Translate

Senin, 02 Maret 2015

Sering Kenakan Bra: Tingkatkan Risiko Kanker Payudara?


Sering Kenakan Bra: Tingkatkan Risiko Kanker Payudara?

medical disease headers

Sering Kenakan Bra: Tingkatkan Risiko Kanker Payudara?

Bra-Tingkatkan-Risiko-Kanker-Payudara

Bra atau penyangga payudara pada wanita dipercaya bisa menjaga bentuk payudara tetap indah dan kencang, terutama bagi wanita yang sudah memiliki buah hati dan menyusui.

Namun, penelitian mengungkap bahwa mengenakan bra terlalu lama dapat meningkatkan suhu di sekitar payudara yang bisa memicu timbulnya kanker payudara.

Adalah ilmuwan dari Sydney-Australia, bernama Soma Grismaijer yang melakukan penelitian mengenai berapa lama waktu yang sehat mengenakan bra bagi wanita. Grismaijer mengatakan bahwa waktu ideal untuk mengenakan bra adalah kurang dari 12 jam.

Ia menyarankan kepada wanita di seluruh dunia, jika ingin menghindari risiko kanker payudara sebaiknya tidak terlalu sering mengenakan bra. Berapa lama? yaitu kurang dari 12 jam sehari.


Hasil Studi tentang Bra dan Kanker Payudara

Kesimpulan ini didapat setelah Grismaijer meneliti kebiasaan memakai bra 4.500 wanita di lima kota besar Amerika Serikat. Hasil studi yang dilakukan Grismaijer menunjukkan bahwa wanita yang mengenakan bra selama 24 jam sehari lebih berisiko terserang kanker payudara ketimbang wanita yang jarang memakai bra. Dalam penelitian tersebut, Grismaijer juga mendapatkan sebuah statistik singkat tentang berapa lama wanita mengenakan bra dalam sehari, yaitu:

• 3 dari 4 wanita memakai bra 24 jam per hari.
• 1 dari 7 wanita memakai bra lebih dari 12 jam per hari, tetapi tidak menggunakannya saat tidur.
• 1 dari 152 wanita memakai bra kurang dari 12 jam per hari.
• 1 dari 168 wanita jarang atau bahkan yang tidak pernah memakai bra sama sekali.

Lebih jauh, dari hasil statistik tersebut didapatkan kesimpulan bahwa wanita yang mengenakan bra selama 24 jam berisiko 125 kali lebih besar terkenan kanker payudara ketimbang mereka yang jarang mengenakan bra. Hasil studi Grismaijer ini telah dimuat dalam sebuah buku berjudul, Dressed To Kill: The Link Between Breast Cancer and Bras.


Cegah Kanker Payudara

“Tidur adalah saat yang tepat untuk mengistirahatkan payudara. Sebaiknya jangan tidur dengan bra,” ungkap Grismaijer.

Selain tidur tanpa bra, rajin menyusui sang buah hati juga bisa menurunkan risiko kanker payudara. Ini terjadi karena sistem limfatik pada payudara hanya berkembang optimal selama masa kehamilan dan menyusui. Itulah sebabnya wanita yang terlalu lama memakai bra dan menunda untuk punya anak berisiko lebih tinggi terkena kanker payudara.

Secara global, lebih dari 70 persen wanita yang terkena kanker payudara pada dasarnya tidak memiliki risiko kanker payudara. Namun peneliti menduga bahwa kebiasaan mengenakan bra dengan ukuran yang tidak sesuai dan dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko kanker payudara.

Bra yang terlalu sempit dapat meningkatkan suhu dan menghalangi aliran getah bening di daerah payudara. Seperti kita ketahui bahwa getah bening berfungsi untuk membersihkan limbah dan racun penyebab kanker serta menjauhkannya dari payudara.


Kanker Payudara Pembunuh Nomor Satu Wanita Indonesia

Kanker payudara saat ini menjadi pembunuh nomor satu wanita Indonesia. Hal ini dikatakan dokter onkologi RSPAD Gatot Soebroto, dr Saptadi Setia Basuki Sp.B Onk.

“Sampai sekarang belum ada berapa angkanya. Yang jelas saat ini posisinya ada di atas kanker serviks,” ujarnya dalam acara, “Deteksi Dini Kunci Pencegahan dan Penanganan Kanker Payudara.”

Kanker ini mayoritas menyerang kaum hawa. Saptadi mengatakan, hal ini diakibatkan hormone esterogen yang ada pada wanita. Esterogen ini akan membentuk ikatan dengan sel kanker yang tumbuh. Umumnya kanker ini menyerang wanita berumur di atas 35 tahun.

Kondisi ini tentunya sangat memprihatinkan. Apalagi penyakit ini muncul tanpa gejala. “Pasien biasanya baru memeriksakan diri setelah memasuki stadium lanjut,” kata Saptadi.

Menurutnya, sekitar 50 persen pasien yang periksa ke dokter setelah ada rasa sakit, atau terjadi perubahan pada payudaranya. Perubahan ini bisa pada warna kulit, puting susu yang masuk ke dalam, atau cairan keluar dari puting susu. “Padahal, kalau sampai terjadi perubahan, berarti kankernya sudah pada stadium lanjut. Mungkin stadium dua atau tiga,” jelasnya.

Penyakit ini ditandai dengan munculnya benjolan pada payudara atau ketiak. Saptadi menyarankan untuk segera memeriksakan diri begitu dirasa ada benjolan di daerah tersebut. Benjolan pada ketiak merupakan indikasi sel kanker sudah menyebar ke organ yang lain.

Semakin cepat memeriksakan diri, maka proses pengobatan bisa sesegera mungkin dilakukan. Penderita kanker stadium awal memiliki kesempatan hidup 100 persen pada lima tahun kehidupan berikutnya.

Sedangkan kanker stadium dua memiliki daya survival 70 sampai 80 persen. Stadium tiga dan empat memiliki daya hidup paling kecil, yaitu 40 dan 20 persen. Sehingga makin cepat diperiksa, kesempatan hidup juga lebih besar.

Para penderita kanker payudara stadium awal juga berkesempatan melakukan breast conservation. Pada operasi ini yang diangkat hanya sel kankernya, bukan seluruh payudara. Syarat untuk operasi ini adalah ukuran tumor maksimal tiga sentimeter, kemauan pribadi pasien, bersedia melakukan kontrol rutin, dan lokasi pertumbuhan tumor terlokalisir.


Tidur Pakai Bra, Benarkah Berbahaya?

“Melihat penderitaan ibu terkena kanker payudara, saya jadi khawatir. Makanya, sampai sekarang saya nggak mau lagi tidur pakai bra,” celoteh seorang artis sinetron di televisi.

Ucapan sang artis yang sangat mungkin didengar jutaan penonton di Indonesia itu, seolah mempertegas bahwa pemakaian bra saat tidur berpotensi menimbulkan kanker payudara. Maka, tidak sedikit wanita menghindari mengenakan bra saat tidur.

Benarkah pemakaian bra saat tidur bisa memicu munculnya kanker payudara?

“Nggak betul itu, tidak ada hubungan antara mengenakan bra saat tidur dengan munculnya kanker payudara,” kata dr. Febriansyah, SpOG., yang berpraktik di RSIA Kemang Medical Care, Kemang, Jakarta Selatan. Menurut dia, wanita boleh saja mengenakan bra saat tidur.

“Asalkan pilih bra yang tidak berkawat, karena model bra seperti ini membuat payudara tertekan. Akibatnya, aliran darah tidak lancar dan ini akan memengaruhi kesehatannya,” kata dr. Febriansyah.

Idealnya, lanjut Febriansyah, saat tidur memang sebaiknya tidak mengenakan pakaian dalam agar aliran darah bisa lebih lancar, tubuh menjadi lebih rileks, dan saat bangun tidur tubuh terasa lebih bugar.

“Kalau payudara tertekan, bra akan menghambat aliran darah sehingga menimbulkan beberapa masalah, misalnya merasa pegal dan sakit,” tambahnya.

Sama halnya dengan pria. Kata dia, informasi yang menyebut pria mengenakan celana dalam saat tidur bisa menyebabkan kemandulan itu tidak benar.

“Yang pasti, pria sebaiknya tidak mengenakan celana dalam ketat saat tidur. Sama saja tujuannya supaya tidak ada tekanan pada alat kelamin dan aliran darah lancar,” katanya.

Pria boleh saja mengenakan celana saat tidur, tapi pilihlah model celana longgar misalnya celana boxer. Baik pria maupun wanita, tidur hendaknya mengenakan pakaian longgar atau tidak terlalu ketat.

“Wanita yang mengenakan celana dalam terlalu ketat, sirkulasi udara pada vaginanya bisa terganggu. Hal ini dapat menimbulkan masalah keputihan,” kata Febriansyah.

Selain harus longgar, lanjutnya, hendaknya pria maupun wanita mengenakan pakaian yang mampu menyerap keringat. Sebab, di saat tidur, tubuh kita berkeringat. “Jangan mengenakan pakaian berbahan polyester karena bahan ini tidak menyerap keringat.


Cara Benar Mengenakan Bra

Pemilihan ukuran bra yang tepat tak hanya sekedar menyangga dan menjaga bentuk, ukuran dan tekstur keindahan payudara, namun juga mempengaruhi bagi kesehatan tubuh Anda.

Menurut sebuah survei, dua per tiga wanita telah mengalami 5 kali perubahan ukuran bra selama hidupnya, sebagai bentuk perubahan berat badan yang naik turun.

Hal inilah yang menyebabkan pentingnya bagi wanita untuk selalu mengukur ukuran lingkar dada dan ukuran cup saat membeli bra. Terlebih lagi kini, banyak wanita yang membeli bra hanya karena model dan warnanya saja.

Lucia Niken, Marketing Manager Sorella, yang ditemui dalam jumpa pers Sorella ‘Right Support’ (7/1) menjelaskan bahwa para wanita jangan pernah malu ataupun risih saat harus mengukur ukuran bra guna mendapatkan bra yang sesuai. Bahkan wanita juga jangan sungkan jika harus menyobanya terlebih dahulu.

“Banyak wanita, yang membeli bra dengan satu ukuran. Meskipun memakai merek yang sama, namun beda model, bisa jadi ukurannya berbeda. Selalu lakukan pengecekan ukuran bra dengan mencobanya saat akan membelinya,” jelas Lucia.

Tak hanya sekedar ukuran bra yang kurang diperhatikan, cara memakai bra dengan benar sering tidak diperhatikan oleh kaum hawa. Cara pemakaian bra yang salah ternyata mempengaruhi bentuk payudara itu sendiri. Itulah pentingnya, wanita harus tahu bagaimana menggunakan bra dengan baik.

“Memasang bra yang baik adalah dengan membungkukkan badan dan memasukkan payudara ke dalam cup bra, lalu dipasang pengait dan talinya. Setelah selesai, angkat kedua tangan keatas dan periksalah apakah kedua payudara Anda sudah masuk ke cup dengan sempurna. Bila tak tertopang dengan sempurna, bisa jadi pemilihan bra Anda salah, dan berisiko terjadi iritasi,” ungkap Lucia.

Cara tersebut tentu saja bisa diterapkan pada payudara dengan ukuran apupan, asalkan selalu menggunakan bra yang sesuai dengan ukuran payudara Anda. Jangan longgar karena payudara bisa melorot, dan jangan pula terlalu kencang, karena bisa iritasi.

Setelah mengetahui cara pemakaian bra yang benar, Lucia menegaskan bahwa cara pencucian bra juga sangat mempengaruhi. Dan yang terpenting bagi wanita, untuk mencuci pakaian dalamnya sendiri, termasuk bra, agar tak kehilangan bentuknya.

“Rendamlah bra kedalam air sabun (kalau bisa, gunakan deterjen liquid) sebentar saja. Setelah itu, di tepuk-tepuk dan langsung digantung dengan hanger baju. Ingat jangan di peras dan tekuk, karena akan merubah bentuknya,” tambahnya.


Sehatnya Punya Payudara Kecil

Wanita mana yang tak ingin memiliki bentuk dan ukuran payudara yang indah? Tak ada. Hingga kini, masih banyak wanita yang suka iri dengan bentuk payudara wanita lain yang terlihat lebih montok dan berisi.

Namun, bagi Anda yang memiliki ukuran payudara kecil, jangan bersedih hati. Ternyata ukuran payudara mempengaruhi kesehatan Anda.

Menurut penelitian, wanita yang memiliki payudara kecil memiliki risiko kecil terkena diabetes tipe 2 dibandingkan dengan wanita yang berpayudara besar.

Para peneliti dari Harvard University di Amerika Serikat dan University of Toronto di Kanada melakukan survei terhadap 92. 106 wanita dan menemukan mereka yang memakai cup bra size D atau lebih besar pada usia 20 tahun, memiliki risiko hingga tiga kali lebih tinggi terkena diabetes tipe 2 dibandingnya dengan wanita yang memakai cup bra size A.

Professor Joel Ray percaya bahwa hubungan ini berkaitan dengan bagaimana pertumbuhan payudara selama masa puber (masa remaja).

“Puberitas adalah masa yang ditandai dengan naiknya resistan insulin, sebuah kondisi dimana tubuh tidak tidak bisa menyerap glukosa sebagaimana mestinya yang menyebabkan tingginya kadar gula darah, sehingga memicu diabetes tipe 2,” jelasnya, seperti dilansir melalui Daily Mail, Selasa (17/1).

Upaya Mengurangi Risiko Kanker Payudara

Kasus kanker payudara di Amerika Serikat tertinggi di dunia, mencapai 112,6 per 100.000 orang. Di Inggris, kanker payudara adalah jenis penyakit paling umum menyerang wanita. Setiap tahun sekitar 47.000 perempuan Inggris didiagnosis dengan penyakit ini dan sekitar 341 orang laki-laki juga.

Medicalnewstoday menyebutkan, angka kanker payudara telah meningkat dari tahun ke tahun. Diyakini bahwa faktor nutrisi dan gaya hidup, seperti konsumsi alkohol yang berlebihan, diet tinggi lemak, diet rendah serat, dan obesitas, berperan dalam risiko kanker payudara.

Mariette Abrahams, juru bicara ahli gizi freelance terdaftar, menjelaskan, saat ini semakin tinggi permintaan bagaimana upaya mencegah kanker payudara dan perawatan sejak dini.

“Di masa depan, kita mungkin dapat memberikan saran diet yang lebih pribadi untuk individu yang telah mewarisi varian gen yang meningkatkan risiko mengembangkan kanker payudara,” kata Abrahams.

Namun sebagai upaya pencegahan dini, berikut beberapa cara mengurangi risiko kanker payudara:

1. Kontrol berat badan
Pastikan Anda melakukan latihan fisik secara teratur, dan memilih makanan sehat, seperti buah-buahan dan sayuran, biji-bijian, kacang-kacangan, dan produk susu rendah lemak, sehingga berat badan Anda bisa dikontrol.

2. Lebih banyak konsumsi vegetarian
Makan lebih banyak buah dan sayuran, serat, kacang-kacangan, seperti kedelai, karena diketahui bisa menurunkan risiko terkena kanker payudara. Cobalah untuk makan setidaknya 5 porsi sehari. Kunjungi ahli gizi Anda untuk membantu cara sederhana memasukkan lebih banyak buah dan sayuran dalam diet Anda.

3. Turunkan asupan lemak jenuh
Hindari makanan lemak jenuh terutama dari produk hewani, dan gantikan dengan lemak baik yang ditemukan dalam alpukat, minyak zaitun, kacang-kacangan, dan salmon.

4. Kurangi Garam dan asupan gula
Kurangi asupan garam dalam setiap makanan Anda dan hindari mengkonsumsi kue, kue kering, dan biskuit karena mengandung gula halus.

5. Perhatikan konsumsi alkohol Anda
Wanita yang mengkonsumsi terlalu banyak alkohol secara teratur memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker payudara. Untuk menurunkan risiko, Anda direkomendasikan untuk mengkonsumsi hanya 2-3 unit per hari, atau 14 unit per minggu. Satu unit adalah sama dengan setengah gelas standar minum anggur atau 175 ml.

Faktor lain juga dapat mengurangi risiko kanker payudara, seperti menyusui, cukup mengkonsumsi vitamin D, dan tidak merokok. Semoga bermanfaat…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar