Translate

Selasa, 11 Maret 2014

SURAT TERBUKA RATNA SARI DEWI SOEKARNO KEPADA SOEHARTO



Tuan Presiden Suharto,

Bersama ini saya ingin mengingatkan Tuan terhadap segala sesuatu yang nampaknya oleh Tuan akan dilupakan. Hal-hal yang akan dikemukakan ini saya anggap sebagai kewajiban bagi saya untuk menjelaskannya secara benar karena saya justru mengikuti peristiwa-peristiwa di In­donesia itu dari dekat.

Barangkali sementara orang akan berpendapat bahwa akan lebih baik kalau saya diam seribu bahasa seperti Sphinks (arca batu di Mesir) dalam hal ini. Akan tetapi karena saya tanggung jawab maka saya harus melakukan hal ini biar membawa resiko betapapun besarnya terhadap diri saya. Inipun karena makin lama di seluruh dunia maupun di Indonesia sendiri banyak tersebar cerita-cerita palsu yang disebarkan tentang peristiwa-peristiwa di Indonesia itu sehingga membeberkan keadaan yang sebenarnya itu merupakan kewajiban saya.

Karena itulah saya kirimkan surat terbuka ini kepada Tuan dalam kedudukan saya sebagai warga negara Indonesia. Selain itu surat terbuka yang saya kirimkan kepada tuan ini termasuk segala isinya adalah sepenuhnya tanggung jawab saya dan tidak ada sangkut pautnya dengan Soekarno, Presiden Republik Indonesia yang terdahulu.

Sebenarnya agaknya sudah terlambat untuk mempersoalkan kembali tentang para Perwira yang telah dinyatakan sebagai “kontra revolusi” atau pemberontak pemberontak terhadap Negara di mana mereka telah sama dihukum mati.

Selama ini saya selalu berpendirian tidak sependapat dengan adanya dalil bahwa ”yang berkuasa itu selalu benar” (power can do no wrong). Sikap inipun sama sewaktu Presiden Soekarno berkuasa, Saya berpendapat bahwa seorang Kepala Negara itu mesti dikerumuni oleh orang orang yang mendukungnya. Begitu juga halnya dengan Tuan bahwa di sekeliling Tuan itu banyak orang-orang berkerumun yang pada umumnya tidak berani membuka mulutnya, berpura-pura taat dan tunduk bahkan ada yang menjilat yang pada hakekatnya mereka bertujuan untuk mendapatkan kesempatan berkuasa lebih banyak Karena itulah apa yang sebenarnya terjadi di sekitar Tuan menjadi sulit akan terungkap.

Pertama-tama dalam surat terbuka saya ini, saya ingin mengemukakan apa yang disebut “proses” dimana banyak orang telah dibunuh karena dituduh melakukan kejahatan terhadap Negara. “Proses” ini yang sebenarnya terjadi di luar norma-norma Hukum dan Keadilan lebih tepat untuk disebut “teror dan kekerasan”.

Dan mereka orang-orang yang tidak puas dan tidak mau bicara sewaktu kekuasaan Soekarno maka setelah situasi berubah lalu bersikap tidak bertanggung jawab dan turut serta melakukan pembunuhan dan teror. Dalam hal ini Tuan telah membiarkannya. Andai kata nanti pada suatu ketika kedudukan Tuan diganti oleh orang lain sudah tentu akan terjadi hal yang sama dimana pembantu-pembantu Tuan yang penting, sipil maupun militer, termasuk mungkin Tuan sendiri akan mendapat perlakuan yang sama di mana mereka dituduh dan dituntut dengan hukuman mati dengan berbagai dalih misal “karena melakukan korupsi”

Dalam hubungan ini saya ingin bertanya kepada Tuan : “Mengapa Tuan membiarkan dan memberi kesempatan semua itu berlalu yang dapat menjadi contoh (preseden) jelek bagi suatu Negara yang masih muda dan rakyatnya sedang berkembang yaitu Indonesia ?”

Bukan maksud saya untuk mencela kebijaksanaan politik yang Tuan lakukan. Akan tetapi perhatian tertumpah kepada mereka yang dibunuh dan diteror dengan memakai dalih “pembersihan terhadap golongan merah” sejak peristiwa G 30 S itu terjadi. Padahal kebanyakan dari mereka itu hanyalah pengikut-pengikut Soekarno yang tidak tahu menahu tentang peristiwa G 30 S.

Bahkan saya memperoleh berita bahwa tidak kurang dari 800.000 Rakyat Indonesia yang telah terbunuh diantaranya terdapat kaum wanita dan anak-anak karena hanya sebagai simpatisan PKI.

Harian ”London Times” membuat berita pada Januari 1966 sebagai berikut “Bahkan sejak pecahnya peristiwa G 30 S itu dalam 3 bulan telah ratusan ribu kaum komunis yang dibunuh", jumlah mana menurut para diplomat Barat, angka tersebut masih terlalu rendah.

Sementara itu menurut sementara pengusaha-pengusaha dan turis-turis dari Eropa yang pulang dari Indonesia mengatakan bahwa pembunuhan dan teror itu begitu hebatnya sehingga mereka melihat sementara di sungai-sungai penuh dengan hanyutnya mayat- mayat tanpa kepala dan sementara anak-anak di desa-desa katanya bermain sepak bola dengan kepala-kepala manusia yang terbunuh. Pokoknya dalam tempo 3 bulan sesudah peristiwa G 30 S itu situasi di Indonesia dicekam dengan ketakutan dan ketegangan dimana banyak darah mengalir yang belum pernah terjadi dalam sejarah bangsa Indonesia.

Seorang wartawan dari “Washington Post” memberitakan dari Jakarta bahwa di Jawa Timur saja telah terbunuh 250.000 orang, demikian menurut sumber dari golongan Islam. Lebih lanjut “Washington Post” memberitakan bahwa puncak pembunuhan dan teror itu pada bulan November 1965. Kepala-kepala manusia telah dijadikan hiasan (decorasi) pada suatu jembatan. Di tempat lain orang melihat bahwa mayat-mayat tanpa kepala dihanyutkan di sungai-sungai di atas rakit dalam deretan yang panjang. Sungai Bengawan Solo yang indah permai ketika itu penuh dengan mayat-mayat sehingga di sementara tempat kadang-kadang airnya tidak terlihat, tertutup oleh mayat-mayat itu. Sungai-sungai itu airnya menjadi merah karena darah Rakyat. Pokoknya ketika itu Indonesia seperti neraka demikian tulis Washington Post.
Sementara itu harian Inggris “Economist” memperkirakan bahwa korban yang jatuh karena pembunuhan dan teror itu mencapai 1.000.000 orang.

Saya ingin bertanya kepada Tuan: "Mengapa pertumpahan darah itu sampai terjadi atas mereka yang belum tentu berdosa? Dan mengapa masyarakat dunia diam seribu bahasa? Padahal di pihak lain kalau seorang manusia terbunuh di sepanjang tembok Berlin saja, maka seluruh dunia Barat ramai dan geger. Tapi mengapa dunia Barat itu diam dimana 800.000 Bangsa Asia (Indonesia) telah dibunuh dan diteror dengan darah dingin, bahkan dalam situasi Dunia sedang damai??"

Saya tahu pasti bahwa diantara yang terbunuh itu ada orang Komunis. Tapi apa artinya kemerdekaan dan hak azasi manusia kalau Tuan membenarkan pembunuhan besar-besaran itu sekedar karena mereka melakukan gerakan di bawah tanah yang tidak diketahui oleh Pemerintah Tuan?

Sebenarnya Tuan akan lebih bijaksana kalau Tuan mengambil langkah-langkah pencegahan terjadinya pembunuhan besar-besaran itu sebelum PKI dinyatakan dilarang oleh Undang-Undang.

Akan tetapi Tuan ternyata tidak berbuat demikian dan hal ini dianggap sebagai pelanggaran terhadap hak-hak azasi manusia dan Tuan tidak mendapatkan respek. Lepas dari ideologi, apa yang sudah terjadi itu merupakan “kejahatan nasional”.

Tuan Suharto,

Meskipun Tuan akan menolak dengan berbagai dalih untuk bertindak dan mencegah terhadap “kejahtan nasional” yang telah berlangsung itu –di mana telah ratusan ribu orang tak berdaya telah dibantai- bagaimanapun saya juga bersikap tidak membenarkan bahkan mengutuk peristiwa itu. Bukankah telah menjadi kenyataan bahwa Pemerintah Orde Baru yang Tuan pimpin memakai slogan demi “penumpasan terhadap PKI”? Ataukah Tuan amat kuatir kalau kekuasaan Soekarno bangkit kembali beserta pendukung-pendukungnya karena Tuan tahu pasti bahwa lebih dari 50 % Rakyat Indonesia itu masih setia pada Soekano?

Hal ini pasti Tuan tidak lupa bukan? Ataukah barangkali Tuan berpendapat bahwa peristiwa G 30 S itu sudah lampau dan harus dilupakan? Bagi saya hal itu bukan soal.

Akan tetapi yang menjadi masalah: masih terlalu banyak hal-hal dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab dan bahkan sengaja disembunyikan, walaupun begitu saya masih merasa beruntung dan bangga bahwa saya dalam peristiwa 1965 itu tahu dari dekat dan mendapat pelajaran yang bermanfaat. Bahwa fakta-fakta yang benar dalam sejarah itu kadang-kadang memang diputar-balikkan oleh karena mereka yang berkuasa dengan maksud untuk kepentingan atau keuntungan tujuan politiknya. Begitu juga dengan berita-berita dalam pers (koran-koran) telah dibuat demikian rupa oleh penguasa sebagai suatu Propaganda untuk kepentingan politik Pemerintah.

Sebagai misal, yang paling mudah kita ambil contoh dari peristiwa G 30 S. Peristiwa ini sebenarnya terjadi pada tanggal l Oktober 1965 dinihari yang didukung oleh Dewan Revolusi dengan dipimpin oleh salah seorang perwira penanggung jawab pengawal istana Presiden Soekarno yaitu Letnan Kolonel Untung. Pengumuman Dewan Revolusi itu berbunyi sebagai berikut:

“Sekelompok (grup) Jenderal merencanakan untuk mengambil oper kekuasaan (coup) dari Pemerintah Presiden Soekarno dan beliau akan dibunuh. Mereka membentuk Dewan Jenderal dengan tujuan untuk membentuk kekuasaan Militer. Rencana coup tersebut akan dilakukan pada HUT ABRI tanggal 5 Oktober 1965 yang akan datang. Untuk mencegah itu maka Dewan Revolusi mendahului mengambil langkah dengan menangkap 6 Jenderal diantaranya Jenderal A Yani,

Dalam hal ini Tuan ternyata telah meyakinkan orang banyak (menfitnah) dengan melancarkan berita bahwa G 30 S itu dilakukan oleh PKI. Hal ini jelas tidak benar. Bukankah yang melakukan gerakan ini adalah orang-orang militer? Dan saya meragukan kalau mereka yang melakukan gerakan itu orang Komunis.

Saya ingin bertanya kepada Tuan: lalu siapakah yang berbuat menyebarkan isyu sehingga timbul situasi di mana masa dibakar dan digerakkan, dengan menuduh G 30 S itu didalangi oleh PKI?

Menteri Pertahanan sendiri, yaitu Jenderal Nasution sebagai salah seorang anggauta Dewan Jenderal yang menurut rencana seharusnya juga ditangkap oleh gerakan G 30 S telah berkata pada upacara penguburan 6 Jenderal yang terbunuh itu pada HUT ABRI tanggal 5 Oktober 1965 sebagai berikut:

“Sampai hari ini pun, HUT ABRI kita masih tetap penuh khidmat dan kebanggaan meskipun ditandai oleh peristiwa yang merupakan noda bagi kita ABRI. Yaitu bahwa telah terjadi suatu fitnah dan pengkhianatan serta kekejaman atas perwira-perwira tinggi kita. Walaupun begitu saudara saudara kita yang menjadi korban itu adalah tetap merupakan pahlawan-pahlawan di hati kita Bangsa Indonesia. Yang pada akhirnya nanti kebenaran pasti akan menang meskipun kita telah difitnah oleh pengkhianat-pengkhinat ini. Hal mana pada waktunya nanti kita akan memperhitungkannya.”

Dalam pidato Jenderal Nasution itu sama sekali tidak nampak ada kesan bahwa terbunuhnya 6 Jenderal itu telah didukung apalagi dilakukan oleh PKI. Bahkan sebaliknya dari kalimat-kalimat yg diucapkan oleh Jenderal Nasution itu jelas, bahwa peristiwa G 30 S itu adalah akibat pertentangan yang ada di kalangan ABRI sendiri.

Tuan Suharto – dapatkah saya bertanya kepada Tuan, siapakah yang dimaksud dengan kata-kata Nasution “fitnah dan pengkhianat pengkhianat” itu dan apakah yang dimaksud dengan kalimat “kita akan memperhitungkan mereka”.

Sebenarnya yang penting diperhitungkan dalam peristiwa itu adalah: siapa dan apa tujuan dari 50 orang “yang berseragam seperti Pengawal Presiden Soekarno” itu. Dan ketika mereka menyerbu rumah dan kediaman Jenderal Nasution dengan senjata lengkap diketahui jelas oleh beliau bahwa mereka itu (penyerbu) adalah mereka yang dikenal sebagai orang-orang yang anti Komunis. Justru karena mereka tidak kenal Jenderal itulah maka mereka menyangka Letnan Tendean sebagai Komandan Jaga dikira Jenderal Nasution dan terus menembaknya.

Dari fakta ini jelas menurut penilaian saya bahwa andaikata para penyerbu itu benar-benar pengawal Presiden Soekarno, pasti mereka akan tahu dan kenal betul pada Jenderal Nasution. Jadi tidak masuk akal pula kalau para penyerbu itu adalah orang-orang komunis yang mendapat tugas khusus, tidak kenal pada Jenderal Nasution sehingga terjadi kegagalan itu.

Apakah Tuan tahu – bahwa banyak orang di Indonesia ini telah membicarakan bahwa timbul tanda tanya yang besar yang penuh prasangka kepada Tuan.
Ialah: mengapa Tuan sebagai komandan tertinggi pada Kostrad justru malah tidak diserbu untuk dibunuh dengan dalih katanya: ”karena mereka (penyerbu) tidak tahu alamat Tuan”?
Dan yang menarik perhatian lagi – justru Tuanlah yang pada tanggal l Oktober 1965 pada dinihari sudah memainkan peranan dan ambil oper pimpinan ABRI dengan memberikan perintah-perintah sehingga dengan mudah sekali Tuan telah bisa menguasai dan menumpas Dewan Revolusi dalam waktu yang singkat.

Setelah Presiden Soekarno kehilangan Jenderal A. Yani maka beliau terus mengangkat Tuan sebagai Menteri Hankam, sekaligus sebagai Pangab ABRI. Ini terjadi pada tanggal 14 Oktober 1965 dimana Presiden Soekarno pada pengangkatan Tuan itu telah berpesan sebagai berikut:
“Adalah mendesak sekali agar keamanan dan ketertibann harus segera dipulihkan agar terciptanya keadaan, di mana emosi dari golongan kiri maupun golongan kanan dapat ditenangkan dan dikendalikan, sehingga peristiwa G 30 S itu dapat diselesaikan sambil kita mempelajari segala sesuatunya yang berkaitan dengan peristiwa tersebut. Kejadian itu tidak akan menenangkan saya sebelum segala sesuatunya jelas siapa yang bertanggung-jawab, entah dari pihak manapun, entah merah, hijau ataupun kuning”.

Dengan demikian menjadi jelas bahwa Tuan memikul tugas yang diberikan oleh Presiden Soekarno untuk menghimpun segala data sekitar peristiwa G 30 S itu dan seharusnya Tuan segera memulai dengan penyelidikan dan pengusutan yang harus dilaporkan pada Presiden Soekarno. Akan tetapi Tuan ternyata tidak mentaati perintah-perintah itu bahkan Tuan telah memberikan tafsiran sendiri dan berkata:: “Sekarang saya sudah memperoleh kepercayaan dari Presiden Soekarno. Dan saya akan terus menumpas sisa-sisa kekuatan dari peristiwa tersebut” Pernyataan Tuan jelas mempunyai arti tersendiri.

Sebenarnya Presiden Soekarno mengharapkan dan mempercayakan pada Tuan agar Tuan tetap setia dan loyal untuk melaksanakan perintah-perintahnya. Dengan tujuan selanjutnya akan diambil tindakan-tindakan hukum oleh Presiden Soekarno terhadap siapa yang bersalah tanpa pandang bulu – apakah PKI atau pihak Militer. Akan tetapi Tuan ternyata tidak memberikan laporan apa-apa pada Presiden Soekarno. 

Bahkan Tuan telah menggerakkan ABRI tanpa persetujuan Presiden bersama-sama dengan beberapa Jenderal antara lain Sarwo Edhie. Dan sejak inilah dimulai pengejaran dan pembunuhan terhadap mereka yang belum tentu bersalah yaitu kaum komunis. Yang kemudian telah terkenal luas di seluruh negeri bahwa TNI di bawah pimpinan Tuan telah melakukan penganiayaan, pembakaran, perampokan dan pembunuhan terhadap orang PKI. TNI telah melakukan teror yang berselubung di bawah pimpinan Tuan. Rakyat yang hidup tenang dihasut/dibangkitkan untuk membenci dan mengamuk dengan dalih karena adanya kejadian terbunuhnya para Jenderal tersebut. Rakyat telah dihasut untuk anti PKI yang dikaitkan dengan negeri Cina yang dituduh memberikan dukungan terhadap G 30 S tersebut. Dan rakyat telah dibikin lupa sehingga tidak percaya bahwa “Dewan Revolusi” itu ada.

Selanjutnya Presiden Soekarno dipaksakan untuk menyatakan PKI dilarang dan di luar hukum karena dianggap partai itu terlibat pada G 30 S. Selama setahun lamanya mahasiswa-mahasiswa dan kelompok-kelompok yang tidak puas diorganisasi untuk melakukan demonstrasi-demonstrasi terhadap Soekarno dengan tuntutan-tuntutan termaksud. Akan tetapi Presiden Soekarno menolak untuk membubarkan PKI sebab tidak ada data-data dan bukti-bukti yang menyakinkan yang sudah dilaporkan pada Presiden.

Yang menarik perhatian ialah, bahwa “pemimpin-pemimpin” demonstrasi tersebut yang katanya adalah “mahasiswa-mahasiswa” kenyataannya umumnya kebanyakan lebih dari 30 tahun dan bahkan pengikut-pengikutnya demonstrasi itu memakai pakaian seragam para troops (tentara payung) yang masih baru-baru. Sehingga perlu dipertanyakan apakah benar mereka itu mahasiswa-mahasiswa betul? Dan dari mana dana (keuangan) yang didapat untuk mengorganisasi demonstrasi-demonstrasi itu? Dan mengapa ternyata sekarang, bahwa mereka yang menjadi pemimpin-pemimpin” demonstrasi itu kini menempati kedudukan-kedudukan penting dalam Pemerintahan Tuan?

Semua kekacauan dan tidak tenang yang nampaknya dibikin (artificial) telah berlangsung selama satu tahun. Sementara itu telah dilancarkan Propaganda secara luas bahwa segala kesulitan dan keburukan di berbagai bidang itu ditimpakan pada PKI? Dan hal ini sampai hari inipun masih berlangsung walaupun peristiwa G 30 S itu telah 4 tahun berlalu.

Akan tetapi tentang hal ini sebenarnya dapat dimengerti sebab dalam politik yang berkuasa itu harus membuat rakyat yang tidak tahu apa-apa itu sedemikian rupa sehingga rakyat merasa tidak tenteram dan aman dengan menimpakan kesalahan dan ancaman itu pada PKI, yang kemudian diarahkan bahwa Penguasa (Pemerintah) itu adalah satu-satunya pelindung rakyat yang sebenarnya.

Kalau demikian halnya maka jelas bahwa Tuan telah mengabaikan perintah dan peringatan Presiden Soekarno pada sidang kabinet tanggal 2 Januari 1966 di Bogor yang meminta kepada Tuan agar situasi yang tidak menentu itu harus segera diakhiri dan dipulihkan sehingga rasa kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia dapat tercipta kembali. Bukan saling membunuh diantara sebangsa dan setanah air. Apabila pembunuhan besar-besaran itu berlangsung terus menerus maka perjuangan kita selama ini akan sia-sia, karena dalam hal ini Tuan ternyata telah menempuh jalan sendiri.

Saya tidak akan mengatakan bahwa G 30 S itu baik. Tapi saya tidak akan menyalahkan siapa-pun dan belum memberikan penilaian terhadap peristiwa itu.

Andaikata sebagai orang Komunis atau simpatisan, maka yang pertama-tama menjadi pertanyaan dan yang tidak masuk akal, apa perlunya dan apa keuntungannya PKI itu melibatkan diri dalam G 30 S itu. Padahal PKI itu merupakan partai yang besar? Selain itu kalau memang benar PKI itu adalah pengacau? Mengapa TNI tidak mengetahui atau mencegah bahkan yang membakar Markas CG PKI itu dibiarkan untuk selanjutnya diselidiki kalau-kalau bisa diperoleh data yang penting? Dan kalau benar PKI itu terlibat apakah tidak lebih baik kalau para pemimpinnya yang bertanggung jawab diadili di depan umum untuk diketahui oleh seluruh Rakyat Indonesia? Dan mengapa Tentara yang menangkap DN Aidit itu justru telah membunuhnya dengan diam-diam baru kemudian melapor pada Presiden Soekarno. Dan apa pula sebabnya Ketua I dan Wakil Ketua II PKI, yaitu Sdr. Nyoto dan Lukman juga diperlakukan yang sama dengan cara dibunuh dengan diam-diam dan tanpa proses hukum?

Kata orang bahwa NU itu mempunyai anggota sebanyak 6 juta. Tapi mengapa orang-orang di kalangan Partai tersebut terlalu takut kepada PKI. yang jumlah angggotanya lebih kecil hanya 3 juta orang? Memang terlalu banyak soal-soal dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa terjawab bahkan sengaja ditutup/disembunyikan.

Komunisme yang begitu Tuan takutkan itu sebenarnya akan tidak berdaya, apabila kesengsaraan dapat ditiadakan. Hakekat ideologi PKI di bawah pimpinan DN Aidit sebenarnya berdasarkan Pancasila (Soekarnoisme). Dan PKI telah memainkan peranan yang penting dalam kebangkitan dan kebangunan Bangsa Indonesia serta berjuang untuk Sosialisme Indonesia.

Juga Nasution pimpinan MPRS, telah menyalahkan PKI karena telah melakukan aksi-aksi di bidang ekonomi. Dia juga menyalahkan PKI bahwa sebab terjadinya inflasi dewasa ini karena adanya hutang pada luar negeri sebanyak $ 2.5 Milyard dan diantaranya berupa pembelian senjata-senjata seharga $ l Milyard pada Uni Soviet. Yang aneh dalam hal ini justru hutang-hutang pada Uni Soviet ini, bukankah Jenderal Nasution sendiri yang menanda-tangani kontrak-kontraknya? Bahkan dia sendiri sudah 2 kali berkunjung ke Moskow. Apakah dengan begitu ucapan Jenderal Nasution itu dapat dipertanggung-jawabkan?

Tuan Suharto,

Saya ingin mengajukan banyak data-data yang Tuan sendiri berharap akan menjadikan data-data itu sebagai bukti terlibatnya PKI. Tapi mengapa Tuan tidak membuka penyelidikan untuk menghimpun data sesungguhnya? Sudah tentu, bukan data-data yang bersifat sepihak. Saya kira seluruh Negeri dan rakyat Indonesia berhak untuk tahu dan mengerti yang sebenarnya. Sekali lagi biar seluruh rakyat tahu juga bagaimana pendapat Tuan tentang peristiwa tersebut. Hal ini penting sekali karena telah di-isukan bahwa bukan hanya PKI yang terlibat tapi juga Presiden Soekarno yang ikut dituduh merestui ”Dewan Revolusi.”

Selain itu juga dikatakan bahwa beberapa ribu orang PKI sebelum peristiwa G 30 S itu telah dipersiapkan dengan mengadakan latihan militer di daerah lapangan udara Halim. Di mana Presiden Soekarno pada tengah malam ketika peristiwa itu terjadi juga diamankan disitu. Dengan adanya berita-berita itu orang pada bertanya bagaimana hal ini bisa terjadi. Adanya suatu latihan militer yang diikuti oleh ribuan orang dapat dilakukan secara sembunyi-sembunyi? Dan apa perlunya Presiden Soekarno itu mencari perlindungan di tempat yang tidak menguntungkan baginya?

Kenyataan berita-berita lain yang saya peroleh dari lapangan udara Halim adalah bahwa: peristiwa G 30 S itu adalah cetusan dari suatu konflik dalam Angkatan Darat. Oleh karena itu mereka menggunakan dalih saat pribadi Soekarno itu dibawa kesana, karena saya sebagai istri merasa khawatir akan keselamatan suami saya. Sampai di Halim saya malah jadi bingung, karena ketika saya tanyakan pada sementara orang tenyata tak seorang pun yang tahu apa yang telah terjadi. Bahkan ketika itu, kita tidak tahu bahwa Jenderal A. Yani telah terbunuh. Pokoknya ketika itu kita tidak tahu siapa kawan dan siapa lawan. Hampir semuanya dalam kebingungan dan tidak tahu apa yang akan diperbuat. Tidak seorang pun tahu apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi berikutnya.

Dalam mengenang peristiwa G 30 S itu kembali, saya kira persoalannya akan lain andaikata Jenderal A. Yani masih hidup. Presiden Soekarno sendiri sangat sedih bagaimana sampai terjadi dia jadi korban dan bagaimana tempat tinggalnya sampai diketahui.

Selain hal di atas dengan ini saya ingin mengajukan pertanyaan yang penting kepada Tuan yang kiranya Tuan perlu perhatikan. Ialah tentang adanya ”Dewan Jenderal”, yang Tuan telah tentang keras tidak mengetahuinya. Orang hanya tahu, bahwa Jenderal A. Yani dan jenderal-jenderal lain yang terbunuh itu, hanya merekalah yang mengetahui tentang persoalan “Dewan Jenderal tersebut.

Akan tetapi 2 minggu sebelum peristiwa tersebut, Presiden Soekarno bertanya kepada Jenderal A. Yani: bagaimna sebenarnya duduk persoalan Dewan Jenderal tersebut. Yang dijawab oleh Jenderal A. Yani dengan tegas: Bapak Presiden, serahkan kepada saya saja segala hal yang bersangkutan dengan anak buah saya tersebut” (maksudnya D.D.)

Dari dialog tersebut, bagi saya timbul pertanyaan yang besar: bagaimana bisa terjadi Jenderal A. Yani itu ikut terbunuh? (jelas karena justru ada kontradiksi dalam ABRI sendiri=penyalin).
 
Jadi andai kata Tuan benar-benar obyektif, maka pasti Tuan akan yakin bahwa Soekarno itu benar-benar tidak terlibat dan tidak tahu apa-apa tentang G 30 S tersebut.

Tuan Suharto,

Dengan mengetahui tentang hal-hal di atas, maka lalu timbul pertanyaan saya: apakah kiranya jawaban Tuan bila seluruh rakyat Indonesia yang menduga bahwa dengan adanya tindakan cepat dari Tuan untuk membentuk kekuasaan “Orde Baru” dalam situasi yang kacau balau itu, bukankah justru sebenarnya Tuan lah yang mempunyai semua rencana dan melaksanakan rencana “Dewan Jenderal”.

Bukti-bukti kemudian menunjukkan bahwa dalam situasi yang kacau di Indonesia itu, Tuan telah membangun tentara yang berorientasi ke kanan, bergandengan tangan dengan sementara mahasiswa-mahasiswa (yang tidak puas), yang kemudian didorong dan bekerja sama dengan pimpinan-pimpinan partai Islam serta politisi yang kanan untuk menghancurkan PKI. Yang selanjutnya terjadilah pembunuhan dan pertumpahan darah yang terencana. Bagaimana hal ini sampai terjadi, bahwa sikap ABRI malah lebih dekat dengan Pentagon (Markas Besar Departemen Pertahanan Amerika Serikat), dimana hampir semua kegiatan militer di dunia dikendalikan dari sana? Apakah dalam situasi demikian itu orang bisa mengharapkan lain kecuali PKI itu menjadi hancur berantakan karenanya dan hubungan dengan RRC dengan sendirinya putus.

Presiden Soekarno telah berulang kali mengatakan bahwa tidak benar untuk hanya menyalahkan PKI. Beliau berkata: “Kita jangan melemparkan semua kesalahan itu kepada PKI saja. Tapi persoalannya terletak pada hal-hal lain.”

Saya sangat menghargai akan sikap Bung Karno yang begitu tegas itu meskipun beliau harus mengorbankan nasibnya sendiri. Beliau telah menolak untuk tunduk pada tekanan pihak ABRI untuk menyatakan PKI itu dilarang dan di luar hukum. Ideenya meskipun telah mengalami tekanan yang berat dari pihak ABRI. Andaikata Bung Karno itu tidak bersikap teguh sedemikian rupa, barangkali situasi dan posisi beliau tidak akan seburuk seperti sekarang, apalagi kalau beliau melakukan langkah-langkah kompromis. Tapi beliau tidak demikian dan tetap berpegang teguh pada kebenaran dan keadilan.

Adam Malik, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia pada tahun 1966 telah berbicara di depan mahasiswa-mahasiswa di Tokyo dengan penuh kebohongan dan kebodohan. Ia menerangkan bahwa Soekarno-lah yang bertanggung jawab atas terjadinya pembunuhan massal terhadap kaum komunis di Indonesia itu. Andaikata Soekarno tepat pada waktunya menentukan sikapnya terhadap PKI maka pembunuhan massal itu dapat dihindari.

Dengan pidatonya Adam Malik itu maka orang-orang yang tidak tahu tentang apa sebenarnya yang telah terjadi di Indonesia itu akan menanggapinya dengan benar. Sementara itu Bung Karno masih terus secara terbuka berbicara dan menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya tentang PKI itu. Hal ini pun telah ditafsirkan oleh sementara mereka itu, bahwa Presiden Soekarno telah merestui tindakan-tindakan lebih lanjut dari PKI yang ternyata kemudian berakibat terjadinya pembunuhan yang lebih kejam.

Seperti kata pepatah Latin ”Cui Bono” yang artinya: yang penting bukan siapa yang benar akan tetapi siapa yang memperoleh keuntungan. Bukankah kemudian ternyata terbukti, bahwa Amerika Serikat-lah yang memperoleh keuntungan dengan peristiwa G 30 S itu. Kini terbukti bahwa Jakarta telah dibanjiri oleh Investor-Investor asing (penanam modal) yaitu Amerika Serikat. Tentang inipun tidak menjadi soal andaikan dengan kegiatan-kegiatan ekonomi itu, Indonesia dan rakyatnya yang pertama-tama memperoleh keuntungan. Bung Karno sejak semula sebenarnya selalu menolak untuk dibuatkan patung untuk dirinya. Baru setelah 22 tahun kemudian beliau mengabdi kepada Revolusi Indonesia, dengan enggan beliau baru menerima untuk dituliskan autobiografi-nya (riwayat hidupnya).

Akan tetapi bagi Tuan Suharto sendiri segera setelah tidak lama memegang kekuasaan, telah dibuatkan buku riwayat hidup Tuan dengan memakai judul “The Smiling General” (Jenderal yang suka senyum). Selain itu Tuan telah mengabadikan potret Tuan pada uang kertas Republik Indonesia yang sudah tentu agar Tuan cepat dikenal. Semua itu tentunya dengan advis (pertimbangan) para pembantu yang mengelilingi Tuan.

Tetapi sebaliknya – Tuan sama sekali telah meniadakan foto-foto Bung Karno pada kedutaan-kedutaan di Luar Negeri yang mempunyai kebiasaan memancangkan foto tokoh-tokoh dari bangsa di Dunia. Dalam hal ini tidak satu gambar Presiden Soekarno nampak.

Tuan Suharto,

Tuan yang pernah mengkritik tentang kediktatoran Presiden Soekarno dan bahkan Tuan telah berjanji akan memulihkan demokrasi di Indonesia, ternyata sekarang Tuan telah berbuat melebihi apa yang diperbuat oleh bung Karno. Langkah pertama yang seharusnya Tuan lakukan untuk men-demokratisir keadaan/situasi, antara lain tentang pemilihan Presiden. Teryata tentang hal inipun oleh Tuan selalu ditunda-tunda. Selain itu Tuan telah melarang untuk mencantumkan nama Bung Karno dalam buku-buku sejarah Indonesia yang harus diterbitkan. Sementara itu Tuan telah menahan Bung Karno dengan dalih untuk melindungi keselamatannya yang hakekatnya Tuan telah mengisolir beliau dari dunia luar. Tindakan Tuan yang tidak benar dan tidak adil inilah yang menyebabkan Bung Karno itu menjadi sakit. Beliau tidak mendapat perawatan sebagaimana mestinya. Dokter-dokter yang disediakan hanya proforma saja. Malah dokter gigi yang sangat diperlukan oleh beliau Tuan tidak memberikannya. Bahkan pernah ada orang yang mengingatkan agar Bung Karno itu jangan selalu diberi obat-obat injeksi sebab ada kemungkinan obat-obat ini justru membahayakan kesehatannya.

Disamping itu saya juga berharap mudah-mudahan makanan yang dibuat dan dikirim oleh putra/putri Bung Karno itu, benar-benar akan sampai ke tangan beliau selama beliau dalam isolasi, dalam tahanan, benar-benar dalam keadaan sangat berat dalam hidupnya. Bahkan hak-hak kemanusiannya yang paling azasi pun beliau tidak memperolehnya. Satu-satunya kesempatan yang diberikan kepada beliau untuk meninggalkan tempat isolasinya ialah ketika menghadiri perkawinan salah satu putrinya. Untuk itu mobil Bung Karno dikawal dengan ketat dengan kendaraan panser dan tidak boleh didekati oleh siapapun. Ketika beliau berdiri dan mendekati putrinya yang sedang menjadi penganten guna memberikan ciuman selamat dari seorang ayah pada anaknya, inipun telah dicegah oleh Polisi Militer yang mengawalnya dan beliau didorong secara kasar sehingga terjatuh duduk di atas sofa. Selain itu wajah beliau ditutupi dan dihalang-halangi agar tidak dapat diambil fotonya.

Andaikata saya yang mendapat perlakuan demikian, mungkin pasti jiwa saya akan terpukul keras. Akan tetapi karena Bung Karno itu mempunyai jiwa yang besar dan mentalnya kuat, perlakuan demikian itu dianggapnya sebagai pengorbanan yang harus dideritanya. Saya benar-benar sangat khawatir, bahwa mungkin perlakuan alat-alat kekuasaan Tuan kepada Bung Karno itu, kalau sedang sendirian lebih kasar karena di depan umum pun alat-alat kekuasaan Tuan itu sampai berani berbuat demikian terhadap beliau. Tuan dapat saja menghancurkan jasmani Bung Karno, tetapi Tuan tak akan pernah berhasil menghancurkan semangat dan jiwanya dalam membela keadilan dan kebenaran. Jiwa dan semangat Bung Karno itu tak akan pernah mati!

Bung Karno telah berjasa membebaskan Indonesia dari penjajahan Belanda yang 350 tahun lamanya. Setelah 13 tahun di penjara dan dibuang Pemerintah Belanda dan memimpin perjuangan bersenjata untuk kemerdekaan Indonesia selama tahun 1945 sampai tahun 1949. Bung Karno itu pasti tahu apa yang harus diperbuat untuk mengisi kemerdekaan negerinya.

Tanpa kepemimpinan Bung Karno, Tuan pasti tidak akan punya kedudukan sebagai Presiden seperti sekarang ini. Bung Karno itu telah meletakkan Undang-Undang Dasar yang demokratis untuk Indonesia dan telah mendirikan “Lingua Franca”.

Dibidang seni dan budaya beliau adalah promotor. Beliau-lah orangnya yang telah meletakkan dasar untuk pembangunan Bangsa Indonesia. Apakah dengan jasa-jasanya itu, tidakkah pantas beliau mendapatkan imbalan?!.

Andaikan Bung Karno tahu bahwa akan terjadi suatu pengkhianatan yang berakibat pembunuhan antar sesama Bangsa seperti peristiwa G 30 S itu pasti beliau tidak akan menyetujuinya.

Dan saya-pun tidak akan tinggal diam apabila sampai suami saya terlibat dalam tindakan kekerasan itu. Di depan mata saya, Bung Karno itu sangat terpuji dengan sifat-sifatnya yang luhur! Saya sangat yakin bahwa kalau ada seseorang yang berbuat dengan cara sadar dan sistematis membunuh sesama manusia, maka perbuatan itu adalah yang paling keji dan tak beradab. Saya kenal pepatah Jepang yang berbunyi: “mencekek seseorang dengan kain sutra. Sehubungan dengan pepatah inilah Tuan Suharto, Tuan telah memperkenankan Bung Karno itu diperlakukan sedemikian rupa, tersiksa, baik lahir maupun batinnya.

Selama ini saya belum pernah mengeluarkan suara atau pernyataan apa-apa, karena saya sadar bahwa Tuan sedang menghadapi persoalan-persoalan yang cukup gawat. Tapi kali ini saya harus berbicara secara terbuka kepada Tuan, karena: pertama-pertama untuk menjaga keselamatan dan nama baik Presiden Soekarno.

Ketika Presiden Soekarno menyerahkan wewenangnya kepada Tuan sebagai pejabat Presiden pada tanggal 7 Märet 1967 telah diberikan 3 syarat oleh beliau kepada Tuan. Salah satu diantaranya ialah: bahwa Tuan harus menjaga keselamatan keluarga Presiden Soekarno. Ternyata Tuan tidak memperhatikan permintaan beliau itu.

Sewaktu Tuan diwawancarai oleh wartawan Jepang tentang banyaknya korupsi di Indonesia dewasa ini. Tuan telah memberikan keterangan sebagai berikut: “Tentang masalah korupsi itu saya kira selamanya akan ada. Dan soal korupsi ini sebenarnya adalah sisa-sisa dari pemerintah Soekarno dulu. Sementara ini akan tetap demikian karena memang sedemikian sejak semula”.

Kalau ucapan Tuan itu benar maka ucapan Tuan itu seakan-akan ucapan seorang yang tidak bertanggung-jawab. Sikap Tuan itu adalah licik dan tidak jantan, karena Tuan ternyata berlindung di belakang nama Soekarno tentang apa yang sekarang terjadi. Ketika Tuan berbicara demikian di depan wartawan itu, maka habislah segala rasa hormat saya pada Tuan sampai yang terakhirpun!

Memang selama masih disebut manusia, biasanya siapa yang menang akan selalu menganggap dirinya benar dan sebaliknya mereka yang kalah pasti segala sesuatunya akan ditimpakan kepadanya.

Apabila Tuan memang bersedia dan benar-benar mau menyelidiki serta memberantas korupsi sebagai seorang warga negara Indonesia, saya sepenuhnya bersedia untuk menjadi saksi dan hadir pada setiap sidang-sidang pengadilan yang dilakukan secara terbuka. Sudah tentu pelaksanaannya harus sesuai dengan norma-norma dan hukum yang berlaku dan tidak ditutup-tutup serta tidak boleh ... (…?? Sambungan kalimat tidak jelas, oleh penyebar, Enje).

Bung Karno adalah Pahlawan Revolusi Indonesia. Dengan segala kerendahan hati, ingin saya katakan bahwa beliau memang belum tentu bisa menjadi pemimpin di waktu damai. Akan tetapi saya kira andaikata Bung Karno itu sewaktu menjadi mahasiswa, sempat belajar di luar negeri, beliau pasti akan lebih banyak mengenal masalah-masalah ekonomi yang akan melengkapi kepemimpinanya. Saya katakan demikian, karena mungkin “Nasionalisasi” perusahaan–perusahaan asing di Indonesia yang telah dilakukanya itu sebagai suatu kekhilafan.

Selain itu, Bung Karno itu sebenarnya tak pernah mengalami dan berada dalam kehidupan keluarga yang stabil. (Sebagai seorang pejuang pasti tidak mungkin! Penyalin). Andaikata beliau lebih lama mengenal kehidupan rumah-tangga yang harmonis seperti halnya kebanyakan orang, mungkin beliau ini akan menjadi Presiden yang lebih baik dalam suatu pemerintahan yang terpimpin dan sosialis di negeri ini. Sayangnya tidak memungkinkan, sehingga beliau itu lebih cenderung pada sifat-sifat seorang Kaisar. Dan beliau jadi korban dari kekuasaan yang dikuasainya, sendirian secara-penuh.

Saya dapat mengatakan demikian kepada Tuan, karena saya memang menganggap dan menghomati Soekarno itu sebagai orang besar. Akan tetapi kiranya Tuan tahu, bahwa saya tidak selalu menyetujui setiap pendapatnya.

Sebagai misal terhadap Pancasila yang beliau gali dan ciptakan itu, menurut pendapat saya, adalah sepenuhnya terlalu idealistis. Meskipun idealisme itu perlu, akan tetapi dalam abad ke-21 ini tidak sepenuhnya idealisme itu dapat dilaksanakan dalam praktek.

Indonesia sebenarnya belum matang untuk dibawa pada sistem demokrasi ala barat. Oleh karena itulah maka Bung Karno memberikan konsep pemikiran: “Demokrasi Terpimpin”. Lebih-lebih, karena Rakyat Indonesia kebanyakan masih banyak yang buta huruf dan taraf pendidikan maupun kemampuan ekonominya tidak sama. Dalam hal ini saya sependapat dengan Bung Karno.

Akan tetapi di pihak lain beliau itu telah meletakkan dasar politik yang terlalu tinggi dan terlalu ideal. Karena itu dapatlah dimengerti kalau beliau mendapat kritik yang begitu keras terutama dengan cita-citanya untuk mengadakan perbaikan atas nasib seluruh rakyat Indonesia secara massal dan serentak. Beliau sebetulnya harus lebih realistis dengan ide-idenya itu. Pada saat-saat beliau mempunyai posisi yang cukup kuat sebagai penguasa tertinggi, mestinya beliau akan mendapatkan dukungan dari pembantu-pembantunya atas ide-idenya tersebut. Akan tetapi kebanyakan dari Rakyat Indonesia itu hanya mengharapkan perubahan-perubahan dalam kebutuhan hidup sehari-harinya. Rakyat hanya menginginkan pemenuhan material yang nyata, dan mereka sudah mulai jenuh dengan idealisme yang sering dipidatokan. Bung Karno itu mengemukakan bahwa dunia ini dikuasai oleh 2 blok kekuasaan adi kuasa. Dan ide beliau ingin membentuk kekuatan ke-3 sebagai imbangan. Dalam perjuangan mewujudkan cita-cita ini, Indonesia dapat mempengaruhi dan menggerakkan dunia ke-3 seperti negara-negara di Asia, Afrika dan Amerika Latin. Ini berarti bahwa Indonesia sekaligus harus bisa berdikari di segala bidang. Demikian yang dicita-citakan oleh Bung Karno.

Kalau kemerdekan penuh dapat diberikan kepada semua negeri dan bangsa-bangsa yang terjajah. Akan sikap politik Indonesia yang mengisolasi diri itu, menyebabkan Indonesia menarik diri dari keanggotaan P.B.B, dari Bank Dunia, tidak ikut dalam Olympiade di Tokyo. Hal ini terjadi dalam rangka ketegangan dan perjuangan pembebasan Irian Barat dan konfrontasi dengan Malaysia.

Bung Karno berpendapat bahwa P.B.B telah bersikap tidak adil terhadap anggota-anggotanya. Indonesia yang belum pernah mendapat pinjaman dari Bank Dunia (yang dikuasai oleh Amerika Serikat) telah menolak bantuan itu, kalau memakai syarat-syarat politik. Sebelum Olympiade Tokyo dimulai, Indonesia telah dituduh mempolitisir olah-raga seluruh bangsa-bangsa Asia-Afrika di Jakarta (Ganefo). Karenanya, Indonesia lalu ditolak untuk ikut dalam Olympiade Tokyo itu. Dalam hal ini Bung Karno menolak tuduhan tersebut kerena ternyata pertandingan-pertandingan Olympiade selama inipun juga tidak mengikut sertakan semua negeri khususnya negara-negara komunis.

Tuan Suharto,

Apabila Tuan juga mencoba memikirkan tentang hari depan Indonesia pada hari-hari yang gawat itu, Tuan pun akan pasti mempunyai pendapat-pendapat lain mengenai ide-ide Bung Karno itu, yang mempunyai akibat tantangan angin taufan. Saya sendiripun ikut prihatin dengan hati yang berdebar-debar memperhatikan bahwa diplomasi Indonesia itu makin hari makin bergeser ke kiri.

Memang tak ada orang yang sempurna! Begitu juga dengan diri Bung Karno menurut saya, apa yang dikerjakan oleh beliau itu sama sekali tidak terselip untuk keuntungan diri sendiri, tetapi sepenuhnya segala sesuatunya itu diabdikan pada Indonesia dan rakyatnya, satu-satunya yang dicintainya dan hendak diabdinya. Dalam perjalanan hidupnya, Bung Karno itu selalu berusaha untuk mencegah dan menghindari ada pertentangan dalam negeri yang bisa berakibat adanya korban-korban.

Dibanding dengan sikap Tuan dan pembantu-pembantu Tuan, ternyata jauh berbeda di mana Tuan atau pembantu-pembantu Tuan telah memerintah Indonesia dengan perampokan dan pertumpahan darah. Tuan dan pembantu-pembantu Tuan kelak akan dituntut dengan tuduhan telah melaksanakan pembunuhan yang disengaja terhadap ratusan ribu orang PKI yang tidak bersalah, dengan dalih “penumpasan PKI sampai ke akar-akarnya”

Siapa dapat percaya, bahwa Tuan percaya kepada Tuhan? Dalam hal ini, Indonesia seharusnya tidak memerlukan Presiden di mana tangannya penuh berlumuran darah.

Tuan Suharto,

Bung Karno itu saya tahu benar-benar sangat mencintai Indonesia dengan Rakyatnya. Sebagai bukti bahwa meskipun ada lawannya yang berkali-kali hendak menteror beliau, beliau pun masih mau memberikan pengampunan kalau yang bersangkutan itu mau mengakui kesalahannya. Dibanding dengan Bung Karno, maka di balik senyuman Tuan itu, Tuan mempunyai hati yang kejam. Tuan telah membiarkan ratusan ribu orang-orang PKI dibantai. Kalau saya boleh bertanya: apakah Tuan tidak mampu dan tidak berkuasa untuk mencegah dan melindungi mereka agar tidak terjadi pertumpahan darah?

Mungkin Tuan kelupaan bahwa ketika peristiwa tahun 1965 itu berlangsung, Bung Karno tidak juga Tuan suruh bunuh pula. Tuan pasti mudah amat untuk mempersalahkan dan menuduh PKI itu bersalah sehingga terjadinya tragedi tersebut. Kalau Tuan mau berbuat demikian maka pasti rakyat banyak yang menjadi pengagum dan menganut ajaran Bung Karno itu akan tetap hidup tenang. Tidak seperti sekarang, di mana mereka tidak dapat berbuat apa-apa sementara mereka tidak tahu bagaimana nasib pemimpinnya.

Semestinya Tuan tidak perlu memperlakukan Bung Karno itu sedemikian rupa, yang mungkin karena perasaan kerdil Tuan. Sebenarnya Tuan akan lebih terhormat apabila Bung Karno itu sebagai Pemimpin Besar Revolusi dapat meninggal secara wajar, bukan karena tersiksa dalam tahanan. Adalah suatu kerugian besar sekali bagi Indonesia bahwa Bung Karno itu telah mendapat perlakuan yang tidak wajar seperti itu, setelah beliau mengabdi selama hidupnya untuk Negara Indo­nesia dan bangsanya.

Pada akhir surat terbuka ini, Saya akan tutup surat ini dengan mengenang kembali akan kecintaan dan kemesraan saya terhadap Bung Karno dengan teriakan!!!

Paris, 16 April 1970
Tertanda,
 

Ratna Sari Dewi Soekarno


(Surat ini diterjemahkan bebas oleh Vrij Nederland. Sumber: kolektorsejarah.wordpress.com)

Kata-Kata Bijak Nelson Mandela


"Memimpinlah dari belakang dan biarkan yang lain di depan ketika Anda merayakan kemenangan. Saat bahaya datang, berdirilah paling depan, maka orang akan menghormati Anda."

“Jika Anda ingin berdamai dengan musuh Anda, maka Anda harus bekerja sama dengan musuh Anda. Setelah itu barulah dia menjadi rekan Anda.”

“Bila hak hidup seseorang yang ia yakini diingkari, maka tidak ada pilihan lain baginya selain menjadi penjahat.”

“Saya menyadari bahwa keberanian bukanlah hilangnya rasa takut, namun penaklukan terhadap ketakutan. Orang yang berani bukanlah orang yang tidak merasakan ketakutan, tetapi orang yang mampu menaklukkan ketakutan.”

“Kepala yang bagus dan hati yang baik selalu menjadi kombinasi yang hebat. Tetapi kalau Anda tambahkan lidah yang bicara atau pena, maka Anda mempunyai sesuatu yang sangat spesial.”

“Meraih kebebasan itu bukan berarti hanya melepas rantai seseorang, tetapi hidup dengan menghargai dan mendorong kebebasan orang lain."

“Tak seorang pun lahir untuk membenci orang lain hanya karena beda warna kulitnya, atau beda latar belakangnya, atau beda agamanya. Orang harus belajar membenci, dan jika bisa belajar membenci maka dia bisa belajar mencintai, yakni cinta terhadap manusia bukan kepada musuh.”

“Saya pernah menapak jalan menuju kemerdekaan. Saya juga berusaha untuk tidak pernah bimbang; Saya pernah salah jalan. Namun, saya berhasil menemukan rahasia bahwa seseorang yang berhasil mendaki bukit tinggi hanya akan mendapati bahwa ternyata masih banyak bukit yang harus ia daki. Saya lalu beristirahat di sini, sekadar untuk menikmati pemandangan menakjubkan yang ada di sekeliling saya, sekadar menengok ke belakang menatap jalan yang pernah saya lalui. Tapi saya hanya bisa istirahat sejenak, sebab kemerdekaan berarti tanggung jawab. Dan saya tidak ingin hidup kekal, sebab jalanan panjang saya tidak akan pernah berakhir.”

“Jika Anda bicara kepada seseorang menggunakan bahasa yang ia pahami, maka pembicaraan itu hanya akan masuk ke kepalanya. Namun, kalau Anda bicara menggunakan bahasanya, maka pembicaraan itu akan masuk ke dalam hatinya.”

Senin, 10 Maret 2014

SATU ORANG JADI PRESIDEN DI 4 NEGARA YANG BERBEDA



Dia adalah SIMÓN BOLÍVAR.
Simón José Antonio de la Santísima Trinidad Bolívar y Palacios (lahir di Caracas, Venezuela, 24 Juli 1783 – wafat di Santa Marta, Kolombia, 17 Desember 1830 pada umur 47 tahun) adalah panglima militer perjuangan kemerdekaan Amerika Selatan yang secara kolektif dikenal dengan Perang Bolívar. Ia membebaskan banyak negeri di Amerika Selatan dari Spanyol. Selama beberapa tahun, ia adalah Presiden Gran Colombia, negara yang tidak lama ada. Negara Bolivia dinamai menurut nama Bolívar.

Masa jabatan Presiden :

1st President of Gran Colombia
Masa jabatan:
17 Desember 1819 – 4 Mei 1830

2nd President of Venezuela & 3rd President of Venezuela
Masa jabatan:
6 Agustus 1813 – 7 Juli 1814 & 15 Februari 1819 – 17 Desember 1819

1st President of Bolivia
Masa jabatan:
12 Agustus 1825 – 29 Desember 1825

6th President of Peru
Masa jabatan:
17 Februari 1824 – 28 Januari 1827