Translate

Sabtu, 29 Oktober 2011

Perempuan Sabu Menulis Sejarah Melalui Motif Tenun



Banyak kali menulis dipahami sebagai ketrampilan yang hanya memakai kertas dan tinta. Sebenarnya menulis adalah upaya manusia untuk mengekspresikan gagasan dalam berbagai bentuk. Perempuan Sabu menulis sejarah hidupnya, keluarga, dan kelompok/marga, bahkan masyarakat dan lingkungannya, melalui motif sarung untuk perempuan dan selimut bagi laki-laki. Motif tenun menjadi simbol sejarah perempuan Sabu yang berisi banyak cerita tentang tuturan pengalaman perempuan (tentang anak sulung dan anak bungsu, yang pertama kalinya melahirkan motif, dengan sifat-sifatnya, seksnya, cara hidupnya, pandangan hidup, spirit hidupnya); tentang hubungan masyarakat dengan lingkungan (sebagaimana tercermin dalam motif daun asam, sayur laut, warna tanah, binatang, pangan, rumah); dan seterusnya. Penempatan warna dan motif menjadi dokumentasi sejarah tertentu yang diwariskan kepada generasi berikut melalui pengajaran perempuan kepada perempuan. Ada tiga cara pengajaran ini diwariskan. Bisa pada saat kematian perempuan, perempuan tua yang memiliki pengetahuan mengenai motif tenun clan sendiri menceritakan sejarah motif serta makna motif. Cara kedua adalah selama proses menenun, guru pertama, yaitu mama, mengajar anak-anak perempuan cara menenun, termasuk pilihan dan penempatan warna, motif kecil dan besar, sekaligus mengenai sejarah dan makna motif. Cara ketiga adalah orang dapat belajar dari motif tenun itu sendiri.

Perubahan budaya lisan ke budaya tulisan menyebabkan kita kehilangan kemampuan untuk membaca pesan asli dalam simbol sejarah perempuan melalui motif tenun. Tradisi penerusan budaya perempuan melalui cerita lisan mulai lemah, bahkan tuturan sekitar karya tenun ini hampir tidak lagi diminati oleh generasi saat ini. Penciptaan pakaian oleh pabrik menggeser peranan tenunan dalam kehidupan keseharian masyarakat Sabu, sehingga nilai-nilai yang dipesankan dalam motif tenun terkesan mulai diabaikan. Kepintaran diukur berdasarkan tingkat pendidikan formal, termasuk kemampuan membaca dan menulis di atas kertas. Kepintaran menenun dan memahami makna motif tidak diakui sebagai sumber ilmu. Meskipun demikian, masih ada perempuan Sabu yang setia memelihara tradisi menenun sebagai warisan berharga dari pendahulunya. Salah satu dampak dari ini adalah di antara perempuan mungkin ada yang mengerjakan karya ini hanya sebagai sebuah tugas rutin perempuan tanpa memahami nilai-nilai yang terdapat dalam setiap helai benang dan warnanya, atau yang terdapat dalam motif besar dan kecil, atau tanpa memahami peraturan terkait cara berpakaian untuk setiap kebutuhan.

Dinamika perubahan yang terjadi pada masyarakat Sabu, juga mulai berdampak pada beberapa pergeseran memaknai budaya Sabu pada generasi sekarang. Perubahan ini berdampaknya juga terhadap motif tenun, yaitu, paten motif tidak lagi dilindungi di mana keturunan clan perempuan sulung dan bungsu saja yang diizinkan memakainya, tetapi sekarang sudah dijual secara bebas dan dipakai bebas. Orang juga sekarang menenun motif yang seharusnya dipelihara itu tanpa izin dari keturunan yang menjadi pemilik asli motif. (Namun tentunya terhadap argumen ini masih terbuka ruang utk diperdebatkan/didiskusikan).

Supaya kita tidak salah menafsir sejarah hidup yang ditulis perempuan Sabu lewat motif tenun, maka saya coba menguraikan sedikit sejarah tersebut secara tertulis sebagai bagian dari upaya pelestarian tradisi mereka, tentunya berdasarkan yg saya tahu dari berbagai cerita dan referensi. (Mohon dikoreksi oleh saudara-saudara yang tentunya lebih tahu dan paham soal ini. Saya sekedar hanya pengen berbagi).

Masyarakat Sabu mengenal genealogisnya menurut garis keturunan ibu dan ayah. Garis keturunan ayah disebut clan (udu) dan garis keturunan ibu disebut mayang (hubi).
Di Sabu ada lima wilayah adat dan secara adat clan laki-laki biasanya menguasai di wilayah adat tertentu, sedangkan clan perempuan melintasi batas wilayah melalui perkawinan. Dengan demikian motif-motif tenun terdapat di seluruh wilayah adat Sabu dan tidak terbatas pada wilayah tertentu.

Garis Keturunan Perempuan

Legenda menceritakan asal muasal garis keturunan perempuan Sabu yang berawal dari dua orang perempuan, yakni Mudji Babo dan Lou Babo. Mudji adalah sulung dan Lou adalah adik/bungsu. Muji Babo dikenal sebagai anak yang rajin bekerja dan menenun, sedangkan adiknya Lou, manja dan malas bekerja. Mudji Babo mengadakan pameran hasil kerjanya sambil menghina Lou Babo sebagai orang yang tidak mempunyai apa-apa dan malas. Hari pameran mendekat, Mudji Babo mulai mengikat tali panjang untuk menggantungkan hasil tenunannya, sambil menyindir adiknya. Dalam keadaan 'tertekan', Lou Babo hanya bisa memilih dan mengumpulkan biji kapas dalam wadah-wadah anyaman. Hari pameran dibuka, Mudji Babo telah memamerkan tenunannya, sedangkan Lou Babo menjadi heran sebab ketika wadah biji kapas itu dibuka, ternyata bukan biji kapas melainkan telah berubah menjadi lembaran–lembaran sarung.

Sekali waktu, menurut legenda yang diceritakan, pernah ada perkelahian besar di antara Mudji Babo dan Lou Babo, sebab Lou jengkel dihina terus-terusan oleh kakaknya, sedangkan Mudji sangat cermburu terhadap adiknya, karena tanpa bekerja keras ia masih dapat menghasilkan banyak tenunan. Pada saat berkelahi, orang tua mereka menyuruh mereka harus membagi peralatan tenun. Sejak itu Mudji dan Lou sepakat untuk membagi peralatan tenunan, yang Dilakukan secara simbolis dengan pembagian sari nila untuk pewarnaan benang yang diambil dari satu periuk. Mudji Babo menimba air nila bagian atas dan terbanyak untuk dirinya sebab dianggap lebih banyak itu lebih baik, sedangkan air nila sisa dalam periuk untuk Lou Babo. Yang tidak disadari oleh Mudji Babo adalah air nila sisa yang di bawah periuk adalah yang paling bermutu sehingga Lou Babo yang diuntungkan dari sikap Mudji Babo. Dan inilah yang menjadi dasar pembagian motif, sekaligus pembagian 'mayang' perempuan di Sabu. Karena Mudji Babo mengambil air nila lebih banyak, maka dia beserta keturunannya ditetapkan sebagai pemilik motif mayang besar (hubi ae). Lou Babo, karena memperoleh air nila sedikit, dengan seluruh keturunannya dinyatakan sebagai pemilik motif mayang kecil (hubi iki).

Legenda ini menjadi dasar pembagian genealogis yang disimbolkan melalui motif sarung. Tradisi pemilikan motif secara geneologis nampak pada peristiwa pernikahan dan kematian. Seorang perempuan dari mayang besar (hubi ae) atau mayang kecil (hubi iki), saat meninggal akan memakai sarung dengan motif menurut asal genealogisnya. Motif tenun diberi nama seorang perempuan, entah itu pencipta motif atau tokoh perempuan Sabu (misalnya, Motif Pudilla), nama yang terkait peristiwa sejarah tertentu (misalnya, Motif Piri Ga Lena), atau nama lingkungan alam (misalnya, Motif Wo Boi).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar