Translate

Senin, 02 Maret 2015

ISHAK ROHI LOBO, ORANG SABU YANG DUDUK DALAM PERUNDINGAN PEMBENTUKAN NKRI

Pada awal pembentukan negara ini nama I. R. Lobo sangat dikenal. Muncul bagai ayam jantan dari selatan, Lobo berbicara di rapat-rapat umum, di rapat KNIP (sekarang parlemen).

Pada Ensiklopedia Indonesia 1955 tertulis, Lobo lahir di Pulau Sabu, tetapi ia berjuang di Jawa Tengah pada masa revolusi, mendirikan Batalyon Paradja di Yogja sebagai wadah pemuda-pemuda NTT dalam pengabdian semasa revolusi.

Batalyon ini bagian dari Divisi Sunda Kecil pimpinan Ngurah Rai. Perwira-perwira Batalyon Paradja adalah Frans Seda, Prof. Ir. Herman Johannes, Hendrik Rade, Jermias Henuhili, Letnan Fernandez (ketiga yang terakhir dari Kompi Berani Mati yang tewas pada pertempuran di Wates. 

Lobo sempat mendirikan Kantor Doane (cikal bakal Dir. Bea Cukai RI) di Magelang. Dengan begitu dapat dikatakan dia adalah Dirjen Bea Cukai RI yang pertama. Perannya sebagai anggota KNIP adalah ikut menyusun politik luar negeri bebas aktif (baca dokumen KNIP), serta ditunjuk Presiden Soekarno untuk duduk dalam delegasi RIS pada perundingan pembentukan NKRI, setelah negara-negara federal dibubarkan (baca: Indonesia dalam Arus Sejarah jilid 6 hal. 470, dan jilid 7 hal. 21). 


Ketua delegasi RIS adalah Prof. Dr. Mr. Soepomo, dengan anggota Ishak Rohi Lobo, Mr. M. Kosasih Purwanegara, Mr. A. M. Tambunan, Teuku Moh. Hassan, B. Sahetapy Engel, dan Mr. A. W. Surjodiningrat. 


Sosok I R Lobo atau dikenal dengan nama panggilan Cak Lobo nikah dengan seorang perempuan Yahudi, terakhir menetap di Ungaran, Semarang. Ia meninggal tahun 1970-an. 

Singa podium itu kini telah tiada tanpa meninggalkan keturunan. Sama halnya dengan Martin Paradja dan Julian Hendrik, ia seakan dilupakan sejarah bahkan di kampung halamannya sendiri.


Nama-nama jalan protokol di NTT didominasi orang-orang baru yang tidak ikut revolusi, kecuali El Tari sebagai nama jalan dan lapangan terbang, serta monumen Letnan Fernandes di Larantuka. Juga nama Frans Seda diagungkan di Maumere. Tetapi baik El Tari, baik Frenandez dan Frans Seda adalah anak buah I R Lobo pada masa revolusi.

Orang Kuat Bas Wie, Gandol Pesawat RAAF Kini Hidup di Panti Jompo

Orang Kuat Bas Wie, Gandol Pesawat RAAF Kini Hidup di Panti Jompo

Bas Wie diatas roda pesawat ketika rekontuksi oleh majalah TIME
Laras Post Online - Perang Dunia II baru saja berakhir. Seluruh dunia sedang sibuk dengan berita-berita yang mengikuti perang seperti soal perlucutan senjata, perundingan dan perdamaian dunia, tawanan perang, bom atom, pembagian baru wilayah yang diduduki selama perang. Tiba-tiba sebuah selingan terjadi bagai intermezo di antara berita panas dunia. Seorang anak kecil berusia 16 tahun. Tak urung lagi, peristiwa itu menjadi headline semua koran dan radio di seluruh dunia. 
Siapa si anak kecil itu? Orang Jepang memanggilnya Ichi Rohi, artinya anak sulung. Begitulah si anak nakal Bas Wie dikenal serdadu Jepang ketika masa pendudukan di Pulau Timor. Menurut Ibu Oni Tanya Uly, Ichi Rohi termasuk beruntung, karena kenakalannya pernah membuat tentara Jepang marah. “Kalau saja dia bukan anak kecil 10 tahun, dia sudah dibunuh Jepang,” ujar Ibu Ony. Bas Wie pernah ikut bersama keluarga mereka, tapi tidak lama. 
Saat itu, bulan Agustus tahun 1946, Perang Dunia II baru saja berakhir. Pulau Timor diduduki tentara Sekutu dari sebuah kontingen khusus militer Australia yang disebut Tim Force bertugas di Kupang, ibu kota Pulau Timor. 
Bas Wie, memang sudah akrab dengan lapangan terbang. Pada masa sebelumnya ia menjadi tukang cuci piring di dapur bandara Penfui, Kupang. Sekarang lapangan terbang itu dinamakan Bandara El Tari. Ia adalah anak yatim dari Pulau Sabu yang bernama Sabu Wie Dara, merasa dirinya ditolak di mana-mana. Wajar saja bila tiap saat dia melihat pesawat terbang take off, dia langsung berkhayal. Ingin pergi jauh, terbang bersama pesawat itu, entah ke mana. Baginya yang penting segera bisa meninggalkan kehidupan yang keras yang selalu menderanya tiap hari. 
Keramahan tentara Australia yang datang melucuti tentara Jepang bagi Bas Wie merupakan kesempatan tersendiri. Ia merasakan keramahan tentara Australia dari mana ia memperoleh pepermen, atau bola yang sulit diperoleh anak-anak semacam dia ketika itu. Kadang-kadang ia diberi daging, membawanya di jeep atau truck berkeliling. 
Suatu malam tidak sengaja ia mendengar percakapan di hall bandara. Pesawat Angkatan Udara Belanda C-47 yang sedang parkir di luar akan berangkat ke Australia. Spontan ia mendapat ide. 
“Nah, bagaimana kalau ikut terbang bersama pesawat itu,” ujarnya dalam hati. Ia mencoba menyelinap, tetapi pintu pesawat terkunci. Tiba-tiba ia menemukan dua rongga nacelle yang menutup ban pesawat jika pesawat telah tinggal landas.”Nah, ini dia.” Ia memanjat, berjongkok di atas salah satu rongga itu, di mana cukup untuk tubuhnya bersembunyi. Dengan was-was ia berharap tidak ditemukan petugas bandara. 
Beberapa menit kemudian para crew masuk ke pesawat, menghidupkan dan pesawat pun bergerak. Saat pesawat menyapu landasan pacu, mimpi buruk Bas Wie pun dimulai. Pipa knalpot menyemburkan api orange. Pendingin baling-baling mengoyak-ngoyak kemeja tipisnya. Tapi ia harus menyelamatkan dirinya dari asap mesin. Ia pun bergeser ke satu-satunya tempat di mana ia bisa selamat, yaitu sebuah ruang berukuran 10 x 20 inchi yang berada di antara tangki bahan bakar dan pipa knalpot. 
Ban pesawat yang mulai masuk menjepit dirinya dan tuas besi penggerak masuk dan keluarnya roda menghimpit bahunya. Berdarah. Tubuhnya sekaligus hangus oleh api dan kedinginan oleh angin lautan yang menderu. Ia merintih, lalu pingsan. Selama tiga jam tubuhnya terjepit dalam rongga roda yang menjepitnya demikian erat sehingga tubuhnya bahkan menempel bagai cecak di langit-langit, bahkan tidak jatuh saat pesawat digerakan keluar untuk mendarat. Para crew menemukannya ia ”tertempel” di rongga dan tampaknya hampir mati. 
“Tak ada yang melihat, saya langsung melompat ke atas dan bergelantungan,” Bas Wie menjelaskan bagaimana ia bisa naik ke roda pesawat.”Ban mulai naik mendorong ke atas dan saya kehabisan ruang, ruangannya makin sempit dan sempit, tidak ada lagi tempat. Saya ingin berteriak tapi kemudian saya pikir percuma saja karena mereka tak akan mendengar.”
Pilot Angkatan Udara Belanda, Jan Sjouw, yang menerbangkan pesawat DC3 itu, saat bertemu kembali dengan Bas Wie, 32 tahun kemudian, mengatakan pesawat itu mengalami masalah selama penerbangan: Pemanas kabin tidak bekerja tapi ia terus saja melaju. Rupanya pemanas kabin terganggu dengan benda asing yang menerobos di rongga pesawat. Rupanya di situ terganjal tubuh Bas Wie. 
Jan Sjouw mengungkapkan keheranannya, sebelum mendarat di Darwin pesawat ini harus menunggu giliran untuk mendarat. Roda pesawat telah diturunkan sebelum waktunya pada ketinggian sekitar 1. 500 kaki.”Tetapi anak ini tidak jatuh,” ujarnya mengenang. 
Hari telah gelap ketika pesawat C-47 itu mendarat di landasan RAAF di Darwin. Petugas jaga malam itu Jim Fleming mengecek pesawat yang singgah itu. 
“Saya mengarahkan lampu senter ke atas dan tampak seorang anak, tergencet di dinding pemisah pesawat,” kata Jim Fleming, setelah pensiun sebagai Marsekal Madya Angkatan Udara. “Separuh tubuhnya terutama bagian belakangnya terbakar parah oleh knalpot pesawat di mana ia bersandar, sedangkan separuh tubuhnya membeku. Tapi benar-benar ia tidak sadarkan diri. Biji matanya sudah terbalik sehingga yang tampak hanya kedua bola matanya yang putih. Saya pikir dia sudah meninggal.”
Dalam keadaan tak sadarkan diri, sebagian tubuhnya terbakar dan luka besar menganga, Bas dilarikan ke rumah sakit.
Selama kurang lebih tiga bulan para dokter dan perawat di Rumah Sakit Darwin merawat anak yang kemudian dikenal oleh semua orang dengan julukan”The Kupang Kid.” 
Pemerintah Aus­tralia hampir saja memu­langkannya ke Timor sebagai imigran gelap, tetapi masyarakat kota membela Bas Wie. 
“Bagaimana pun anak itu telah berusaha memasuki Australia dengan susah payah. Kita hendaknya menghormati kehadirannya di tengah-tengah kita,” ujar mereka yang membela Bas Wie. Maka Bas Wie kecil pun tinggal di negeri itu bagai anak yang tidak diharapkan. Sampai tahun 1952, enam tahun ia berada di Darwin ia masih berada di lingkungan bandara, Sebagaimana dunianya sejak kecil, bekerja pada toko milik RAAF. Tetapi tempat tinggalnya masih belum tentu. Pemerintah Australia saat itu mempunyai kebijakan”keep Australia white” yang membatasi imigran Asia. 
Media Northen Standard melaporkan hal ketidak-pastian tinggalnya Bas Wie. Si anak Sabu itu menjadi topik di Australia. Masyarakat Kota Darwin tak hentinya mencecar Menteri Imigrasi dengan protes.”Anak dengan keberanian seperti itu,” kata salah satu pemrotes,”butuh dukungan.” 
Karena tekanan ini, pemerintah memberikan bocah ini sertifikat pengecualian selama setahun yang disebut Permit of Entry. Sertifikat yang dikeluarkan oleh Departemen Imigrasi ini harus diperbaharui tiap tahun dan kapan saja bisa dibatalkan oleh Kementrian Imigrasi. 
Ketika terjadi pergantian administratur, sepasang suami istri dari Kota Darwin mengadopsi Bas. Orang yang mengadopsinya itu adalah orang Inggris yang menikah dengan seorang perempuan native Australia dari Larrakia bernama Bertha Cubillo. Bertha adalah keturunan campuran Aborigin dan Filipina. Lima puluh delapan tahun kemudian, ketika ia diwawancarai Murray McLaughlin dari Radio Australian Broadcasting Corporation (ABC), Bas Wie mengaku, malam itu bahkan ia pun tak tahu ke mana pesawat itu akan berangkat. 
“Saya tak tahu ada negara lain di luar sana. Sungguh, dalam usia seperti itu, anda pasti mengerti,” katanya. 
 Nasib Bas tergantung pada tangan Menteri Imigrasi saat itu Arthur Calwell. Walaupun Calwell dikenal sebagai arsitek program migrasi Australia pasca perang, Calwell punya reputasi sebagai kelompok garis keras dalam parlemen Australia karena kegigihannya untuk mendeportasi orang Indonesia yang mencari suaka di Australia selama perang. 
Rupanya ketika Bas berada di rumah sakit, Administratur Darwin saat itu Arthur R Driver telah bernegosiasi dengan Menteri Calwell agar Bas tetap diperbolehkan tinggal di Darwin. Calwell setuju asalkan Bas berada di bawah pengawasan Driver. Driver sendiri memberinya tinggal di sebuah rumah penginapan milik pemerintah (Goverment House) dan ia disekolahkan. Sebagai balasanya, Bas bekerja di sekitar kediaman resmi sang administratur dan setiap hari Natal ia menghadiahi sang administratur dengan sebuah miniatur kapal laut dengan motif Sabu yang ia ukir sendiri. 
“Saya dirawat seperti anak mereka sendiri, dan bagi saya mereka seperti orang tua kandung saya, sangat baik”, kata Bas mengenang masa-masa bekerja di rumah Driver. 
Bas kemudian juga bekerja pada Eric Izod pemilik Izod Motor dan ia membayar sewa perumahan milik pemerintah itu dengan gajinya. Keberanian bocah 12 tahun dari Kupang ini menjadi headline di berbagai media seluruh dunia saat itu, bahkan sampai beberapa tahun setelah kejadian itu. Pada tgl 20 Juli 1951 Arthur R Driver telah meninggal, koran melaporkan tentang Bas yang diperkirakan berusia 16 tahun pada saat itu. Karena ketiadaan dokumen, usianya ditentukan dengan perkiraan. Ia kemudian bekerja sebagai klerk pada Commonwealth Works Department. Di sanalah pada usia 24 tahun ia bertemu seorang gadis cantik dari Perth bernama Margaret. Mereka bertemu pertama kali pada bulan Februari 1956 ketika Margaret bekerja sebagai seorang junior draftwoman pada bagian surat-surat masuk pada the Department of Works and Housing. 
“Ia membawa surat ke meja saya, mengantarnya secara khusus,” ujar Margaret.”Bagi saya, itu semacam cinta pada pandangan pertama.”
Setelah 18 bulan berpacaran, keduanya menikah di sebuah Gereja Katholik di Smith Street di mana Bas pernah bekerja sebagai seorang anak altar. Upacara pernikahan di gereja kecil ini, diikuti oleh resepsi terang bulan di halaman belakang rumah di Fannie Bay. 
Beberapa bulan setelah pernikahan mereka, tepatnya pada bulan July 1958 saat majalah Time melaporkan tentang Bas, sebuah keberuntungan lagi menghampiri hidup pemuda ini: ia akhirnya menerima permanent residence yang telah lama ia tunggu. Penerimaan ini merupakan sesuatu yang sangat langka dalam kebijakan imigrasi Australia saat itu yang sangat anti Asia. 
The Kupang Kid akhirnya menerima surat-surat naturalisasinya. “Kami bangga”, kata salah seorang pejabat seperti yang dilaporkan majalah Time,” mempunyainya sebagai seorang Australia.”
Majalah Time pun melaporkan tentang kisah ini pada  edisi 7 Juli 1958. Pada tahun 1978, Bas dan keluarganya menjadi topik utama dalam program TV This Is Your Life. 
Bas Wie dan istrinya Margareth kini telah pensiun dan mereka mempunyai lima anak serta tujuh orang cucu. Pada ulang tahun perkawinan mereka yang ke 70 pada tanggal 8 Desember 2007, wartawan Australia Daniel Bourchier menulis tentang pasangan ini dengan judul: “Kupang Kid marks a marriage half century.”
Sejarah hidup Bas Wie kini tertulis dalam sejarah Northern Territory. Cerita hidupnya adalah cerita seorang survivor yang hebat. Seperti katanya istrinya, Margaret:”Ia punya ketetapan hati yang besar untuk melakukan sesuatu yang telah ia tetapkan dalam pikirannya, dan sedikit semangat gambling, untuk mengambil resiko.”
Anak laki-laki Bas, Trevor, mengenang bagaimana ayahandanya menjawab jika orang menanyakan luka besar di punggungnya. Trevor mengingat pada tahun 1960-an di mana Darwin adalah tempat yang enak untuk bermain bola sambil bertelanjang dada. 
Saat bermain di lapangan, Trevor biasa mendengar anak-anak bertanya: 
“Mr Wie, Mr Wie. What’s that mark on your back?”
“Oh, a butterfly landed there.”, adalah satu-satunya jawaban yang biasa ia berikan, kenang Trevor. 
“Itulah Ayah” kenang Trevor.”Dihantam oleh sebuah ban yang berputar, diberkati oleh keberuntungan. Hangus di satu sisi, beku di sini lain. Selalu murah hati.”
“Saya tak pernah mendengarnya mengatakan sesuatu hal yang jelek tentang siapa pun. Orang-orang baik telah berjuang baginya agar ia tetap tinggal di Darwin.”
Menurut Trevor sikap Bas ini adalah bagian dari penghargaan Bas terhadap orang-orang baik yang telah berani melawan kebijakan ‘Keep Australia White’ pada masa itu untuk membela ayahnya agar tidak dideportasi. 
Ya, hanya mereka yang pernah merasakan kemurahan Allah yang begitu nyata dan besarlah yang selalu mensyukuri apa yang mereka punya tanpa mengeluh. Benar, sebuah kupu-kupu telah hinggap di pundakmu om Bas, dan itulah yang telah membuatmu menjadi seorang ayah, suami, kakek yang membanggakan.”Selalu murah hati” seperti kata anakmu. Ketika itu hampir semua media di dunia memuat sensasi Bas Wie dan Arsip Nasional Australia menyimpan ratusan halaman dokumen berkaitan dengan kasus Bas ini. 
Polyn Bunga Lay keponakannya yang mengunjunginya di Panti Jompo mengatakan Bas Wie masih mampu mengenal ia dan ibunya, bahkan berbicara dalam bahasa Sabu bahasa ibunya. 
[Dirangkum dari berbagai sumber: Peter Apollonius Rohi -facebook, - Matheos Victor Mesakh, Leiden, Belanda, -Kompas. Com, - dan kliping dari Esterlina Uly, Darwin, Australia. http://www.ntnews.com.au, -http://www.abc.net.au/tv/canwehelp/txt/s1855680.htm]


ketika dikunjungi keluarga BUNGA LAY dipanti Jompo Darwin Australia pada 5 Januari 2015

Riwu Ga, Aksi Bocah Tak Terkenal Ini Membuat Indonesia Merdeka Oleh Proklamasi Sukarno

Bung Karno / Sukarno / Soekarno

Riwu Ga, Aksi Bocah Tak Terkenal Ini Membuat Indonesia Merdeka Oleh Proklamasi Sukarno

Riwu-Ga-dan-sukarno header
-Oleh: Anton DH Nugrahanto-

Pada tahun 1934 saat Bung Karno baru saja sampai di tempat pembuangannya di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Ada seorang muda yang senang melihat kedatangan orang buangan dari Jawa. Anak berumur 14 tahun itu bernama Riwu Ga. Ia setiap pagi berjalan 3 kilometer untuk menonton orang dari Jawa yang katanya terkenal itu.

Suatu siang saat Bung Karno sedang mengerjakan potongan kayu untuk ganjel pintu, Riwu Ga datang membawa pisang dan bertanya-tanya pada Sukarno tentang caranya membuat potongan kayu.

Sukarno adalah seorang insinyur, tapi ia selalu bicara dengan bahasa yang dimengerti oleh lawan bicaranya, dan Sukarno senang dengan anak ini yang selalu banyak ingin tahu. Saat itu jam 10 pagi, Sukarno dan Riwu bicara sampai sore hari. Akhirnya Sukarno meminta Riwu membantu di rumahnya, banyak juga pemuda Flores membantu di rumah Sukarno.

Riwu Ga
Riwu Ga Di Masa Tuanya (foto:Kluget.com)

Riwu ikut maen Tonil dan membenahi baju-baju pemain Tonil sambil belajar lagu Indonesia Raya dengan caranya yang gembira. Tonil adalah suatu seni mirip sandiwara yang dipentaskan setiap sebulan sekali oleh Sukarno. Riwu juga sangat senang dan melompat-lompat sambil tertawa ketika Bung Karno melawak dan menceritakan hal-hal yang seru. Begitu akrab dan asyiknya Bung Karno, Riwu dan para pemuda Flores dikala itu, seakan beban yang sangat berat yang dipikul dipundaknya, seketika hilang, beralih suka cita dan riang gembira.

Rencana Sukarno Akan “Dibuang” Oleh Belanda Ke Australia

Tahun 1942 Jepang datang ke Indonesia, dan Bung Karno telah direncanakan akan dibawa ke Australia oleh Belanda dengan alasan untuk menyelamatkan jiwa Sukarno. Pesawat yang akan mengangkut Bung Karno pun telah disiapkan. Tapi saat di pinggir pesawat Riwu minta ikut, Bung Karno memaksa Belanda agar Riwu ikut ke Australia, tapi Belanda menolak. Bung Karno juga menolak bila Riwu tidak diajak, jadilah Bung Karno tidak diajak ke Australia. Sejarah Indonesia akan berubah total andai Riwu tidak memaksa dirinya ikut….

Sukarno “Dibuang” Ke Bengkulu

Saat Sukarno dibuang ke Bengkulu dan berjalan kaki di tengah hutan lebat, Inggit, Sukarno dan Riwu menuju Kota Padang. Di Padang mereka tinggal di kota itu beberapa bulan sebelum akhirnya Sukarno tiba kembali di Djakarta bersama Riwu yang setia mengikutinya. Riwu adalah pembantu kesayangan Sukarno dan Ibu Inggit. Saat teks Proklamasi 1945 dibacakan dan Fatmawati isteri baru Sukarno berada di samping Bung Karno ketika akan membacakan Proklamasi, mata Riwu berkaca-kaca dalam hatinya berteriak :

“Mustinya Ibu Inggit yang di sana, mustinya Ibu Inggit yang berdiri di bawah kibaran merah putih, karena Inggitlah yang tahu susah dan jerih payah Sukarno,” bisik Riwu dalam hatinya.

Beberapa jam setelah Proklamasi, Sukarno memanggil Riwu dan menyuruh untuk mengabarkan ke seantero Djakarta sudah merdeka. Riwu mencari mobil Jeep dan diajaknya seorang bernama Sarwoko yang menyetir.

Di tengah jalan Riwu berteriak “Merdeka…Merdeka…Merdeka!!!!!!!” sambil mengepalkan tangan keras-keras. Sepanjang perjalanan, orang-orang bingung sekaligus heran melihat kelakuan Riwu. Namun akhirnya paham, masyarakat akhirnya tahu kalau Sukarno sudah memerdekakan Republik ini.

Siapa diantara anda yang mengenal Riwu? Di hari tuanya, ia kembali ke desanya, hanya memacul tanah tandus di Flores.

Riwu tak seperti pejabat yang dengan mobil mewah ke Istana berikut dengan jas berharga puluhan juta Rupiah, menghormat pada bendera Indonesia Raya. Ia hanya orang tua yang rapuh dan ia tidak pernah diundang ke Istana saeumur hidupnya, karena mungkin saja bau dekil dan baju kotor tak pantas bagi Istana yang megah. Tapi tanpa Riwu, bisa jadi kita tak mengenal Indonesia seperti apa yang kita kenal sekarang. (oleh: Anton DH Nugrahanto)

Makam Riwu Ga

Riwu Ga, Pemuda NTT Yang Jasa Besarnya Terlupakan

Riwu Ga, pria asal Sabu, Nusa Tenggara Timur ini, namanya seperti dipeti-eskan bila kita membicarakan proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945.
Namanya benar-benar dilupakan dan dikuburkan dalam-dalam. Dia memang tidak  berperang secara fisik mempertahankan negara. Juga dia tidak melakukan diplomasi di luar negeri membela keberadaan negaranya dengan argumentasi tajam.
Riwu Ga juga bukan seorang menteri atau pejabat yang punya kekuasaan yuridiksi untuk berbicara dan melakukan tugasnya sebagai seorang orang penting yang sedang mempertahankan kemerdekaan negaranya.
Jauh sebelum negaranya lahir tanggal 17 Agustus 1945, Riwu Ga seperti sudah ditakdirkan untuk selalu berperan dan berhubungan dengan hari yang tidak pernah akan dilupakan oleh setiap orang Indonesia itu.

Bila Ibu Inggit Garnasih, istri Soekarno, dijuluki banyak orang sebagai sosok wanita yang mengantarkan Soekarno ke gerbang kemerdekaan 17 Agustus 1945, maka Riwu Ga -lah orang yang menjaga kunci gerbang itu agar tidak hilang, sehingga  bisa dibuka oleh Soekarno bersama patriot-patriot sejati lainnya.

Diperebutkan Oleh Inggit Dan Sukarno

Pada usia 18 tahun di tahun 1934 Riwu Ga berkenalan pertama kali oleh Soekarno di Ende, Flores, semasa menjalani pengasingannya oleh pemerintah kolonial Belanda. Sikapnya yang rendah hati dan penuh kepatuhan pada peraturan dan etika, membuat dia dipercaya Soekarno dan disayang oleh keluarga besar proklamator itu, baik oleh pihak Ibu Inggit maupun oleh Ibu Fatmawati.

Sebelum Soekarno shalat shubuh selama di Ende, Riwu Ga bangun lebih dulu dan mempersiapkan segelas air putih dicampur kapur. “Biar suara Bung Karno lebih menggelegar”, katanya.

Ketika Soekarno dipindahkan ke Bengkulu, dia diikutsertakan bahkan sampai berakhir masa pembuangan dan Indonesia merdeka, Riwu Ga tetap mengabdi kepada keluarga Soekarno.

Dia juga dijadikan harta yang diperebutkan oleh Inggit dan Soekarno ketika pasangan itu bercerai. Riwu Ga berat hati memilih ikut Soekarno, meski Inggit tetap menyayanginya.

Setelah turut mempersiapkan upacara pembacaan proklamasi, Riwu Ga diperintahkan Soekarno untuk menyebarkan berita proklamasi kemerdekaan itu ke sekeliling Jakarta. Banyak rakyat Indonesia tidak tahu bahwa negera mereka sudah merdeka, karena kemerdekaan itu ditentang banyak pihak termasuk penguasa Jepang pada kala itu.

Berita-pertama-kali-tentang-Prokalamsi-di-suratkabar Merdeka-Feb-1946
Berita pertama kali tentang Prokalamsi di surat kabar Merdeka, Feb 1946.


Riwu Ga Termasuk Orang Pertama Yang Mengetahui Indonesia Telah Merdeka

Seperti diceritakan sebelumnya, bersama adik Mr. Sartono (kelak menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Agung yang pertama), yang bernama Sarwoko yang mengemudikan mobil Jeep, Riwu Ga berteriak-teriak heroik mengumumkan kepada kumpulan rakyat sambil membawa bendera merah putih.

“Kita sudah merdeka, kita sudah merdeka!” Tindakannya sangat konyol dilakukan saat itu, karena bisa saja aparat keamanan tentara Jepang menembaknya sesuka hati.

Hasil tugas Riwu Ga itu membuat banyak rakyat Jakarta percaya bahwa Indonesia sudah merdeka. Berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, mirip berita pendaratan Christopher Columbus ke Dunia Baru, yang baru diketahui oleh rakyat Eropa berbulan-bulan kemudian.

Memang ada yang mewartakan berita kemerdekaan RI secepat mungkin melalui medium elektronik berupa radio. Namun barang kotak bersuara itu sangat langka dimiliki oleh kebanyakan orang pada masa itu, dan kalaupun ada, isi beritanya sudah dikontrol penuh oleh penguasa Jepang.

Jusuf Ronodipuro juga menyiarkan berita kemerdekaan RI secara heroik melalui stasiun radio yang dikuasai Jepang. Juga di daerah-daerah pelosok, berita Proklamasi disiarkan ulang, seperti di Sumatera oleh Mohammad Sjafe’i atau di Riau oleh Angkatan Muda Perusahaan Telefon dan Telegraf beberapa minggu setelah 17 Agustus 1945.

Riwu Ga (bersama Sarwoko) adalah orang yang pertama kali menyiarkan berita Proklamasi Kemerdekaan secara langsung kepada rakyat Indonesia. Selama tahun 1945 tidak ada berita apapun di surat kabar manapun tentang Proklamasi Kemerdekaan. Keadaan ini memang aneh tetapi bisa dimengerti mengingat keadaan masa itu yang kritis.

Meninggal Tepat Tanggal 17 Agustus 1996, Pukul 17.00 Wita

Riwu Ga memang tinggal kenangan. Dia sepenggal sejarah yang kini terhempas jauh dari hiruk pikuk kemerdekaan. Menjadi yang tak diperhitungkan bangsa, konsekuensi dari seorang Riwu Ga. Keringat dan darahnya melayani bangsa terhapus carut marut birokrasi.
 
Matahari tepat di atas ubun-ubun, ketika penulis berkunjung ke sebuah rumah di bilangan Kelurahan Naikoten I, Kota Kupang. Atapnya pendek, sehingga untuk masuk ke dalam, harus sedikit jongkok.
“Rumah ini dibangun oleh almarhum ayah saya. Dia bangun rumah ini sekembalinya dari Jakarta, tahun 1948,” ujar Yance Riwu Ga, salah seorang putra Riwu Ga, ketika ditemui di rumah mereka, di Jl. Advokat No 4 RT 15/RW 6 Kelurahan Naikoten 1, Kecamatan Kota Raja, Kupang, Selasa (14/8/2012) lalu.

“Rumah ini sederhana, walau atapnya rendah, namun tidak panas. Apalagi kalau buka pintu belakang, angin banyak yang masuk sehingga rumah ini dingin,” tuturnya lagi.

Riwu-Ga-dan-anaknya zoomed
Riwu Ga (kiri) bersama anaknya, Yance Riwu Ga (kanan).
Dia mengurai, sebagai satu dari delapan anak Riwu Ga, mereka sering diceritakan oleh ayahnya tentang kisah perjuangannya bersama Bung Karno baik itu di Ende, lokasi pengasingan Soekarno, maupun di Jakarta.

“Kami dengar banyak cerita. Mulai dari masa pembuangan, hingga kemerdekaan. Kami sangat bangga pada ayah kami. Malah, ketika hendak dibuang ke Australia, Bung Karno tidak mau jalan kalau Riwu Ga tidak dibawa.”

Sayang, di masa tuanya, garis tangan majikan dan pembantu itu berbeda. Sukarno menjadi Presiden, dan Riwu Ga justru menjadi seorang Penjaga Malam pada Kantor Dinas PU Kabupaten Ende hingga pensiun pada tahun 1974.

“Tapi kami bangga pada bapa,” ungkap Yance.

Di usia senjanya, Riwu memang menghilang dari panggung gemerlap kemerdekaan. Dia menyingkir jauh, hingga ke Naikoten, Kota Kupang, kemudian ke Nunkurus di Kabupaten Kupang tahun 1992.

Di Kupang, Riwu hanya beberapa tahun, kemudian bersama isterinya Belandina Riwu Ga-Kana pun meniti hidup sebagai petani di Nunkurus, tepat di sebuah area pertanian yang dipadati gewang dan jati, di depan Markas TNI Naibonat.

“Di sana bapa dan mama menetap selama beberapa waktu, hingga bapa sakit dan dirawat di RSU Kupang selama hampir dua minggu. Dia dirawat di ruang kelas tiga. Sakitnya sakit orang tua, bapa mengeluh ada sakit di bagian perut,” ungkap Yance polos.

Takdir berkata lain. Tepat pukul 17.00 WITA, di hari peringatan Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1996, ketika masyarakat Indonesia sedang menyanyikan lagu Indonesia Raya, dalam prosesi penurunan bendera, Riwu Ga meninggal dunia.

Takdir berkata, bahwa Riwu Ga memang harus menutup matanya ketika Merah Putih benar-benar sudah diturunkan oleh pasukan pengibar, untuk disimpan. Jenazahnya lalu dimakamkan di TPU Kapadala, Kelurahan Airnona, Kecamatan Kota Raja, Kupang pada 19 Agustus 1996.

“Saat itu hadir ribuan orang. mereka ingin datang dan mendengar langsung kisah bapa. Sebagai anak, ketika dengar cerita bapa, kami terharu dan bangga. Karena seorang buta huruf, dia berarti. Walau tidak diingat jasa-jasanya. Dia kelahiran Sabu, tapi dia sudah banyak berbuat untuk Indonesia,” ujar Yance yang adalah pengajar di SMPN 2 Kupang itu sembari menyeka bulir air mata di sudut matanya mengenang ayahandanya.

Hingga saat ini, isterinya yang sudah berusia 70 tahun lebih itu masih menempati rumah mereka di Nunkurus.

Diusulkan Menjadi Pahlawan Nasional

rumah pngasingan sukarno ende-east-nusa
Rumah Pengasingan Sukarno Di Ende, Nusa Tenggara Timur
Sejumlah pertanyaan singgah di benak. Mengapa Riwu Ga tidak mendapatkan jabatan yang tinggi, padahal dia sangat dekat dan berjuang bersama Bung Karno?

Menjadi Pengawal Pribadi selama 14 tahun, fakta membuktikan bahwa Bung Karno pun membutuhkan pikiran Riwu dalam membangun fondasi sebuah negara yang masih dalam mimpi, di Ende, sebuah kota di NTT yang jauh dari Jakarta.

Riwu kini tinggal sebuah kisah. Kisah bahwa Riwu Ga pernah melayani tokoh terbesar sepanjang sejarah Indonesia itu.
Kisah bahwa dia diajak Gadi Walu, sepupunya dari Sabu, ke Ende untuk meniti hidup, kemudian tinggal bersama keluarga Bung Karno ketika dia sedang berjualan kue pisang goreng.

Selama 69 tahun merdeka, Pemerintah kita sangat sibuk membenahi berbagai sektor, sehingga lupa memberi penghargaan pada mereka yang sudah bertaruh nyawa bagi negeri ini. Menyedihkan memang, ketika berada di tengah birokrasi yang menutup mata terhadap realita perjuangan kemerdekaan.

“Pemerintah harusnya proaktif. Ini masalahnya. Hal-hal seperti itu, Pemda harus bergerak cepat dan berbuat sesuatu bagi pejuang,” ujar Peter A. Rohi, kepada Timor Express, Rabu (15/8/2012) lalu dari Jakarta.
Pernyataan senada disampaikan Pembina Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) NTT, Irjen Pol (Purn) Y. Jacky Uly.

Mantan Kapolda NTT itu mengurai, dalam sejarah perjuangan dan di veteran, ada dua jenis pejuang.
Yakni Pejuang Kemerdekaan, dan dia mencontohkan, sosok yang masuk kategori ini seperti Riwu Ga. Walau tidak angkat senjata, namun dia berada sangat dekat, dan malah terjun dalam mengisi perjuangan kemerdekaan.
Berikutnya, adalah Pejuang Pembela Kemerdekaan, seperti pejuang yang terlibat dalam Operasi Trikora, Dwikora dan beberapa lainnya.

“Saya minta, kita jangan berpikir sempit bahwa yang namanya pejuang itu adalah hanya mereka yang mengangkat senjata. Tidak begitu,” tegasnya lagi.

Pahlawan-Pahlawan Asal Nusa Tenggara Timur

rumah pengasingan bung-karno-di-bengkulu
Rumah Pengasingan Sukarno Di Bengkulu
Penulis senior yang menemukan file yang tersembunyi mengenai Riwu Ga itu menuturkan, banyak sejarah yang justru digali oleh orang lain dibanding pemerintah, baik itu Pemkab/Kota maupun Pemprov NTT.

“Padahal banyak tokoh pejuang kemerdekaan itu berasal dari NTT. Mereka berjuang diluar atau pada level nasional, namun tak pernah diangkat oleh pemerintah kita. Pemerintah hanya mengenal mereka ketika mereka pulang ke NTT, namun sebenarnya ada banyak yang sudah dilupakan,” ungkapnya.

Dia mencontohkan, adalah Alexander Abineno, orang Amarasi yang jasanya tak pernah dilupakan karena dialah salah satu pendiri TNI Angkatan Laut.

Kisahnya menurut Peter, bermula dari Alexander merebut kapal perang musuh, kemudian kapal perang penjajah itu menjadi kapal perang pertama milik Indonesia yang disandarkan di Pelabuhan Tanjung Priok. Ada pula I.R Lobo, anggota KNIP yang menjadi Pendiri Kota Semarang dan Pendiri Direktorat Bea dan Cukai.

“Pemda NTT harus kreatif mencari data dan fakta, lalu mengusulkan tokoh-tokoh ini menjadi pahlawan. Jika dibanding dengan daerah lain, mereka mengusulkan banyak tokoh mereka, sedangkan kita tidak pernah. Sebenarnya Departemen Sosial hanya menunggu usulan kita saja, namun kita tak pernah, tidak mungkin Pemda DKI yang usulkan. Harus kita,”  Peter Riwu Rohi menambahkan.
Minimnya perhatian Pemerintah untuk mengusulkan tokoh-tokoh pejuangnya menjadi pahlawan pun disoroti tokoh yang pernah menjadi pimpinan polisi puluhan negara di dunia dalam operasi PBB di Afrika itu.

Indonesia menurutnya, juga memiliki perhatian yang tak begitu maksimal terhadap pahlawan. Dia membandingkan dengan Amerika dan Australia. Di dua negara itu, ada hari khusus yang ditetapkan untuk mengenang para veteran perang, dan semua aktivitas diliburkan.

“Karena itu, saya minta kepada Pemerintah Provinsi NTT untuk jangan menutup mata terhadap para pejuang kita. Riwu Ga dan beberapa tokoh lainnya sudah saatnya diusulkan menjadi Pahlawan Nasional. Harus segera diusulkan. Kumpulkan data dan fakta, kemudian ajukan,” pungkasnya.

Selain Riwu Ga, Abineno, I. R. Lobo, ada juga Mone Kana. Sosok inilah yang membunuh Jenderal Portugis Dominggus da Costa di Penfui (kini Lanud El Tari). Tewasnya Da Costa menjadi simbol kekalahan Portugis di Nusa Tenggara.

Masyarakat lalu memuja Mone Kana sebagai pahlawan gagah berani. Tak hanya itu, banyak orang Sabu dan Rote yang terlibat dalam Pergerakan Nasional. Sejumlah referensi menuliskan, "Pemberontakan Kapal Tujuh” (Seven Provinscien Affair, 4 Februari 1933), setahun sebelum Bung Karno dibuang ke Ende, seorang pemimpin pemberontakan itu adalah Hendrik Pa Radja (kini namanya diabadikan pada sebuah jalan di wilayah Kelurahan Namosain-Alak, yakni Jl. Pa Raja).

Dia memimpin Johanes Rihi Dima, Ande Therik, Harsoyo -orang Jawa kelahiran Kupang, untuk melawan angkatan Laut Belanda. Selain itu, ada pula sejumlah tokoh NTT yang berkiprah dalam Perjuangan Kemerdekaan di Jakarta seperti E. R. Herewila, Tom Pello, H. A. Koroh, I. H. Doko, El Tari, Tjak Malada, Cornelis Dimu Djami, A. Nisnoni, Engelbertus Daniel Johannes, Amos Pah dan beberapa nama lainnya.

Fakta-fakta ini pertama kali penulis tahu, ketika membaca sebuah feature di harian Kompas 15 tahun silam, yang memuat profil Riwu Ga dengan jelas dan mencoba mengukuhkan perannya yang kecil bak sekrup dalam sebuah mesin penggerak yang bernama Proklamasi.
Namun tanpa sekrup kecil itu, mesin besar bisa saja tak akan bergerak. Inilah yang membuat alasan penulis untuk mengingatkan kembali perannya yang memang pantas dilupakan oleh kita, Bangsa Pelupa.

(sumber: kluget.com/baltyra.com/iyaa.com).


Referensi Lainnya:
1. Kompas, “Foto Proklamasi yang tidak dapat ditemukan”, 18 Agustus 2005.
2. Kompas, “Riwu Ga, Terompet Proklamasi”, 21 Agustus 1996.
3. Pramoedya Ananta Toer, et.al, “Kronik Revolusi Indonesia Jilid I”. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, bekerjasama dengan Yayasan Adikarya IKAPI dan The Ford Foundation, 1999.

Riwu-Ga-dan-anaknya

Minggu, 30 November 2014

BANGSA SINGA ATAU KELINCI?


Kalau dua orang bertemu, dalam waktu sepersekian detik dapat segera diketahui, siapa SINGA dan siapa KELINCI.
Singa menghadapi dengan langsung menatap mata, sedang Kelinci langsung menunduk menatap kaki singa.

Dalam bidang Politik, Pemerintah bisa memperbesar jumlah "Kelinci" atau memperbesar jumlah "Singa".

Dalam sejarah Yunani suatu masa, pernah terdapat Pemerintahan Para Kolonel. Mereka ambil alih Kekuasaan, supaya Pemerintah dapat kesempatan me-realisir Program Kemakmuran. 

Aksi ekstraparlementer dilarang, semua orang harus berbaris seperti di barak. Dan kadang-kadang seorang Kolonel memberi petunjuk, nasehat atau perintah. Dan yang tidak menurut diperiksa; mungkin untuk seumur hidup.

Jaman itu, nomor satu adalah Pemerintahan yang berdasarkan kekuatan, dan sebagai hamba ialah rakyat. 

Akibat dari rezim itu ialah bertambah banyaknya jumlah "Kelinci", yang hanya bisa memuji dan bertepuk tangan setiap kali seorang Menteri bersin. 

Dampak ikutannya lebih dahsyat: hilangnya kreativitas, timbul apatis, lahirnya taktik penjilat, meluasnya korupsi, dan yang menderita adalah rakyat. 

Paradoksnya, di Amerika - di mana segala hal diperbolehkan, kita melihat aturan dalam kekacauan, semangat dalam pertentangan, kreativitas dalam perbenturan, dan bentuk-bentuk baru muncul, karena dalam perbenturan ide-ide, kebenaran memang tak lagi dapat disembunyikan.

Masyarakat Amerika merupakan semacam 'Kawah Gado-Gado' yang besar. Di dalamnya mendidih bangsa-bangsa, agama-agama, aliran-aliran politik, perbedaan-perbedaan pandangan, dan di sana atas dasar Demokrasi, terjadi suatu laboratorium yang besar, di mana struktur-struktur baru diciptakan di bidang tehnik, kesenian, dan pikiran.

Memang benar, jangan terlalu memuji Amerika dalam segala hal, tetapi bahwa di sana toleransi dalam membiarkan lebih banyak populasi Singa daripada Kelinci, terbukti melahirkan kreativitas dan lebih banyak kemajuan dari negara manapun adalah fakta yang tak dapat disangkal.

KONSENSUS

Ada eksperimen yang lucu. Seorang laki-laki yang "suci", menutup mata untuk gambar yang cabul ketika berada di depan banyak orang. Padahal saat 'indehoy' dengan pasangannya dalam kamar yang tertutup, ia membuka matanya lebar-lebar.

Inilah intermedia.....


Intermedia memberi corak dan bentuk pada tingkah laku, maka jelaslah setiap orang enggan mengubah corak itu, takut kekacauan dan kekosongan.

Descartes mencari kepastian untuk hidupnya dan mulai dengan meragukan segala hal yang diketahuinya, tetapi dia tidak murtad.

Dengan membuat klausula kecil, dia menyelamatkan keyakinan Katholik yang dianggap benar, suci, dan pasti.
Orang Katholik saat itu mendengar tentang korupsi Blanco Ambrosiano dan riwayat Irlandia, tetapi mereka tutup mata, jiwa dan telinga rohaninya. Mereka hanya melihat hal bagus dan tidak melihat hal jelek.

Dogma biasanya kuat, tidak karena begitu nyata, tetapi karena memberi keamanan, corak, kenyamanan dan jalan mulus. Dan itu menjadi 'sapi keramat' (sacred cow) yang harus dihormati dan dijunjung tinggi.

Salah satu sapi keramat di negeri kita ialah 'Teori/Dogma tentang KONSENSUS'.
Sebagai karikatur dapat dikatakan bahwa: "KONSENSUS berarti, SEMUA ORANG MENGATAKAN YA, KALAU PEMERINTAH MENGHARAPKAN YA; DAN SEMUA MENGATAKAN TIDAK KALAU EKSEKUTIF MENGHARAP TIDAK."

Memang jelas bahwa dogma konsensus ialah pencapaian keadaan optimal. Tetapi 'e pluribus unum' mungkin hanya terjadi di sorga.....

Dogma tentang konsensus memang 'The Sacred Cow', dan kita menghormati sapi itu berdasarkan Konsensus di bawah naungan Pancasila dan semua keyakinan dihormati dan dijunjung tinggi.....
Namun dalam kenyataannya, terlebih dalam ilmu kesehatan hewan, setiap sapi tentu boleh diperiksa oleh dokter hewan. Dan dalam Ilmu Sosiologi, memang baik meneliti kembali Dogma Konsensus itu...