirikan “Lingua Franca”.

Dibidang seni dan budaya beliau adalah promotor. Beliau-lah orangnya yang telah meletakkan dasar untuk pembangunan Bangsa Indonesia. Apakah dengan jasa-jasanya itu, tidakkah pantas beliau mendapatkan imbalan?!.

Andaikan Bung Karno tahu bahwa akan terjadi suatu pengkhianatan yang berakibat pembunuhan antar sesama Bangsa seperti peristiwa G 30 S itu pasti beliau tidak akan menyetujuinya.

Dan saya-pun tidak akan tinggal diam apabila sampai suami saya terlibat dalam tindakan kekerasan itu. Di depan mata saya, Bung Karno itu sangat terpuji dengan sifat-sifatnya yang luhur! Saya sangat yakin bahwa kalau ada seseorang yang berbuat dengan cara sadar dan sistematis membunuh sesama manusia, maka perbuatan itu adalah yang paling keji dan tak beradab. Saya kenal pepatah Jepang yang berbunyi: “mencekek seseorang dengan kain sutra. Sehubungan dengan pepatah inilah Tuan Suharto, Tuan telah memperkenankan Bung Karno itu diperlakukan sedemikian rupa, tersiksa, baik lahir maupun batinnya.

Selama ini saya belum pernah mengeluarkan suara atau pernyataan apa-apa, karena saya sadar bahwa Tuan sedang menghadapi persoalan-persoalan yang cukup gawat. Tapi kali ini saya harus berbicara secara terbuka kepada Tuan, karena: pertama-pertama untuk menjaga keselamatan dan nama baik Presiden Soekarno.

Ketika Presiden Soekarno menyerahkan wewenangnya kepada Tuan sebagai pejabat Presiden pada tanggal 7 Märet 1967 telah diberikan 3 syarat oleh beliau kepada Tuan. Salah satu diantaranya ialah: bahwa Tuan harus menjaga keselamatan keluarga Presiden Soekarno. Ternyata Tuan tidak memperhatikan permintaan beliau itu.

Sewaktu Tuan diwawancarai oleh wartawan Jepang tentang banyaknya korupsi di Indonesia dewasa ini. Tuan telah memberikan keterangan sebagai berikut: “Tentang masalah korupsi itu saya kira selamanya akan ada. Dan soal korupsi ini sebenarnya adalah sisa-sisa dari pemerintah Soekarno dulu. Sementara ini akan tetap demikian karena memang sedemikian sejak semula”.

Kalau ucapan Tuan itu benar maka ucapan Tuan itu seakan-akan ucapan seorang yang tidak bertanggung-jawab. Sikap Tuan itu adalah licik dan tidak jantan, karena Tuan ternyata berlindung di belakang nama Soekarno tentang apa yang sekarang terjadi. Ketika Tuan berbicara demikian di depan wartawan itu, maka habislah segala rasa hormat saya pada Tuan sampai yang terakhirpun!

Memang selama masih disebut manusia, biasanya siapa yang menang akan selalu menganggap dirinya benar dan sebaliknya mereka yang kalah pasti segala sesuatunya akan ditimpakan kepadanya.

Apabila Tuan memang bersedia dan benar-benar mau menyelidiki serta memberantas korupsi sebagai seorang warga negara Indonesia, saya sepenuhnya bersedia untuk menjadi saksi dan hadir pada setiap sidang-sidang pengadilan yang dilakukan secara terbuka. Sudah tentu pelaksanaannya harus sesuai dengan norma-norma dan hukum yang berlaku dan tidak ditutup-tutup serta tidak boleh ... (…?? Sambungan kalimat tidak jelas, oleh penyebar, Enje).

Bung Karno adalah Pahlawan Revolusi Indonesia. Dengan segala kerendahan hati, ingin saya katakan bahwa beliau memang belum tentu bisa menjadi pemimpin di waktu damai. Akan tetapi saya kira andaikata Bung Karno itu sewaktu menjadi mahasiswa, sempat belajar di luar negeri, beliau pasti akan lebih banyak mengenal masalah-masalah ekonomi yang akan melengkapi kepemimpinanya. Saya katakan demikian, karena mungkin “Nasionalisasi” perusahaan–perusahaan asing di Indonesia yang telah dilakukanya itu sebagai suatu kekhilafan.

Selain itu, Bung Karno itu sebenarnya tak pernah mengalami dan berada dalam kehidupan keluarga yang stabil. (Sebagai seorang pejuang pasti tidak mungkin! Penyalin). Andaikata beliau lebih lama mengenal kehidupan rumah-tangga yang harmonis seperti halnya kebanyakan orang, mungkin beliau ini akan menjadi Presiden yang lebih baik dalam suatu pemerintahan yang terpimpin dan sosialis di negeri ini. Sayangnya tidak memungkinkan, sehingga beliau itu lebih cenderung pada sifat-sifat seorang Kaisar. Dan beliau jadi korban dari kekuasaan yang dikuasainya, sendirian secara-penuh.

Saya dapat mengatakan demikian kepada Tuan, karena saya memang menganggap dan menghomati Soekarno itu sebagai orang besar. Akan tetapi kiranya Tuan tahu, bahwa saya tidak selalu menyetujui setiap pendapatnya.

Sebagai misal terhadap Pancasila yang beliau gali dan ciptakan itu, menurut pendapat saya, adalah sepenuhnya terlalu idealistis. Meskipun idealisme itu perlu, akan tetapi dalam abad ke-21 ini tidak sepenuhnya idealisme itu dapat dilaksanakan dalam praktek.

Indonesia sebenarnya belum matang untuk dibawa pada sistem demokrasi ala barat. Oleh karena itulah maka Bung Karno memberikan konsep pemikiran: “Demokrasi Terpimpin”. Lebih-lebih, karena Rakyat Indonesia kebanyakan masih banyak yang buta huruf dan taraf pendidikan maupun kemampuan ekonominya tidak sama. Dalam hal ini saya sependapat dengan Bung Karno.

Akan tetapi di pihak lain beliau itu telah meletakkan dasar politik yang terlalu tinggi dan terlalu ideal. Karena itu dapatlah dimengerti kalau beliau mendapat kritik yang begitu keras terutama dengan cita-citanya untuk mengadakan perbaikan atas nasib seluruh rakyat Indonesia secara massal dan serentak. Beliau sebetulnya harus lebih realistis dengan ide-idenya itu. Pada saat-saat beliau mempunyai posisi yang cukup kuat sebagai penguasa tertinggi, mestinya beliau akan mendapatkan dukungan dari pembantu-pembantunya atas ide-idenya tersebut. Akan tetapi kebanyakan dari Rakyat Indonesia itu hanya mengharapkan perubahan-perubahan dalam kebutuhan hidup sehari-harinya. Rakyat hanya menginginkan pemenuhan material yang nyata, dan mereka sudah mulai jenuh dengan idealisme yang sering dipidatokan. Bung Karno itu mengemukakan bahwa dunia ini dikuasai oleh 2 blok kekuasaan adi kuasa. Dan ide beliau ingin membentuk kekuatan ke-3 sebagai imbangan. Dalam perjuangan mewujudkan cita-cita ini, Indonesia dapat mempengaruhi dan menggerakkan dunia ke-3 seperti negara-negara di Asia, Afrika dan Amerika Latin. Ini berarti bahwa Indonesia sekaligus harus bisa berdikari di segala bidang. Demikian yang dicita-citakan oleh Bung Karno.

Kalau kemerdekan penuh dapat diberikan kepada semua negeri dan bangsa-bangsa yang terjajah. Akan sikap politik Indonesia yang mengisolasi diri itu, menyebabkan Indonesia menarik diri dari keanggotaan P.B.B, dari Bank Dunia, tidak ikut dalam Olympiade di Tokyo. Hal ini terjadi dalam rangka ketegangan dan perjuangan pembebasan Irian Barat dan konfrontasi dengan Malaysia.

Bung Karno berpendapat bahwa P.B.B telah bersikap tidak adil terhadap anggota-anggotanya. Indonesia yang belum pernah mendapat pinjaman dari Bank Dunia (yang dikuasai oleh Amerika Serikat) telah menolak bantuan itu, kalau memakai syarat-syarat politik. Sebelum Olympiade Tokyo dimulai, Indonesia telah dituduh mempolitisir olah-raga seluruh bangsa-bangsa Asia-Afrika di Jakarta (Ganefo). Karenanya, Indonesia lalu ditolak untuk ikut dalam Olympiade Tokyo itu. Dalam hal ini Bung Karno menolak tuduhan tersebut kerena ternyata pertandingan-pertandingan Olympiade selama inipun juga tidak mengikut sertakan semua negeri khususnya negara-negara komunis.

Tuan Suharto,

Apabila Tuan juga mencoba memikirkan tentang hari depan Indonesia pada hari-hari yang gawat itu, Tuan pun akan pasti mempunyai pendapat-pendapat lain mengenai ide-ide Bung Karno itu, yang mempunyai akibat tantangan angin taufan. Saya sendiripun ikut prihatin dengan hati yang berdebar-debar memperhatikan bahwa diplomasi Indonesia itu makin hari makin bergeser ke kiri.

Memang tak ada orang yang sempurna! Begitu juga dengan diri Bung Karno menurut saya, apa yang dikerjakan oleh beliau itu sama sekali tidak terselip untuk keuntungan diri sendiri, tetapi sepenuhnya segala sesuatunya itu diabdikan pada Indonesia dan rakyatnya, satu-satunya yang dicintainya dan hendak diabdinya. Dalam perjalanan hidupnya, Bung Karno itu selalu berusaha untuk mencegah dan menghindari ada pertentangan dalam negeri yang bisa berakibat adanya korban-korban.

Dibanding dengan sikap Tuan dan pembantu-pembantu Tuan, ternyata jauh berbeda di mana Tuan atau pembantu-pembantu Tuan telah memerintah Indonesia dengan perampokan dan pertumpahan darah. Tuan dan pembantu-pembantu Tuan kelak akan dituntut dengan tuduhan telah melaksanakan pembunuhan yang disengaja terhadap ratusan ribu orang PKI yang tidak bersalah, dengan dalih “penumpasan PKI sampai ke akar-akarnya”

Siapa dapat percaya, bahwa Tuan percaya kepada Tuhan? Dalam hal ini, Indonesia seharusnya tidak memerlukan Presiden di mana tangannya penuh berlumuran darah.

Tuan Suharto,

Bung Karno itu saya tahu benar-benar sangat mencintai Indonesia dengan Rakyatnya. Sebagai bukti bahwa meskipun ada lawannya yang berkali-kali hendak menteror beliau, beliau pun masih mau memberikan pengampunan kalau yang bersangkutan itu mau mengakui kesalahannya. Dibanding dengan Bung Karno, maka di balik senyuman Tuan itu, Tuan mempunyai hati yang kejam. Tuan telah membiarkan ratusan ribu orang-orang PKI dibantai. Kalau saya boleh bertanya: apakah Tuan tidak mampu dan tidak berkuasa untuk mencegah dan melindungi mereka agar tidak terjadi pertumpahan darah?

Mungkin Tuan kelupaan bahwa ketika peristiwa tahun 1965 itu berlangsung, Bung Karno tidak juga Tuan suruh bunuh pula. Tuan pasti mudah amat untuk mempersalahkan dan menuduh PKI itu bersalah sehingga terjadinya tragedi tersebut. Kalau Tuan mau berbuat demikian maka pasti rakyat banyak yang menjadi pengagum dan menganut ajaran Bung Karno itu akan tetap hidup tenang. Tidak seperti sekarang, di mana mereka tidak dapat berbuat apa-apa sementara mereka tidak tahu bagaimana nasib pemimpinnya.

Semestinya Tuan tidak perlu memperlakukan Bung Karno itu sedemikian rupa, yang mungkin karena perasaan kerdil Tuan. Sebenarnya Tuan akan lebih terhormat apabila Bung Karno itu sebagai Pemimpin Besar Revolusi dapat meninggal secara wajar, bukan karena tersiksa dalam tahanan. Adalah suatu kerugian besar sekali bagi Indonesia bahwa Bung Karno itu telah mendapat perlakuan yang tidak wajar seperti itu, setelah beliau mengabdi selama hidupnya untuk Negara Indo­nesia dan bangsanya.

Pada akhir surat terbuka ini, Saya akan tutup surat ini dengan mengenang kembali akan kecintaan dan kemesraan saya terhadap Bung Karno dengan teriakan!!!

Paris, 16 April 1970
Tertanda,
 

Ratna Sari Dewi Soekarno


(Surat ini diterjemahkan bebas oleh Vrij Nederland. Sumber: kolektorsejarah.wordpress.com)