Translate

Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 April 2018

Sesat Pikir Dalam Dunia Politik Praktis

 


Kita seringkali menyaksikan atau terlibat dalam sebuah diskusi dan perdebatan yang sangat memprihatinkan. Jangankan dalam pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan, dalam kelompok masyarakat pun seringkali terjadi diskusi yang berujung debat panjang dan tak jarang konflik. Harus diakui, memang ketika mengacu kepada realitas yang ada, konflik kepentingan di sekitar kita tidak mungkin dapat dihilangkan.

Ketika kita melihat realitas yang terjadi, ternyata ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya konflik kepentingan. Faktor yang paling mempengaruhi adalah faktor perbedaan kepentingan itu sendiri. Karena setiap individu atau setiap kelompok mempunyai kepentingannya sendiri yang berbeda dengan individu atau kelompok lainnya, maka di wilayah perebutan kepentingan itulah kita sering temukan terjadinya konflik.

Selain itu ternyata ada satu faktor penyebab terjadinya konflik yang tidak kalah pentingnya, yakni kesalahan dalam dialektika. Artinya para pihak kerap melakukan atau mengeluarkan pemikiran-pemikiran yang tidak sesuai dengan alur pemikiran yang benar, atau dengan kata lain para pihak ini kerap kali melakukan kesalahan penalaran (Fallacy Logical atau Sesat-Pikir) dalam berpendapat/beradu argumen sehingga menimbulkan kesalahan dalam pemaknaannya. Dan ketika timbul kesalahan pemaknaan, maka akan timbul kesalahpahaman dan pada akhirnya akan timbul konflik yang dapat bersifat disintegratif.

Sesat-Pikir, terutama dalam dunia politik dan pemerintahan, akan sangat efektif digunakan dalam provokasi, menggiring opini publik, debat perencanaan Program/Kegiatan, pembunuhan karakter, hingga kepentingan untuk menghindari jerat hukum. Memang, dengan memanfaatkan Sesat-Pikir Logis sebagai Silat Lidah kita dapat saja memenangkan suatu diskusi, namun sesungguhnya hal itu justru menjauhkan kita dari esensi permasalahan.

Pengetahuan tentang prinsip-prinsip logis yang seringkali tidak memadai dari masyarakat awam seringkali dimanfaatkan untuk mencapai tujuan. Bahkan seringkali dipaksakan prinsip-prinsip penalaran tersebut dipakai untuk menarik kesimpulan yang tidak relevan atau menggunakan kata-kata yang memiliki makna ganda. Dan inilah yang seringkali menyebabkan kesalahpahaman dan yang kemudian akan menimbulkan konflik. Oleh karena itu sebelum mengeluarkan pendapat, perlu dipahami adanya kemungkinan Sesat-Pikir yang sering terjadi.

Sesat-Pikir adalah proses penalaran atau argumentasi yang sebenarnya tidak logis, salah arah dan menyesatkan. Suatu gejala berpikir yang salah, yang disebabkan oleh pemaksaan prinsip-prinsip logika tanpa memperhatikan relevansinya.

Walaupun proses berpikir semacam ini menyesatkan, tetapi hal ini sering dilakukan. Atau dalam pengertian lain Logical Fallacy atau Sesat-Pikir Logis adalah suatu komponen dalam argumen, muncul dalam statement, dan di-klaim untuk mengacaukan logika. Sesat-Pikir Logis akan menghasilkan kesimpulan yang menyesatkan karena klaim argumennya tidak disusun dengan logika yang benar.

Seringkali Sesat-Pikir Logis dilakukan oleh para pihak yang kurang memahami tentang penalaran logis, orang yang tidak bisa menempatkan dirinya pada posisi orang lain, hingga orang-orang yang berpendapat bahwa ketika pendapatnya diserang maka egonya yang diserang. Golongan yang pertama ini disebut Paralogisme, yaitu Pelaku Sesat-Pikir Logis yang tidak menyadari Sesat-Pikir yang dilakukannya.

Namun ada juga Sesat-Pikir Logis yang disamarkan menjadi Silat Lidah, yang dilakukan oleh para pihak yang berniat memperdaya, golongan kedua ini disebut dengan Sofisme.

Ada banyak jenis kekeliruan yang dilakukan dalam melakukan penalaran atau dalam berargumen. Setiap kekeliruan dalam menalar itu tentu berakibat pada menyampaikan argumen yang salah. Paling tidak, ada dua macam argumen yang salah yakni sebagai berikut:

PERTAMA, argumen yang sebenarnya keliru namun tetap diterima umum karena banyak orang yang menerima argumen tersebut tetapi tidak merasa kalau mereka itu sebenarnya telah tertipu. Sesat-Pikir semacam ini disebut Kekeliruan Relevansi.

Argumen-argumen semacam itu biasanya bersifat persuasif dan dimaksudkan untuk mempengaruhi aspek kejiwaan orang lain. Argumen-argumen semacam itu misalnya terdapat dalam pidato politik dalam kampaye, pernyataan pejabat yang dimaksudkan untuk meredam situasi, reklame untuk menawarkan barang-barang produksi.

KEDUA, argumen yang keliru karena kesalahan dalam penalaran yang disebabkan oleh kecerobohan dan kurang-perhatian orang terhadap pokok persoalan yang terkait, atau keliru dalam menggunakan term dan proposisi yang memiliki ambiguitas makna bahasa yang dipergunakan dalam berargumen. Sesat-Pikir semacam ini disebut Penalaran yang ambigu atau Ambiguitas Penalaran. Misalnya, term “salah prosedur” yang sering diucapkan oleh pejabat untuk berdalih ketika mendapatkan kritik dari masyarakat. Term tersebut memiliki lebih dari satu makna, yaitu dapat diartikan sebagai salah interpretasi terhadap suatu perintah/instruksi, menggunakan metode atau langkah yang berbeda dan tidak dimaksudkan dalam petunjuk pelaksanaan sebuah proses kegiatan, atau pengambilan putusan yang tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Ada beberapa
Logical Fallacy atau Sesat-Pikir Logis yang sering ditemukan dalam kampanye, debat, maupun diskusi diantaranya adalah:

  1. ARGUMENTUM AD HOMINEM
    Argumentum ad Hominem adalah bentuk argumen yang tidak ditujukan untuk menangkal argumen yang disampaikan oleh orang lain tetapi justru menyerang pribadi si pemberi argumen itu sendiri. Argumen itu ditujukan menyerang pribadi lawan demi merusak argumen lawan. Istilah populernya adalah: shoot the messenger, not the message.

Ada banyak bentuk Ad Hominem, namun yang paling umum adalah Ad Hominem Cercaan.

Ad Hominem termasuk salah satu Sesat-Pikir yang paling sering dijumpai dalam debat dan diskusi, yang biasanya akan membawa topik ke dalam debat kusir yang tak ada ujung pangkal.

Sesungguhnya, Ad Hominem tidak sama dengan penghinaan, celaan, atau cercaan. Sejatinya, Ad Hominem ada dalam premis dan pengambilan kesimpulan berupa logika yang langsung mengarahkan argumennya untuk menyerang seseorang di balik suatu argumen. Dan tendensinya bisa saja bukan merupakan penghinaan, namun hanya mengkaitkan dua hal yang tidak berhubungan sama sekali. Sederhananya, bisa dikatakan Ad Hominem jika itu berupa premis dan kesimpulan, untuk menjatuhkan argumen lawan dengan cara menyerang langsung kepada pribadi bersangkutan.

Contoh:

Bapak Anggota Dewan yang terhormat, Anda ini kan Ketua Komisi yang membidangi fungsi pengawasan terhadap proyek bermasalah yang sementara kita bicarakan ini. Dan Saudara masih tidak malu menyampaikan pendapatnya di sini?!.

(Ini sebenarnya adalah cara yang berbelit-belit untuk mengatakan "no comment", namun juga sekaligus menyerang lawan diskusi).

  1. RED HERRING
    Red Herring adalah argumen yang tak ada sangkut-pautnya dengan argumen lawan, dan digunakan untuk mendistraksi atau mengalihkan perhatian orang dari perkara yang sedang dibahas serta menggiring menuju kesimpulan yang berbeda. Sesat-Pikir ini biasanya akan keluar jika seseorang tengah terdesak. Ia akan langsung melemparkan umpannya ke topik lain, di mana topik lain ini sukar dihindari untuk tidak dibahas. Itu karena biasanya pemilihan topik lain itu 'aromanya' cukup kuat, antara lain topik yang aktual atau isu yang cukup dengan lawan debat atau audiens.

Contoh:

Andi: Polisi harusnya menindak tegas para aktivis lingkungan yang berdemo hingga menyebabkan macet di beberapa ruas jalan.

Badu: Anda merasa makin panas dan gerah saat macet kan? Kita harus peduli dengan isu global warming itu. Bagaimana opini Anda?

(Ketika Andi terpancing mengemukakan opininya tentang global warming, maka jatuhlah ia ke dalam topik baru).

  1. STRAW MAN
    Straw Man yaitu argumen yang membuat sebuah skenario dengan suatu imej yang menyesatkan, kemudian menyerangnya. Adalah dengan membuat Ilusi untuk menyangkal suatu proposisi dengan mensubstitusinya melalui sesuatu yang mirip namun dangkal dan mudah diserang, tanpa pernah benar-benar menyangkal argumen lawan yang sebenarnya.
    Ilusi adalah sasaran yang empuk dan mudah untuk diserang. Menyerang Ilusi yang diciptakan dari manipulasi argumen lawan, akan membuat argumen diri sendiri terlihat kuat dan bagus. Pada umumnya, selain terdapat dalam kampanye, Ilusi yang diciptakan ini akan dikeluarkan setelah lawan selesai bicara mengenai perkara yang dibahas.

Contoh:

Yusak: Kita harus duduk lagi bersama masyarakat untuk mendengarkan kembali alasan-alasan mereka, kenapa sampai mereka melakukan penolakan terhadap proyek ini dan mencari solusi yang baik.

Marthen: Tidak! Penolakan terhadap proyek ini adalah tindakan provokatif yang menghambat pembangunan dan melawan Pemerintah.

(kalimat 'tindakan provokatif yang menghambat pembangunan dan melawan pemerintah' adalah ilusi yang diciptakan untuk menggantikan dan menyerang 'tindakan penolakan').

  1. GUILT BY ASSOCIATION
    Guilt by Association berciri-ciri tipe generalisasi umum--yang terlalu cepat mengambil kesimpulan--yang meyakini bahwa sifat-sifat suatu hal berasal dari sifat-sifat suatu hal lain. Sesat-Pikir ini bisa berupa Ad Hominem, biasanya dengan menghubungkan argumen dengan sesuatu hal diluar argumen itu, kemudian menyerang si pembuat argumen.
    Ini adalah bentuk ekstrim dari majas Totum pro parte yang mana berupa seolah-olah pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian. Intinya adalah mencari kesalahan seseorang dari apa saja yang berkaitan dengannya, lalu jadikan hal tersebut argumen untuk menjatuhkannya.

Contoh:

Dalam persoalan Guriola, Vecky dan Yusak juga berada di sana bersama pemilik lahan yang melakukan penolakan. Sekarang di Raemadia, Vecky dan Yusak juga ada di sana bersama mereka yang melakukan penolakan tambak. Mereka yang menolak tambak adalah provokator dan pembangkang serta penghambat pembangunan. Pastilah Vecky dan Yusak adalah Provokator dan penghambat pembangunan.

(lihat bagaimana dengan mudah menggeneralisasikan seseorang berdasarkan hubungannya dengan hal lain).

  1. PERFECT SOLUTION FALLACY
    Perfect Solution Fallacy adalah sesat-pikir yang terjadi ketika suatu argumen berasumsi bahwa sebuah solusi sempurna itu ada, dan sebuah solusi harus ditolak karena sebagian dari masalah yang ditangani akan tetap ada setelah solusi tersebut diterapkan.
    Asumsinya, jika tidak ada solusi sempurna, tidak akan ada solusi yang bertahan lama secara politik setelah diimplementasi. Tetap saja, banyak orang tergiur oleh ide solusi sempurna, mungkin karena itu sangat mudah untuk dibayangkan.

Contoh:

Penerapan UU Pornografi ini tidak akan berjalan dengan baik. Pemerkosaan akan tetap terjadi.

(argumen yang tidak memperhatikan penurunan tingkat kriminalitas asusila)

  1. Argumentum ad Verecundiam
    Argumentum ad Verecundiam terjadi ketika mengacu pada seseorang yang dianggap positif sebagai pakar atau ahli sehingga apa yang diucapkannya adalah sebuah kebenaran. Otoritas kepakaran seseorang yang mengucapkan suatu hal tersebut kemudian otomatis diakui sebagai sesuatu yang pasti benar, meskipun otoritas itu tidak relevan.

Contoh:

Banyak ahli mengakui kapitalisme itu telah runtuh dan banyak boroknya. Jadi mana yang sebaiknya saya percaya, para ahli terkemuka itu atau Anda yang kuliah saja belum lulus?

(tembakan plus ad hominem, dan ya, bisa juga menambahkan sederet nama orang terkenal dalam argumennya)

  1. Poisoning the Well
    Poisoning the Well adalah sesat-pikir yang mencegah argumen atau balasan dari lawan dengan cara membuat lawan dianggap tercela dengan berbagai tuduhan bahkan sebelum lawan sempat bicara. Teknik meracuni sumur ini lebih licik dari sekadar mencela lawan karena akan membuatnya menghina diri sendiri karena menyambut argumen yang telah diracuni tersebut.

Contoh:

Kami menduga Sintong akan melakukan negative campaign untuk menjatuhkan Gerindra.

(dan apa yang Sintong tulis tentang Prabowo dalam bukunya akan dianggap sebagai upaya menjatuhkan Gerindra)

  1. Argumentum ad Temperantiam
    Argumentum ad Temperantiam adalah kesesatan yang menyatakan bahwa pandangan pertengahan adalah sesuatu yang benar tanpa peduli nilai-nilai lainnya. Serta juga menganggap jalan tengah sebagai pertanda kekuatan suatu posisi. Meskipun dapat menjadi nasihat yang bagus, namun kesesatannya disebabkan karena ia tak punya dasar yang kuat dalam argumen karena selalu berpatokan bahwa jalan tengah adalah yang benar. Penggunaannya kadang dengan membuat-buat posisi lain sebagai posisi yang ekstrim.

Contoh:

Daripada mendukung komunisme atau mendukung kapitalisme, lebih baik ideologi Pancasila yang merupakan jalan tengah keduanya.

(sedikitpun tidak menjabarkan kelebihan dan kekurangan masing-masing sistem)

  1. Ipse-dixitism
    Ipse-dixitism adalah argumen dengan dasar keyakinan yang dogmatis. Seseorang yang menggunakan Ipse-dixitism mengasumsikan secara sepihak premisnya sebagai sesuatu yang disepakati, padahal tidak demikian. Premis yang diajukan dalam argumen seolah-olah merupakan fakta mutlak dan telah disepakati bersama kebenarannya, padahal itu hanya dipegang oleh pemberi argumen, tidak bagi lawannya. Sesat-pikir ini akan berujung pada debat kusir.

Contoh:

Ideologi liberalis dan kapitalis telah terbukti gagal dan hanya menyengsarakan rakyat, karena itu harus diganti dengan sistem spiritual.

(ideologi yang gagal itu belum disepakati lawan bicaranya, jadi bagaimana langsung dapat menggulirkan solusi?)

  1. Proof by Assertion
    Proof by Assertion adalah kesesatan di mana suatu argumen terus-menerus diulang tanpa mengacuhkan kontradiksi terhadapnya. Kadang ini diulang hingga diskusi pun jenuh, dan pada titik ini akan dianggap sebagai fakta karena belum dikontradiksi. Sesat-pikir ini sering digunakan sebagai retorika oleh politikus, atau dalam debat sebagai usaha menggagalkan penetapan suatu undang-undang dengan pidato yang amat panjang dan tak habis-habis. Dalam bentuk yang lebih ekstrim lagi, juga bisa menjadi salah satu bentuk pencucian otak. Penggunaannya dapat diamati dari penggunaan slogan politik yang terus-menerus diulang.

Contoh:

Tapi Bapak Menteri, seperti yang telah saya jelaskan selama dua bulan terakhir ini, tak mungkin kita memotong anggaran biaya departemen ini. Tiap posisi dan jabatan di dalamnya amat penting bagi efesiensi kerja dan prestasi departemen. Lihat saja office boy yang selalu mengantarkan kopi, atau mereka yang memunguti penjepit kertas di ruang kerja, maka blablablablablaaa...

[dan seterusnya, berbelit-belit] (selama dua bulan cuek terhadap argumen balasan dan terus mengulang perkara yang sama)

  1. Two Wrongs Make a Right
    Adalah kesesatan yang terjadi ketika diasumsikan bahwa jika sebelumnya dilakukan suatu hal yang salah, maka tindakan salah yang berikutnya akan dibenarkan. Sesat-Pikir ini biasa digunakan untuk menggagalkan argumen lawan dengan menyerang argumen tersebut yang juga dianggap salah.

Contoh:

Dedi: Soeharto merebut kekuasaan dari Bung Karno dan akhirnya ia berkuasa dengan tangan besi.

Amir: Tapi Soekarno juga mengangkat dirinya sebagai presiden seumur hidup!

Ø  (Ya, tapi itu tentu saja bukan berarti apa yang dilakukan Soeharto itu benar)

  1. Argumentum ad Novitam
    Argumentum ad Novitam muncul ketika sesuatu hal yang baru dapat dikatakan benar dan lebih baik, dengan mengasumsikan penggunaan hal yang baru berbanding lurus dengan kemajuan zaman dan sama dengan kemajuan baru yang lebih baik. Sesat-pikir ini selalu menjual kata 'baru', dengan menyerang suatu hal yang lama sebagai hal yang gagal dan harus diganti dengan yang lebih baru.

Contoh:

Mengganti golongan tua dengan golongan muda serta wajah baru di parlemen akan membuat negara ini lebih baik.

(tapi masalah seperti korupsi bukan perkara tua atau muda)

  1. Argumentum ad Antiquitam
    Kebalikan dari Argumentum ad Novitatem, ketika sesuatu benar dan lebih baik karena merupakan sesuatu yang sudah dipercaya dan digunakan sejak lama. Argumen ini adalah favorit bagi golongan konservatif. Nilai-nilai lama pasti benar. Patriotisme, kejayaan negara, dan harga diri sejak puluhan tahun silam. Sederhananya, sesat-pikir ini adalah kebiasaan malas berpikir. Dengan selalu berpatokan bahwa cara lama telah dijalankan bertahun-tahun, maka itu dianggap sesuatu yang pasti benar.

Contoh:

Bupati incumbent telah memperjuangkan pembangunan dengan susah payah melalui lobby-lobby anggaran ke Pusat, maka pilihlah incumbent dalam Pilkada mendatang.

(lobby-lobby anggaran, lalu apa hasilnya?)

  1. False Dichotomy
    False Dichotomy atau False Dilemma terjadi apabila argumen hanya melibatkan dua opsi, yang seringkali berupa dua titik ekstrim dari beberapa kemungkinan, di mana masih ada cara lain namun tidak disertakan ke dalam argumen. Biasanya sesat-pikir ini menyempitkan opsi menjadi dua saja, walaupun masih ada opsi lain. Bahkan kadang-kadang menyempitkan opsi menjadi satu, sehingga seolah-olah mau tidak mau harus menyetujuinya.

Contoh:

Pembangunan tambak garam ini harus tetap dilaksanakan walaupun langit akan runtuh, jika tidak, kemiskinan dan pengangguran pasti akan tetap menjadi persoalan di daerah ini.

(opsi lainnya tidak disertakan sehingga membuat argumennya mau tidak mau harus disetujui).

Sesat-pikir pada hakikatnya merupakan jebakan bagi proses penalaran kita. Seperti halnya rambu-rambu lalu lintas dipasang sebagai peringatan bagi para pemakai jalan di bagian-bagian yang rawan kecelakaan, maka rambu-rambu sesat-pikir ditawarkan kepada kita agar kita mampu mengidentifikasi dan menganalisis kesalahan-kesalahan tersebut sehingga mungkin kita akan selamat dari penalaran yang keliru.

Oleh karena itu, untuk menghindari kekeliruan relevansi, misalnya kita sendiri harus tetap bersikap kritis terhadap setiap argumen. Dalam hal ini, penelitian terhadap peranan bahasa dan penggunaannya merupakan hal yang sangat menolong dan penting. Realisasi keluwesan dan keanekaragaman penggunaan bahasa dapat kita manfaatkan untuk memperoleh kesimpulan yang benar dari sebuah argumen.

Sesat-pikir karena ambiguitas kata atau kalimat terjadi secara “halus”. Banyak kata yang menyebabkan kita mudah tergelincir karena banyak kata yang memiliki rasa dan makna yang berbeda-beda. Untuk menghindari terjadinya sesat-pikir tersebut, kita harus dapat mengupayakan agar setiap kata atau kalimat memiliki makna yang tegas dan jelas. Untuk itu kita harus dapat mendefinisikan setiap kata atau term yang kita pergunakan.

Senin, 02 Maret 2015

Orang Kuat Bas Wie, Gandol Pesawat RAAF Kini Hidup di Panti Jompo

Orang Kuat Bas Wie, Gandol Pesawat RAAF Kini Hidup di Panti Jompo

Bas Wie diatas roda pesawat ketika rekontuksi oleh majalah TIME
Laras Post Online - Perang Dunia II baru saja berakhir. Seluruh dunia sedang sibuk dengan berita-berita yang mengikuti perang seperti soal perlucutan senjata, perundingan dan perdamaian dunia, tawanan perang, bom atom, pembagian baru wilayah yang diduduki selama perang. Tiba-tiba sebuah selingan terjadi bagai intermezo di antara berita panas dunia. Seorang anak kecil berusia 16 tahun. Tak urung lagi, peristiwa itu menjadi headline semua koran dan radio di seluruh dunia. 
Siapa si anak kecil itu? Orang Jepang memanggilnya Ichi Rohi, artinya anak sulung. Begitulah si anak nakal Bas Wie dikenal serdadu Jepang ketika masa pendudukan di Pulau Timor. Menurut Ibu Oni Tanya Uly, Ichi Rohi termasuk beruntung, karena kenakalannya pernah membuat tentara Jepang marah. “Kalau saja dia bukan anak kecil 10 tahun, dia sudah dibunuh Jepang,” ujar Ibu Ony. Bas Wie pernah ikut bersama keluarga mereka, tapi tidak lama. 
Saat itu, bulan Agustus tahun 1946, Perang Dunia II baru saja berakhir. Pulau Timor diduduki tentara Sekutu dari sebuah kontingen khusus militer Australia yang disebut Tim Force bertugas di Kupang, ibu kota Pulau Timor. 
Bas Wie, memang sudah akrab dengan lapangan terbang. Pada masa sebelumnya ia menjadi tukang cuci piring di dapur bandara Penfui, Kupang. Sekarang lapangan terbang itu dinamakan Bandara El Tari. Ia adalah anak yatim dari Pulau Sabu yang bernama Sabu Wie Dara, merasa dirinya ditolak di mana-mana. Wajar saja bila tiap saat dia melihat pesawat terbang take off, dia langsung berkhayal. Ingin pergi jauh, terbang bersama pesawat itu, entah ke mana. Baginya yang penting segera bisa meninggalkan kehidupan yang keras yang selalu menderanya tiap hari. 
Keramahan tentara Australia yang datang melucuti tentara Jepang bagi Bas Wie merupakan kesempatan tersendiri. Ia merasakan keramahan tentara Australia dari mana ia memperoleh pepermen, atau bola yang sulit diperoleh anak-anak semacam dia ketika itu. Kadang-kadang ia diberi daging, membawanya di jeep atau truck berkeliling. 
Suatu malam tidak sengaja ia mendengar percakapan di hall bandara. Pesawat Angkatan Udara Belanda C-47 yang sedang parkir di luar akan berangkat ke Australia. Spontan ia mendapat ide. 
“Nah, bagaimana kalau ikut terbang bersama pesawat itu,” ujarnya dalam hati. Ia mencoba menyelinap, tetapi pintu pesawat terkunci. Tiba-tiba ia menemukan dua rongga nacelle yang menutup ban pesawat jika pesawat telah tinggal landas.”Nah, ini dia.” Ia memanjat, berjongkok di atas salah satu rongga itu, di mana cukup untuk tubuhnya bersembunyi. Dengan was-was ia berharap tidak ditemukan petugas bandara. 
Beberapa menit kemudian para crew masuk ke pesawat, menghidupkan dan pesawat pun bergerak. Saat pesawat menyapu landasan pacu, mimpi buruk Bas Wie pun dimulai. Pipa knalpot menyemburkan api orange. Pendingin baling-baling mengoyak-ngoyak kemeja tipisnya. Tapi ia harus menyelamatkan dirinya dari asap mesin. Ia pun bergeser ke satu-satunya tempat di mana ia bisa selamat, yaitu sebuah ruang berukuran 10 x 20 inchi yang berada di antara tangki bahan bakar dan pipa knalpot. 
Ban pesawat yang mulai masuk menjepit dirinya dan tuas besi penggerak masuk dan keluarnya roda menghimpit bahunya. Berdarah. Tubuhnya sekaligus hangus oleh api dan kedinginan oleh angin lautan yang menderu. Ia merintih, lalu pingsan. Selama tiga jam tubuhnya terjepit dalam rongga roda yang menjepitnya demikian erat sehingga tubuhnya bahkan menempel bagai cecak di langit-langit, bahkan tidak jatuh saat pesawat digerakan keluar untuk mendarat. Para crew menemukannya ia ”tertempel” di rongga dan tampaknya hampir mati. 
“Tak ada yang melihat, saya langsung melompat ke atas dan bergelantungan,” Bas Wie menjelaskan bagaimana ia bisa naik ke roda pesawat.”Ban mulai naik mendorong ke atas dan saya kehabisan ruang, ruangannya makin sempit dan sempit, tidak ada lagi tempat. Saya ingin berteriak tapi kemudian saya pikir percuma saja karena mereka tak akan mendengar.”
Pilot Angkatan Udara Belanda, Jan Sjouw, yang menerbangkan pesawat DC3 itu, saat bertemu kembali dengan Bas Wie, 32 tahun kemudian, mengatakan pesawat itu mengalami masalah selama penerbangan: Pemanas kabin tidak bekerja tapi ia terus saja melaju. Rupanya pemanas kabin terganggu dengan benda asing yang menerobos di rongga pesawat. Rupanya di situ terganjal tubuh Bas Wie. 
Jan Sjouw mengungkapkan keheranannya, sebelum mendarat di Darwin pesawat ini harus menunggu giliran untuk mendarat. Roda pesawat telah diturunkan sebelum waktunya pada ketinggian sekitar 1. 500 kaki.”Tetapi anak ini tidak jatuh,” ujarnya mengenang. 
Hari telah gelap ketika pesawat C-47 itu mendarat di landasan RAAF di Darwin. Petugas jaga malam itu Jim Fleming mengecek pesawat yang singgah itu. 
“Saya mengarahkan lampu senter ke atas dan tampak seorang anak, tergencet di dinding pemisah pesawat,” kata Jim Fleming, setelah pensiun sebagai Marsekal Madya Angkatan Udara. “Separuh tubuhnya terutama bagian belakangnya terbakar parah oleh knalpot pesawat di mana ia bersandar, sedangkan separuh tubuhnya membeku. Tapi benar-benar ia tidak sadarkan diri. Biji matanya sudah terbalik sehingga yang tampak hanya kedua bola matanya yang putih. Saya pikir dia sudah meninggal.”
Dalam keadaan tak sadarkan diri, sebagian tubuhnya terbakar dan luka besar menganga, Bas dilarikan ke rumah sakit.
Selama kurang lebih tiga bulan para dokter dan perawat di Rumah Sakit Darwin merawat anak yang kemudian dikenal oleh semua orang dengan julukan”The Kupang Kid.” 
Pemerintah Aus­tralia hampir saja memu­langkannya ke Timor sebagai imigran gelap, tetapi masyarakat kota membela Bas Wie. 
“Bagaimana pun anak itu telah berusaha memasuki Australia dengan susah payah. Kita hendaknya menghormati kehadirannya di tengah-tengah kita,” ujar mereka yang membela Bas Wie. Maka Bas Wie kecil pun tinggal di negeri itu bagai anak yang tidak diharapkan. Sampai tahun 1952, enam tahun ia berada di Darwin ia masih berada di lingkungan bandara, Sebagaimana dunianya sejak kecil, bekerja pada toko milik RAAF. Tetapi tempat tinggalnya masih belum tentu. Pemerintah Australia saat itu mempunyai kebijakan”keep Australia white” yang membatasi imigran Asia. 
Media Northen Standard melaporkan hal ketidak-pastian tinggalnya Bas Wie. Si anak Sabu itu menjadi topik di Australia. Masyarakat Kota Darwin tak hentinya mencecar Menteri Imigrasi dengan protes.”Anak dengan keberanian seperti itu,” kata salah satu pemrotes,”butuh dukungan.” 
Karena tekanan ini, pemerintah memberikan bocah ini sertifikat pengecualian selama setahun yang disebut Permit of Entry. Sertifikat yang dikeluarkan oleh Departemen Imigrasi ini harus diperbaharui tiap tahun dan kapan saja bisa dibatalkan oleh Kementrian Imigrasi. 
Ketika terjadi pergantian administratur, sepasang suami istri dari Kota Darwin mengadopsi Bas. Orang yang mengadopsinya itu adalah orang Inggris yang menikah dengan seorang perempuan native Australia dari Larrakia bernama Bertha Cubillo. Bertha adalah keturunan campuran Aborigin dan Filipina. Lima puluh delapan tahun kemudian, ketika ia diwawancarai Murray McLaughlin dari Radio Australian Broadcasting Corporation (ABC), Bas Wie mengaku, malam itu bahkan ia pun tak tahu ke mana pesawat itu akan berangkat. 
“Saya tak tahu ada negara lain di luar sana. Sungguh, dalam usia seperti itu, anda pasti mengerti,” katanya. 
 Nasib Bas tergantung pada tangan Menteri Imigrasi saat itu Arthur Calwell. Walaupun Calwell dikenal sebagai arsitek program migrasi Australia pasca perang, Calwell punya reputasi sebagai kelompok garis keras dalam parlemen Australia karena kegigihannya untuk mendeportasi orang Indonesia yang mencari suaka di Australia selama perang. 
Rupanya ketika Bas berada di rumah sakit, Administratur Darwin saat itu Arthur R Driver telah bernegosiasi dengan Menteri Calwell agar Bas tetap diperbolehkan tinggal di Darwin. Calwell setuju asalkan Bas berada di bawah pengawasan Driver. Driver sendiri memberinya tinggal di sebuah rumah penginapan milik pemerintah (Goverment House) dan ia disekolahkan. Sebagai balasanya, Bas bekerja di sekitar kediaman resmi sang administratur dan setiap hari Natal ia menghadiahi sang administratur dengan sebuah miniatur kapal laut dengan motif Sabu yang ia ukir sendiri. 
“Saya dirawat seperti anak mereka sendiri, dan bagi saya mereka seperti orang tua kandung saya, sangat baik”, kata Bas mengenang masa-masa bekerja di rumah Driver. 
Bas kemudian juga bekerja pada Eric Izod pemilik Izod Motor dan ia membayar sewa perumahan milik pemerintah itu dengan gajinya. Keberanian bocah 12 tahun dari Kupang ini menjadi headline di berbagai media seluruh dunia saat itu, bahkan sampai beberapa tahun setelah kejadian itu. Pada tgl 20 Juli 1951 Arthur R Driver telah meninggal, koran melaporkan tentang Bas yang diperkirakan berusia 16 tahun pada saat itu. Karena ketiadaan dokumen, usianya ditentukan dengan perkiraan. Ia kemudian bekerja sebagai klerk pada Commonwealth Works Department. Di sanalah pada usia 24 tahun ia bertemu seorang gadis cantik dari Perth bernama Margaret. Mereka bertemu pertama kali pada bulan Februari 1956 ketika Margaret bekerja sebagai seorang junior draftwoman pada bagian surat-surat masuk pada the Department of Works and Housing. 
“Ia membawa surat ke meja saya, mengantarnya secara khusus,” ujar Margaret.”Bagi saya, itu semacam cinta pada pandangan pertama.”
Setelah 18 bulan berpacaran, keduanya menikah di sebuah Gereja Katholik di Smith Street di mana Bas pernah bekerja sebagai seorang anak altar. Upacara pernikahan di gereja kecil ini, diikuti oleh resepsi terang bulan di halaman belakang rumah di Fannie Bay. 
Beberapa bulan setelah pernikahan mereka, tepatnya pada bulan July 1958 saat majalah Time melaporkan tentang Bas, sebuah keberuntungan lagi menghampiri hidup pemuda ini: ia akhirnya menerima permanent residence yang telah lama ia tunggu. Penerimaan ini merupakan sesuatu yang sangat langka dalam kebijakan imigrasi Australia saat itu yang sangat anti Asia. 
The Kupang Kid akhirnya menerima surat-surat naturalisasinya. “Kami bangga”, kata salah seorang pejabat seperti yang dilaporkan majalah Time,” mempunyainya sebagai seorang Australia.”
Majalah Time pun melaporkan tentang kisah ini pada  edisi 7 Juli 1958. Pada tahun 1978, Bas dan keluarganya menjadi topik utama dalam program TV This Is Your Life. 
Bas Wie dan istrinya Margareth kini telah pensiun dan mereka mempunyai lima anak serta tujuh orang cucu. Pada ulang tahun perkawinan mereka yang ke 70 pada tanggal 8 Desember 2007, wartawan Australia Daniel Bourchier menulis tentang pasangan ini dengan judul: “Kupang Kid marks a marriage half century.”
Sejarah hidup Bas Wie kini tertulis dalam sejarah Northern Territory. Cerita hidupnya adalah cerita seorang survivor yang hebat. Seperti katanya istrinya, Margaret:”Ia punya ketetapan hati yang besar untuk melakukan sesuatu yang telah ia tetapkan dalam pikirannya, dan sedikit semangat gambling, untuk mengambil resiko.”
Anak laki-laki Bas, Trevor, mengenang bagaimana ayahandanya menjawab jika orang menanyakan luka besar di punggungnya. Trevor mengingat pada tahun 1960-an di mana Darwin adalah tempat yang enak untuk bermain bola sambil bertelanjang dada. 
Saat bermain di lapangan, Trevor biasa mendengar anak-anak bertanya: 
“Mr Wie, Mr Wie. What’s that mark on your back?”
“Oh, a butterfly landed there.”, adalah satu-satunya jawaban yang biasa ia berikan, kenang Trevor. 
“Itulah Ayah” kenang Trevor.”Dihantam oleh sebuah ban yang berputar, diberkati oleh keberuntungan. Hangus di satu sisi, beku di sini lain. Selalu murah hati.”
“Saya tak pernah mendengarnya mengatakan sesuatu hal yang jelek tentang siapa pun. Orang-orang baik telah berjuang baginya agar ia tetap tinggal di Darwin.”
Menurut Trevor sikap Bas ini adalah bagian dari penghargaan Bas terhadap orang-orang baik yang telah berani melawan kebijakan ‘Keep Australia White’ pada masa itu untuk membela ayahnya agar tidak dideportasi. 
Ya, hanya mereka yang pernah merasakan kemurahan Allah yang begitu nyata dan besarlah yang selalu mensyukuri apa yang mereka punya tanpa mengeluh. Benar, sebuah kupu-kupu telah hinggap di pundakmu om Bas, dan itulah yang telah membuatmu menjadi seorang ayah, suami, kakek yang membanggakan.”Selalu murah hati” seperti kata anakmu. Ketika itu hampir semua media di dunia memuat sensasi Bas Wie dan Arsip Nasional Australia menyimpan ratusan halaman dokumen berkaitan dengan kasus Bas ini. 
Polyn Bunga Lay keponakannya yang mengunjunginya di Panti Jompo mengatakan Bas Wie masih mampu mengenal ia dan ibunya, bahkan berbicara dalam bahasa Sabu bahasa ibunya. 
[Dirangkum dari berbagai sumber: Peter Apollonius Rohi -facebook, - Matheos Victor Mesakh, Leiden, Belanda, -Kompas. Com, - dan kliping dari Esterlina Uly, Darwin, Australia. http://www.ntnews.com.au, -http://www.abc.net.au/tv/canwehelp/txt/s1855680.htm]


ketika dikunjungi keluarga BUNGA LAY dipanti Jompo Darwin Australia pada 5 Januari 2015