Translate

Rabu, 11 Agustus 2010

Sejarah MS 13, Geng Paling Berbahaya Di Amerika



Geng MS-13 , alias Mara Salvatrucha 13, adalah salah satu geng paling berbahaya di Amerika Serikat - dan salah satu yang paling terorganisir. Geng MS-13 memiliki geng-geng kecil, atau kelompok, yang terletak di seluruh Amerika Serikat dan unik karena memiliki ikatan dengan rekan-rekan El Salvador. Dengan geng-geng di Washington DC, Oregon, Alaska, Arkansas, Texas, Nevada, Utah, Oklahoma, Illinois, Michigan, New York, Maryland, Virginia, Georgia, Florida, Kanada, El Salvador, Guatemala, Meksiko, dan beberapa negara Amerika Selatan lainnya , MS-13 menjadi geng yang benar-benar "internasional" dan menjadi kelompok pertama yang akan dikategorikan sebagai "kejahatan terorganisir" entitas.
 
Seperti geng-geng yang lainnya, MS-13 ("La Mara"), adalah sebuah nama jalan di El Salvador dan "13th Street" di Los Angeles. Geng ini awalnya berada di El Salvador dan terdiri dari para gerilyawan yang berperang di El Salvador saat terjadi perang sipil. Ketika perang akan berakhir, operasi geng pindah ke dekat Honduras. Di Honduras, di mana keanggotaannya mencapai 36.000, geng ini terus berkembang dan berkuasa dan memakssa pemerintah Honduras untuk memberikan tindakan keras pada semua kelompok. Pemerintah Honduras bahkan mengesahkan undang-undang yang ditujukan khusus untuk menyerbu geng-geng dan kejahatan terorganisir.
 
Dengan operasi bernama "Lengan Kuat", pemerintah Honduras berhasil menahan lebih dari 4.000 anggota geng pada tahun 2003, semata-mata karena mereka memakai warna tato atau dikenal geng. Di bawah hukum Honduras , anggota geng dapat dipenjara hingga 12 tahun jika mereka adalah pemimpin dan 9 tahun untuk anggota geng. wilayah kekuasaan mereka hampir seluruh wilayah benua Amerika.

Selasa, 10 Agustus 2010

ASCLEPIOS SIMBOL KEDOKTERAN

ASCLEPIOS, Dewa Pengobatan & Penyembuhan

(Simbol Kedokteran)


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEikH_0Lzt8vDaFVzhh-7iOUi7MyjJyNYui8ZeL8ioECBcXIPxQ-UpT0kf6sctUSVxLnJYN1Nm67Ye6D5_SwYja8WFnn5ffreh0VMz40-9TU2EdSUuGXLZ4NvmykrQP4-NGqBQ8W0Lf3J_g/s1600/Asclepius+2.jpg
           
ASCLEPIOS adalah seorang ilmuwan/dokter dari Yunani yang kemungkinan hidup pada tahun 1200 SM. Asclepios digelari sebagai God of Healing (Dewa Penyembuh) karena kemampuan yang dimilikinya dalam menyembuhkan orang sakit. Ia beroleh pendidikan kedokteran dari Cheiron (seorang Centaur) dan dikaruniai kemampuan untuk menyembuhkan (healing) serta membangunkan orang mati. Tongkat Asclepios dijadikan simbol kedokteran layaknya Tongkat Hermes.
       
Asklepios adalah dewa pengobatan dan penyembuhan dalam mitologi Yunani. Asklepios mewakili aspek penyembuhan dari seni pengobatan, sementara putri-putrinya Hygieia, Meditrinia, Iaso, Aceso, Aglaea/Egle dan Panacea melambangkan kekuatan dari kebersihan, obat, dan penyembuhan. Dalam mitologi Romawi dia dinamakan sebagai Vediovis.
             
Dia adalah anak dari Apollo dan Coronis. Ibunya dibunuh karena berselingkuh dan jasadnya dibakar, tapi anak yang sedang dia kandung diselamatkan dari rahimnya. Dari sini dia mendapat nama "Asklepios" (membedah). Apollo membawa bayi itu dan memberikannya kepada seekor Centaur bernama Cheiron yang membesarkan Asklepios dan mengajarinya seni pengobatan.

Dalam perjalanan karirnya, Asclepios mendirikan kuil yang disebut Asclepions (Asclepieia). Orang-orang sakit datang dan mendapat pengobatan di kuil tersebut. Mereka dilayani oleh para Asclepiadae (murid-murid Asclepius) serta menyerahkan persembahan kepada dewa atas kesembuhan yang mereka peroleh. Pada kuil tersebut juga terdapat banyak ular jinak yang dipelihara sebagai wujud penghormatan kepada Dewa.
           
Asklepios menikah dengan Epione, dan mempunyai enam putri: Hygieia, Meditrina (pembawa ular), Panacea, Aceso, Iaso, dan Aglaea, dan tiga putra: Machaon, Podaleirios dan Telesphoros. Dia juga mempunyai anak bersama Aristodama bernama Aratus. Nama dari putri-putrinya secara transparan menggambarkan tema "kesehatan yang baik".
            
Zeus membunuh Asklepios dengan petir karena dia membangkitkan orang mati dan menerima bayaran untuk itu. Cerita yang lain mengatakan Asklepios dibunuh setelah membangkitkan orang mati, dan Hades berpikir jika itu terus terjadi, maka tidak ada lagi arwah yang tertinggal di dunia bawah, jadi dia meminta saudaranya, untuk melenyapkannya. Hal ini membuat Apollo marah, yang kemudian membunuh para Kiklops yang membuat petir untuk Zeus. Akibatnya, Zeus kemudian mengusir Apollo dari langit malam dan memerintahkannya melayani Admetus, Raja Thessaly. Setelah kematian Asklepios, Zeus menempatkan Asklepios di antara bintang-bintang sebagai rasi bintang Ophiuchus (Si Pembawa Ular).


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgrZ8HqCzz6rY-DcF4D5E07BD9aF2CXYtFatnAqut-Rm_31vSTlATxtkQHxdelJbrGA8kk97Z77waBA6035M6pbK3w17mbBbT5zsW0-U6lMDQsV4kHt5F61tjqbcIFHLg2-N7bhyphenhyphenJ2Srjk/s1600/Tongkat+asclepius.jpg

Senin, 09 Agustus 2010

Hermes Dewa Pembawa Pesan Sebagai Simbol Kedokteran

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj0sXiKdiQEbiNtvgLnpOYs5tDjTi5pzgXMgyBgcp3X9ONjs6_HfO21JUjgcNtrb-w6VoXqTmw8Mz1NwjMFpSgqYw2cbqokB3Aj0qFo7Xrpowz_XMemMA92ffHCHB8QgT0O5rxolSTgbLQ/s1600/hermes-image.jpgHermes adalah Dewa Pembawa Pesan dalam mitologi Yunani. Hermes dilahirkan di gunung di Arkadia. Hermes adalah anak dari Zeus dan Maia, dan merupakan salah satu dewa Olympus. Berbeda dengan Asclepios yang disebut sebagai Dewa Pengobatan/ Penyembuhan, Hermes adalah pelindung daerah perbatasan, para pengelana, gembala, pencuri, penipu, orator, sastra dan puisi, olahraga, pengukuran, penemuan, dan perdagangan. Tongkat Hermes yang bernama Kadukeus juga digunakan sebagai simbol atau lambang kesehatan layaknya Tongkat Asclepius. Padahal Hermes sendiri tidak memiliki latar belakang sebagai pemberi pengobatan atau penyembuh. Bagaimana Tongkat Hermes dapat menjadi simbol kedokteran?
          
Simbolnya meliputi kura-kura, ayam jantan, sandal bersayap, topi bersayap, dan Kadukeus (tongkat yang dia dapat dari Apollo atas penemuan Lira). Dalam mitologi Romawi, Hermes dikenali sebagai Merkurius, Dewa Perdagangan yang diadaptasi dari mitologi Etruska.

          
Selain menemukan Lira, Hermes juga dipercaya menemukan berbagai jenis olahraga seperi gulat, balap dan tinju sehingga dianggap sebagai Dewa Atletik. Hermes melidungi para olahragawan dan membantu atlet yang terluka. Para pelancong juga memberikan persembahan pada Hermes sebelum bepergian supaya perjalanan mereka aman.
         
Sebagai Dewa Pembawa Pesan, Hermes bertugas mengantarkan pesan dari para dewa di Olympus kepada manusia. Dia mengenakan sandal bersayap dalam menjalankan tugasnya. Tugas membawa pesan juga dilakukan oleh Dewi Iris.
          
Hermes juga bertugas membantu para roh menemukan jalan menuju dunia bawah. Hermes adalah salah satu dewa yang bisa dengan bebas keluar-masuk dunia bawah tanpa halangan, dewa lainnya yang bisa melakukan hal tersebut adalah Hades, Persefone, Hekate, dan Thanatos.
          
Hermes adalah dewa termuda kedua di antara dewa Olympus setelah Dionisos. Pada malam setelah dia lahir, dia mencuri ternak milik Apollo. Hermes berhubungan dengan Aphrodite dan memiliki anak bernama Hermaphroditos.

Minggu, 09 Mei 2010

Renungan Kecil Sebagai Anggota DPRD




PANGGUNG politik Pemilu Legislatif 2009-2014 di Sabu Raijua resmi telah selesai. Semua anggota terpilih sudah mengucapkan sumpah dan janji, bahkan telah pula dilakukan pengisian anggota DPRD Sabu Raijua.

Maknanya, sebagai para politisi pilihan rakyat, kita segera akan unjuk gigi mempertontonkan kebolehan. Perjuangan melelahkan yang telah menyita banyak waktu, tenaga, pikiran dan juga fulus, untuk menjadi anggota dewan yang terhormat, telah sampai pada titik kulminasi. Wajar bila ada ucapan syukur, karena terpilih dari sekian banyak Calon Anggota Legislatif yang mengikuti pertarungan memperebutkan kursi.



Namun perjuangan yang sesungguhnya, membela kepentingan rakyat, mengagregasi dan mengartikulasikan aspirasi rakyat yang diwakili, baru memasuki langkah pertama. Ke depan, sang waktu akan terus berlalu hari demi hari tak kenal kata kompromi. Sebagai anggota Dewan - seperti lirik lagu Mbah Surip - kita akan menggendong kemana-mana status sosial sebagai wakil rakyat; pagi, siang, tengah malam, bangun tidur sampai tidur lagi, kemana pun kita pergi, status itu akan terus melekat. Rakyat akan mulai melakukan penilaian, bagi siapa yang siap fisik dan mental untuk naik panggung, mereka akan memperoleh keterhormatan dari masyarakat, bagi yang tidak siap, kelak akan turun tanpa keterhormatan.

Panggung politik adalah sebuah kehidupan publik tanpa tabir. Kehidupan baru yang dimasuki anggota Dewan, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, adalah sebuah kehidupan dimana transparansi menjadi sebuah keniscayaan. Gedung DPRD secara fisik boleh berdinding beton tebal, tapi dalam imajinasi publik, rumah rakyat itu ibarat rumah kaca tembus pandang.

Barangkali itu terlalu ekstrim. Tapi kita memang tak lagi bisa memutar mundur jarum jam. Masyarakat kita sudah terlanjur melek politik, masyarakat telah tumbuh menjadi sangat kritis, bahkan cenderung skeptis. Akibatnya, hampir semua fungsi pemerintahan yang mengandung elemen kekuasaan - sekecil apapun - selalu sangat terbuka terhadap kecurigaan.

Sikap curiga masyarakat tidak sepenuhnya salah. Sikap itu tumbuh justru akibat perilaku kita sebagai para elit politik dan birokrasi itu sendiri yang seringkali dirasakan kurang cerdas mengakomodasi aspirasi kebutuhan rakyat. Kesulitan rakyat sering tak teratasi secara konsepsional. Solusi, ada kalanya mengandung pula muatan kepentingan. Dalil Lord Acton agaknya benar, kekuasaan cenderung disalah gunakan. Kekuasaan cenderung korup.

Pada bagian lain, sebagai pengambil keputusan, kita adakalanya mencari jalan pintas mudah, meminta rakyat berdo'a saja untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Jelas itu tidak menyalahi. Sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan, berdoa tidak perlu disuruh atau bahkan dimobilisasi. Dengan atau tanpa pemerintah pun rakyat selalu berdo'a siang malam. Tapi pertama-tama yang harus dilakukan sebelum menyalahkan alam dan kemudian angkat tangan, sebagai pemangku kekuasaan, kita terlebih dahulu harus menggunakan akal sehat dengan memanfaatkan instrumen ilmu pengetahuan dan menggerakkan seluruh potensi yang ada.

Hal inilah agaknya yang sampai hari ini belum kita lakukan sungguh-sungguh, sebab apa yang tahun-tahun lalu sudah merupakan masalah, tahun ini masih harus kita hadapi juga sebagai masalah. Kita lupa petuah orang-orang tua, dimana ada kemauan di situ ada jalan.
Tidak bisa dipungkiri, banyak orang berharap dengan terbentuknya DPRD Sabu Raijua akan membawa banyak perubahan mendasar. Harapan yang tinggi disangkutkan di pundak DPRD. Masyarakat akan mulai melihat, dan sekaranglah saatnya momentum bagi DPRD untuk memuaskan harapan masyarakat. Keterbukaan semakin terjamin dan hampir tak ada lagi celah bagi pemangku kekuasaan untuk menyalah gunakan kekuasaannya dengan adanya pengawasan dari DPRD. Itu dalam tataran konsep tata berpemerintahan yang logis.

Namun, rising expectation (meningkatnya nilai harapan) bisa jadi dilema. Tanggungjawab wakil rakyat mengharuskan kita memperjuangkan aspirasi rakyat dengan gigih. Benturan adu pendapat antara wakil rakyat di panggung politik yang selalu berlindung di bawah aspirasi rakyat dengan para pemangku kekuasaan yang selalu menggunakan pendekatan kesisteman dalam memberikan justifikasi terhadap kebijakannya, tak akan terhindarkan. Bukan hanya itu, adakalanya banyak pula "PENUMPANG" yang turut memperkeruh suasana, hanya untuk sekedar mencari kesempatan memancing di air keruh. Benturan sering menimbulkan stagnasi dan ini bisa memicu AGRESIVITAS.

Kompromi atau negosiasi sebagai jalan tengah bisa menyesatkan, tapi bernegosiasi untuk kepentingan rakyat juga bukan hal tabu. Di sinilah uji nyali terjadi. Ungkapan John F. Kennedy dalam pidato pengukuhannya sebagai Presiden AS ke-35, pada 1961, menarik untuk dicermati. "Ketulusan selalu perlu dibuktikan. Jangan pernah bernegosiasi karena kita merasa takut. Tapi janganlah pula kita merasa takut bernegosiasi." Ujar Kennedy. "Tidak banyak ruang tersedia bagi orang-orang pengecut."

"Keberanian adalah anugerah di bawah tekanan", kata sastrawan Ernest Hemingway. Dan tekanan bagi anggota dewan tak akan pernah surut, bahkan intensitasnya akan meningkat. Baik dari internal (sesama anggota dewan maupun parpol induk nya), maupun dari luar (pemerintah atau masyarakat itu sendiri yang ditunggangi kepentingan politik tertentu). Namun betapa dilematis pun posisinya, wakil rakyat memang harus berani berpihak pada rakyat, entah siapa pun lawannya...
SEMOGA TUHAN MENOLONG KAMI !!!

https://www.facebook.com/notes/vecky-adoe/renungan-kecil-anggota-dprd/410330278981018